Tuesday, July 17, 2018

REVIEW BUKU - The Danish Way of Parenting


Pertama kali lihat buku ini di rak "New Arrival", saya langsung tahu ini buku ada hubungannya sama negara Skandinavia dari desain sampulnya. Ternyata bener, ini buku tentag pola pengasuhan orang Denmark. Tanpa pikir panjang saya langsung beli, deh. Dan selesai dalam beberapa hari aja.

Nah ini buku terjemahan ya, dan biasanya saya tu malah pusing baca buku terjemahan apalagi kalo terjemahannya kurang bagus. Tapi buku ini lumayan lah, ga separah buku wellness yang saya beli tahun lalu yang bikin bingung banget kalimatnya. Bukannya sok Inggris, tapi beneran deh mending baca yang pake English aja tar kalo gatau satu-dua vocab tinggal buka kamus, huhu.

Ada banyak sekali hal yang bikin saya mikir "I can totally relate to this!"  karena pengalaman saya yang hanya tujuh bulan tinggal di Swedia kemarin. Yaa walaupun cuma dan baru tujuh bulan tapi saya lumayan belajar banyak dari orangtua Swedia yang saya temui di daycare dan taman.

Denmark menjadi negara yang hampir selama 40 tahun berturut-turut ada di urutan atas dalam daftar negara berpenduduk paling bahagia se-dunia berdasarkan World Happiness Report by PBB dan dari OECD (Organisation for Economic Cooperation & Development). Sejak tahun 1973! Gila ga tuh. Dan selidik punya selidik, itu semua dikarenakan pola pengasuhan mereka yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Emang ga semua pola pengasuhan buat orang satu itu bagus dan sesuai buat orang lainnya. Itu disebut dengan "parental ethnotheories" yaitu teori khas tiap kelompok budaya tentang cara pengasuhan sebagai kepercayaan mana yang benar mana yang engga. Contohnya, kalo di Indonesia makan itu harus habis dan boleh sambil digendong, sedangkan di kebanyakan negara Eropa, balita wajib makan sambil duduk, dst. Nah, ga ada salahnya kita ambil yang baik-baik dan mengaplikasikannya ke pola pengasuhan kita.

Pada dasarnya, prinsip parenting mereka disingkat sebagai "PARENT".

  • Play (Bermain)
Bagian 'Play' ini meyakinkan saya untuk ga buru-buru masukin Alya ke sekolah. Secara saya sering baca kalo fase sekolah itu akan panjang, dan makin dini anak mulai makin gampang bosen dianya. Nah awalnya ni saya ragu-ragu, gimana nanti kalo Alya perkembangannya telat dibanding temen-temennya yang udah duluan mulai sekolah? Yang udah bisa Bahasa Inggris kek, udah bisa berhitung kek. Kenyataannya, kemampuan itu dalam satu waktu bakalan sama juga sama yang lain, justru yang udah dipaksa dari kecil dan ga dibiarin main sesuai keinginannya sendiri, malah rentan menunjukkan stress saat udah dewasa. Jadi, selama saya masih bisa nemenin dia main di rumah kayaknya saya juga ga pengen masukin dia sekolah dulu. Tapi lain cerita kalo saya tiba-tiba harus sekolah lagi ya :p Mungkin saya akan pilih dia di daycare daripada diasuh ART di rumah.

Dalam bagian ini juga dibahas pentingya solo playing, yaitu membiarkan anak main tanpa intervensi dari orang dewasa di sekitarnya. Dan mereka banyak bahas keutamaan bermain anak yang minim larangan, kadang kita suka denger kan kalo anak lagi main di playground gitu dikit-dikit dilarang. No ini, no itu. Sebenernya biarin aja, asal ga membahayakan banget. Anak justru jadi belajar sendiri, dan dia jadi paham atas pengalamannya sendiri.
  • Authenticity
Authenticity atau autentisitas. Nah bagian ini saya rasa yang perlu saya pelajari banget. Pada umumnya, kita harus membiarkan anak mengenali dan menerima semua emosi sejak dini, bahkan yang paling sulit sekalipun. Meskipun saya udah ga lagi bereaksi berlebihan kalo Alya jatuh apa kejedug, saya masih suka console dengan "Ga papa ya dek... It is okay, ga sakit kan..." Which sebenernya kurang baik, karena pemolesan perasaan negatif (sedih, sakit, marah) ga membuat mereka terbiasa dengan kenyataan dan ga terbiasa mengatur strategi untuk semua masalah. Hasilnya? Waktu gede mereka rentan kena stress saat ada masalah, karena ga tau cara menghadapinya dan ga terbiasa sama perasaan ga enak itu.
Bagian ini juga menjelaskan bagaimana pujian dilontarkan oleh orangtua Denmark, agar mengembangkan growth mindset instead of fixed mindset. Anak ga dikit-dikit dipuji 'pinter! Good Job!' tapi selalu diajak diskusi dan dipuji karena USAHA, bukan bawaannya. Jadi mengubah bahasa pujian dari:
"Pinter anak bunda, makannya habis!"

Menjadi:
"Wah Bunda bangga, Alya berusaha menghabiskan makanannya!"
dst.
  • Reframing
Bagian ini mengajak kita untuk menjadi orangtua yang Optimis Realistis, yaitu menyaring info negatif yang tidak perlu di sekitar kita. Saya ga dibesarkan dengan menjadi selalu positif, makanya bagian ini pun harus saya latih. Orang Denmark terbiasa selalu melihat sesuatu from the bright side, sehingga memunculkan personaliti yang positif meskipun ga selalu bubbly. Mereka juga terlatih memisahkan pribadi dengan sebuah masalah, juga orang dengan tindakan. Jadi misalnya nih, kita lihat anak yang pas kumpul-kumpul orangtuanya dia malu-malu, instead of melabeli mereka dengan 'pemalu' mereka berpikir kalau "Oh dia sedang tidak nyaman dengan lingkungan ini". Mengubah cara pandang kita akan sesuatu akan berdampak besar dengan cara kita menghadapinya, kan?
  • Empathy
Empati itu kalau diartikan adalah sebuah kemampuan untuk mengenali dan memahami perasaan orang lain, trying to walk on their shoe. Menurut Daniel Siegel dari UCLA, Empati bukanlah kemewahan untuk umat manusia, melainkan keharusan. Kita bertahan bukan karena memiliki cakar atau taring, tapi karena berkomunikasi dan berkolaborasi. Jadi, memiliki empati sejak kecil itu penting! Kalo ga, anak akan tumbuh jadi orang yang cuek dan ga punya consideration sama sekali. Nah, mengajarkan anak empati sejak kecil itu dimulai dari ibunya. Gimana mereka belajar mencocokkan emosi dan suasana hati ibunya, sehingga penting bagi kita untuk melakukan kontak mata, ekspresi wajah, dan nada suara. Itulah kenapa buku emosi buat bayi dan balita itu jamak kita temui, ya kan?
  • No Ultimatum
"Alya kalo pipis di toilet ya, kalo engga nanti bubu repot lho"
"Alya makannya dihabisin ya, kalo engga nanti kasian bubu udah masak lho"
Memberikan ultimatum seperti ini, tanpa kita sadari, adalah hal yang kurang baik. Apalagi kalo sampai main fisik, aduhh, jangan deh. Jangan sampai kita jadi orangtua yang otoriter: memiliki kendali tinggi tapi respons rendah. Anak-anak jadi didorong untuk melakukan hanya apa yang diperintah, tanpa tahu alasannya. Hasilnya? Mereka bisa jadi pemberontak di kemudian hari. Atau mereka selalu menata emosi sendiri, terlalu tertutup dan rentan depresi. 
Cobaan (ceilah cobaan) saat anak kita melalui beberapa fase itu seringnya cuma sementara. Seperti Alya, ada masanya dia ga mau makan. Ada masanya dia ga mau mandi sore. Nah sekarang dia masuk ke fase Terrible Twos, yang bikin ngelus dada karena dia lagi nguji kesabaran Bundanya. Bahkan istilah Terrible Twos ini di Denmark menjadi Trodsalder atau usia ambang batas. Mereka sedang mendorong ambang batas, dan hal itu harus disambut dengan baik karena completely normal. Walaupun rasanya gedeg juga tiap dikit-dikit diajakin ini itu dia pasti langsung jawab: GAK MAU!, tapi yakinlah these too shall pass :)
  • Togetherness & Hygge
Kebersamaan menjadi prediktor teratas dari kualitas kesejahteraan dan kebahagiaan seseorang. Sedangkan konsep 'Hygge' (dibaca: Huga) sendiri udah banyak yang bahas karena sempet ngetrend tahun lalu, yaitu menikmati kenyamanan bersama-sama, mengesampingkan diri sendiri demi manfaat keseluruhan. Menjadi keluarga yang hangat dan memiliki quality time bersama-sama mengajarkan pada anak kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta bagaimana cara agar dia dapat berguna dan membantu sekitar. Kalau anak kita tahu mereka punya orang yang bisa diajak bicara dan dimintai tolong saat waktu sulit, mereka bisa lebih siap menghadapi tantangan hidup tanpa tumbang. Khusus yang terakhir ini, The Hafidzs udah sering melakukannya di hari Minggu, dengan judul: Gabut bersama. haha!

Sekian rangkuman saya setelah menbaca buku ini. Tekad baru untuk membesarkan anak yang tangguh agar siap menghadapi kerasnya dunia. Bismillah! Semangat Ayah Bunda semuanya :)

Semoga bermanfaat.

Friday, May 18, 2018

Masalah Sudut Pandang



Theres a lot of things that has been happened to me lately I dunno where to start :') 

Pertama-tama adalah satu kejadian yang berkaitan dengan politik, dan ini berkaitan juga dengan orang yang sangat sangat saya cintai. Singkat cerita beberapa waktu yang lalu saya terlibat adu politik dengan beliau karena saya sudah ga bisa menahan diri untuk mengkritisi pemikiran beliau yang -sudah bukan saja tidak sejalan- tapi juga sudah ngawur. Selama ini saya diam karena beliau orang yang sangat sangat saya hormati dan kesalahan saya adalah mendebatnya saat itu (mendebat lho ya, bukan diskusi-karena sulit berdiskusi kalau sudut pandang sudah terlampau berbeda tanpa berakhir dengan debat panas).

Yang kedua, saya sudah kelewatan menegur seseorang karena yang beliau lakukan menurut saya kurang perlu. Dan seperti hal lain yang meskipun niat awal baik, kemungkinan hal untuk diterima sebaliknya itu sama besarnya.

Yang ketiga, saya merasa sangat sangat terganggu saat seseorang mengatur tentang kegiatan ikuti-berhenti mengikuti akun sosial media saya. Seakan tidak cukup sehari-hari saya sudah tidak lagi bebas berbuat apa terkait perilaku dengan handphone (yang jadi konsekuensi seorang 'Ibu' beranak satu yang memasuki usia balita. No hape, Bunda!) sekarang saya juga harus meladeni permintaan mengikuti, memberi penjelasan kenapa berhenti mengikuti, dsb. Buat saya selain itu ga sopan (sama sekali di luar domain kalian), hal itu juga mengganggu ketentraman hati akibat pertanyaan-pertanyaan yang bikin canggung.

Yang keempat, tepat sebelum Ramadhan kemarin saya mengalami 'tamparan' keras karena kegiatan saya belakangan yang sering jadi tempat curhat. Long shory short saya jadi terkesan mengadu domba karena saya mengemukakan satu dua hal ke si A tentang si B yang sebenernya tujuannya biar mereka ga sebel-sebelan lagi, cepet bisa baikan, dan tuduhan yang ga bener itu bisa ilang. Tapi apesnya, malah fire backwards. Ngerti kan, sial biyut.

Yang kelima, yang terakhir, adalah aksi bom bunuh diri yang dilakukan orang tidak bertanggungjawab di beberapa gereja di Surabaya, dan juga di Mapoltabes Surabaya yang jaraknya cuma 2 km dari tempat saya! Sudah bisa diprediksi, timeline facebook jadi 'rame'. Ekstrim kanan kiri pada sibuk kasi pendapat dan klarifikasi (?). Sampe puncaknya saya udah judeg banget dengan dunia online ini dan mencoba untuk... hiatus :)

Momennya juga pas, masuk Bulan Ramadhan. Kalo kita digital detox dan mengalihkan buat beribadah juga pasti pahalanya berkali lipat hari biasa, kan.

Selain karena sudah sebel itu lah saya juga jadi makin deket sama si mungil yang sekarang sudah minta 100% waktu bundanya untuk dia, selama dia bangun. Jadi makin dikit tuh saat dimana dia ngajak ngomong dan saya malah mematung lihat hape sambil berucap "Bentar Alya bunda lagi cari hiburan..."

Dipikir-pikir lagi, apa ya korelasi kelima hal diatas? 

Persamaannya mungkin: Kelima-limanya sama-sama mengganggu saya. Dua, kelima-limanya ada karena saya losing consciousness sehingga bisa dibikin 'terganggu' dengan apa yang orang lain lakukan. Dan dirunut-runut lagi semuanya ada karena saya makin jarang punya waktu untuk being mindfull: meditasi, get some headspace, dan yoga. Ah! Sangat penting untuk menjaga keseimbangan dan tetap 'lagom'.

Perbedaannya dari kelima hal tersebut adalah, ada yang saya jadi korban dan ada yang saya jadi pelaku. Tapi disitu-situ aja. Saat saya menegur, saya jadi pelaku. Saat saya diresehin, saya jadi korban. Dan ada masanya saya menegur terus orang kesal dan ada masanya saya ditegur dan saya kesal. Semua cuma masalah sudut pandang, kan?

Jadi keinget beberapa hari yang lalu saya baca tulisan Gobind Vashdev di IG beliau. Baca lengkapnya disini ya. Penggalannya yang sangat saya setujui berkaitan dengan kondisi saya saat ini adalah:


Marah pada mereka, tidak menyelesaikan masalah, sebaliknya kerugian akibat kemarahan berpotensi merusak diri ini.Sadarilah kemarahan ada dalam diri Anda dan tidak ada hubungannya dengan makhluk lain.Kemarahan dan kebencian adalah bel yang memanggil dari dalam, agar kita masuk dan bekerja pada pemahaman dan kesadaran diri.


See? Ga ada yang dirugikan selain saya sendiri! 

Sekali lagi ini cuma masalah sudut pandang.


Thursday, April 5, 2018

[RECIPE] - Beef Cube A La Mama

Postingan resep beef cube ini menjadi postingan resep masakan pertama yang saya buat di Indonesia, haha. Beberapa bulan belakangan ini saya memang sangat direpotkan dengan kegiatan dobel: menjadi ibu rumah tangga, wirausaha dan pekerja pabrik. Keduanya menuntut banyak sekali waktu sehingga saya jadi ga rutin posting.

Minggu kemarin, akhirnya saya membuat satu keputusan besar dalam hidup saya: Meninggalkan Solo. Lima bulan setelah pulang dari Swedia saya memang masih tinggal di rumah orangtua, sambil membantu papa dan kakak di pabrik. Di Solo, saya full mengurus kerjaan di pabrik dari pagi hingga sore. Sehingga Alyaka dipegang oleh pengasuh saya dari kecil, Mbahti. 

Setiap dua minggu sekali saya ke Surabaya, dan di Surabaya saya 100% menjadi ibu Rumah Tangga mengasuh Alyaka dan ngurus rumah. Melakukan dua pekerjaan yang berbeda, ditambah harus menempuh jarak 4 jam setiap perjalanan bawa balita, lama kelamaan membuat saya capek dan merasa ini sungguh ga baik untuk well-being saya. Sulit konsentrasi, pasti. Goals saya untuk hidup lebih teratur pun menjadi berantakan.

Yang paling sulit dari pamit kali ini adalah meninggalkan kakak ketiga saya menjalankan usaha sendirian, ditambah lagi kakak sedang harus konsentrasi menghadapi penyembuhan ponakan saya. But somehow I know she'll be fine :) Dan seperti biasa meninggalkan rumah selalu bikin haru... Padahal saya seharusnya udah mastering ilmu pamit keluar dari rumah, secara 3 tahun pernikahan saya udah keluar masuk rumah orangtua berkali-kali. Bukan, bukan karena "pulangkan saja aku pada ibuku" tapi karena suami merantau kesana kemari dan saya belum bisa ikut :p

Lah ko jadi panjang curhatnya yaaa... 

Ini resep oleh Bu Sisca Soewitomo, saya modif dikit. Alhamdulillah rasanya enak, apalagi Alyaka teryata ga ada alergi sama bahan di masakan ini. 


- -



Beef Cube A La Mama
Resep oleh Sisca Soewitomo (dengan sedikit modifikasi)

Bahan:
Beef Cube:
- 500 gr Daging Sapi has dalam; potong dadu
- 2 sdm mentega
- 1 buah bawang bombay; iris
- 150 ml air
- 100 ml krim kental; saya pakai merek ElleVire
- 200 gr jamur champignon

Marinated Sauce:
- 5 siung bawang putih; haluskan
- 2 sdm minyak wijen
- 2 sdm kecap manis
- 1 sdm saus teriyaki
- 2 sdt garam
- 1 sdt merica bubuk
- 1 sdt bubuk pala

Mashed Potato:
- 500 gr kentang
- 1 sdm mentega

Tumis kengkung:
- 1 ikat kangkung
- Garam secukupnya

Cara Membuat:
1. Bersihkan daging, lalu potong dadu 3 cm
2. Campur bahan rendaman/ marinated sauce menjadi satu, lumuri ke daging dan taruh di chiller selama kurang lebih 2 jam supaya bumbu meresap. Sambil menunggu, kukus kentang untuk mashed potato dan rebus kangkung bersama sedikit garam.
3. Panaskan mentega, tumis bawang bombay hingga harum. Sisihkan. Lalu masukkan rendaman daging, tambahkan air, masak hingga daging lunak.
4. Tambahkan krim kental dan jamur kancing, masak sebentar. Lalu masukkan bawang bombay, aduk rata dan angkat.
5. Mashed Potato: Kentang yang sudah dikukus lalu dihaluskan, campur dengan mentega, merica dan garam, lalu panaskan sebentar. Tata mashed potato, beef cube dan kangkung. Siap dihidangkan.