Wednesday, January 18, 2017

'Me Time' as a Mother

Seorang teman saya pernah bercerita kalau dia gampang banget marah ke anaknya yang lebih muda 5 bulan dari Alyaka. Saat saya tanya kenapa, dia jawab mungkin karena dia kerasa ngurusin anak terlalu time-consuming dan dia kaget begitu banyak kebebasan yang harus jadi terbatas karena menjadi seorang 'Ibu'. Ini bisa jadi a subtle baby blues bahkan sampe post-partum depression kalo orang di sekitarnya ga notice, lho.

Disitu saya jadi sadar banget kalo jadi ibu itu kita juga dituntut jadi senormal mungkin to keep our sanity, and to keep the good mood. Karena bener banget pepatah 'Kalau Ibu senang, semua senang'. Otomatis pegang anak jadi lebih tenang, ngurus rumah jadi lebih nyaman dan semua dilakuin dengan lebih ikhlas. Running errands pun ga lagi jadi sebuah beban, tapi sebuah rutinitas yang dikerjakan untuk kebahagiaan.

Saya pegang Alyaka mostly sendiri. Ada kalanya Alyaka harus dititipin ke mbahtinya karena saya ke dokter gigi, pergi janjian sama temen malam hari, atau ke kondangan. Bisa dibilang 90% Alyaka sama saya terus, sering kalo pergi dia dibawa. Emang repot sih, tapi namanya punya anak :p Kalo ga mau repot ya gimanaaa gitu... Jadi pastinya waktu untuk 'me time' udah terbatas banget. Ga ada lagi yang namanya pergi keluar seharian, nonton bioskop marathon, atau baca buku santai di cafe. 

Beberapa colongan 'me time' yang sering saya lakukan adalah

  • Blog-walking saat Alya tidur

Biasanya malam hari. Alyaka sudah tidur sekitar pukul 7 malam dan biasanya bablas sampai pagi. Saat itulah saya bisa ngelakuin banyak hal, termasuk hobi saya untuk nulis dan blogwalking. Belakangan ini saya sangat sering buka blog mindbodygreen, karena banyak useful tips untuk lebih positif dalam hidup termasuk soal makan, berpikir, dan olahraga. 

  • Practicing Make Up Tutorials from Youtube

Ini juga dilakukan saat anak tidur, kalau engga bisa berabe banget. Alyaka paling hobi ikutan dandan, segala lipstick dan perkakas lain dia raih. Kalau saya kasih pembatas kursi, dia bakal nunggu from the other side dan make a fuss sampe saya kepaksa berhenti dandan. Adakah yang lain merasakan hal serupa? ><
Ini juga ampuh banget boosting mood saya, karena mungkin bosen yah keliatan kumal sehari-hari.

  • Baca Buku saat ngeloni anak

Sebelum Alyaka tidur pasti dia minta nyusu sampe terlelap (iya saya tau, ga bagus memang. Tapi untuk sementara ini cara terampuh baru ini he he). Dulu biasanya saya sambi pegang hp, tapi semenjak diet HP di sekitar bayi belakangan ini, saya ganti dengan baca buku. Buku yang belakangan saya baca ga ada hubungannya sama motherhood, malah buku-buku kreatif seperti "Steal Like An Artist" karangan Austin Kleon atau buku punya papa saya yang mostly bertemakan politik dan agama. Yang jelas saya selalu pilih buku yang ukurannya pas dan compact, karena disambi pegang anak dan cuma satu tangan. 

  • Makan Cake

Saya suka banget cake, dari opera, black forest, red velvet, tiramisu, dsb. Ibu saya juga termasuk orang yang 'roti banget' sampai suami saya heran kenapa di rumah selalu ada roti padahal lauk pauk tersedia. Belakangan saya suka beli di D'Cappello bakery di pasar kembang, atau ke Bake It. Paling sering sih mampir di Bread Talk kalau pas ngemall. Biasanya saya makan cake di teras lantai dua, sambil lihat-lihat pemandangan dari atas. Anak dititipin dulu sebentar sama mbahti.

  • Meditasi

Ini baru semingguan saya lakukan. Ga spesifik meditasi yang kayak apa, tapi tiap bangun tidur saya suka tarik nafas panjang, duduk, membayangkan rencana hari ini seperti apa, dan simply berterimakasih sama Allah karena pagi ini masih bisa hidup dan merasakan nikmat sehat. Setelah itu biasanya saya juga baca chat dari suami yang mau tidur (ya, saat kami bangun karena perbedaan waktu 5 jam duluan WIB) dan rutinitas kecil ini jadi hal yang paling saya tunggu-tunggu dan ampuh bikin mood bagus seharian.


Itu beberapa me time saya, sejauh ini sangat membantu buat bikin semangat naik lagi. Semoga membantu :)

Salam,

- Tania -

Monday, January 16, 2017

Duux Purifier Review (Bahasa)



Punya anak dengan alergi itu kita dituntut banget untuk cermat, titen dan bersih. Alyaka sampai sekarang usianya 10 bulan udah pernah kena batuk pilek lebih dari 6 kali, dengan dokter anak yang ga sama pula (faktor idup yang berpindah-pindah juga kecocokan saya). Jadi kebayang kan kalo treatment dan medication-nya ga pernah sama. Beberapa juga kasih antibiotik yang (terpaksa) dikonsumsi.

Karenanya, kebersihan lingkungan sangat penting untuk meminimalisir resiko timbulnya reaksi alergi dengan ditandai gejala batuk & pilek. Salah satunya yang paling penting yaitu kebersihan udara. Di Surabaya, kami tinggal di dekat pelabuhan dan ditambah cuaca Surabaya yang selalu panas, debu banyak sekali seliweran. Sampai pernah saya nyapu dan ngepel rumah 3x sehari. Sedangkan di Solo, rumah orangtua saya relatif aman dari debu asalkan pintu dan jendela jarang dibuka. Tapi kalo kelamaan ga dilap juga numpuk itu debu jadi tebal...

Akhirnya 3 bulan lalu saya memutuskan untuk beli Duux Air Purifier. Asli ini alat cangih banget. Jadi dia semacam menyaring udara biar bersih dari virus, otomatis lebih terasa seger dan bersih. Awalnya saya sempet ragu akan keampuhannya, tapi setelah dicobain dan ngerasa sendiri, memang ada perbedaannya yg cukup signifikan.

Pertama, udara di kamar terasa lebih bersih. Saya pake juga aromatherapy dari Beauty Barn Home yang "Viree", ditetesin 4-6 tetes di dalem alatnya dan dicampur air sedikit. Wangi aromatherapy-nya langsung keluar dan bau kamar jadi terasa lebih segar, khas, enak.

Kedua, Alyaka jadi ga begitu gampang kena batuk pilek. Setelah 3 bulan pakai (dimulai dari sakit batpil dan radang sepulang dari Jakarta yang bikin dia sakit dan akhirnya aku memutuskan buat beli ini), Alhamdulillah belum pernah batuk pilek yang mengganggu sampai ga bisa tidur. Beberapa kali hidungnya seperti kesumbat, tapi aku campurin Pure Kids Inhalant Decongestan Oil di alatnya, nafasnya jadi lebih lega. Diterapi batuk pilek saja lalu lendirnya keluar sendiri. Alhamdulillah banget, anak sehat itu menghasilkan kebahagiaan yang tak terkira deh.

Yang bikin tambah suka adalah dia bisa ngeluarin cahaya yang bisa jadi lampu tidur saat malam hari. Alatnya memang agak bunyi, tapi ga yang mengganggu gitu. Justru bisa jadi semacam white noise biar anak pules ya bobonya, hehee.

Jadiii saya sangat sangat merekomendasikan penggunaan produk ini apalagi kalo punya bayi dengan bakat alergi. Cara kerjanya mudah, manfaatnya besar.

Semoga bermanfaat!

- Tania - 

Saturday, January 14, 2017

Putting Her Online

Some of my friends ask me why should I put stickers on my baby's pictures? They think it's because I want Alyaka to look cute with the decorations on (in fact she doesn't even need one - She's cute! All mums think their child is cute aw)

That is because, honestly, me and husb have agreed that we don't want to put her online in such an early age. I basically don't feel comfortable on showing her face in my instagram account or elsewhere via social media, where people can easily use its content for various purposes... with or without responsibility. Before she was born, me and husb had decided to put her online only under several conditions - like hiding her face behind stickers etc- before she's big enough to decide whether she wants her face on the internet or not. We don't want her to have a 'data-rich', enduring and potentially problematic online profile. It may sounds like a paranoia but who knows what the future will be? This generation of kids is the first one in human history to have their lives shared in a public forum and easily accessible as the internet without their permission. If putting her on risk because we did it for apparent joy, we choose not to. The uncertainty and uncontrollable of what future will be scares us and we think it's just not worth the try.

Besides, we asked ourself this question: "What type of information would children want to see about themselves online at a later date?"

But it's all back to our own choice... it's really your own rights to do it or not. Kid hasn't been able to choose what data about them that is accessible later, so it's up to their parents to make the call. To put your kid online with or without certain condition is totally your choice :)


Friday, January 13, 2017

A New Same Clothes

Recently I read all news and articles in Line Today on my phone. It is because I no longer watch television and only reading the newspaper in the morning won't help me catch up with recent news.

I read this article yesterday,  about why successful people like Steve Jobs or Mark Zuckerberg always wear same clothes everyday - Jobs with his black long sleeved turtle neck and Zuckerberg with his gray T Shirt. It makes me realise a thing about minimalism: It really does you good.

I'll try sum it up for you. First, it saves you a lot of time. Us women (mostly) tend to spend a lot of time choosing clothes from our wardrobe. Not to mention what bag and shoes will match with today's colour scheme and a total look should be O K A Y. Fewer decisions, less time consuming, all will leads us to better decisions on things that really matters.

Second, clearly it will be less stressed. Most of the time we complain about how do we have so limited options when there are a lot of clothes on our wardrobe. When trying to match it wont help, you throw everything out and ended up having a pile of clean clothes on your bed. When you're in a hurry, it will cause more stress (especially if you have that d*mn OCD like me, honestly I CANT leave my room when it's not tidy!).

Third, It will save a lot energy for the rest of the day. I'll be happy if I start my day on a good shape, feeling content and all set. That's clearly without the wardrobe drama. Last but not least, it will be iconic. Same (-or should I say similar?) clothes will be your signature style. I dont know how to explain it but for me, I can easily pick a clothes with a certain design that my mom would love, or the black/ grey/ navy loose top that my sister will never resist. Signture style will make you feel confident cuz that makes you: Y O U.

So today when I have to buy some new clothes (err, by 'have to' i mean 'want to') I really just look for a front-buttoned loose shirt (ah yes, must be nursing and breastfeeding-friendly) in neutral colour. because I like it this way. I like it in minimalist way.

Bother to try?


Tuesday, January 10, 2017

Baby Stuff I wish I (ever and never) Bought

Setelah 10 bulan lamanya menjadi seorang ibu, ga terhitung banyaknya baby stuff yang sudah terbeli untuk Alyaka. Sebenernya setelah dipikir-pikir lagi, ga semuanya itu berguna maksimal lho.

Sampai-sampai kakak-kakak saya yang udah beranak 2 dan 3 pada komen 'Perasaan dulu pas anak-anak pada bayi barangnya ga selebay ini deh?!'
Iya juga sih ya. Saya kira mungkin karena pengaruh adanya instagram dan mommagram yang eksis review ina ini sana situ, sedikit banyak berpengaruh sama pola pikir dan juga konsumsi barang bayi yang bertebaran di luar sana. Namanya jadi ibu baru, ngaku sesiap-siap mungkin menghadapi motherhood pasti ada saat dimana kita stuck gatau harus ngapain dan ngerasa cape, disitulah peran 'baby stuff' yang ga begitu essentials ini tiba-tiba muncul dan jadi solusi.

"Bayi Anda harus digendong dulu baru bisa tidur? Jangan khawatir, produk bouncer kami dapat membuat bayi tenang sampai tertidur pulas tanpa harus digendong. Ibu pun bisa beristirahat dengan nyaman!"

"Penggunaan bedong sangat tidak dianjurkan, maka untuk mengurangi refleks moro anda dapat menggunakan produk kami, bayi merasa hangat nyaman dan tidak gelisah"

and blah and blah.

Terus, apa aja barang yang buat saya kurang begitu maksimal kegunaannya?
Pertama-tama saya mau ngingetin kalo postingan ini superduper subyektif berdasarkan pengalaman saya aja ya, jadi kalo ada bukibuk lain di sini yang ga sependapat, boleeeh sekali. Dan jangan jadikan pendapat saya di bawah ini sebagai acuan utama, sapa tau sebenernya anda emang butuh, he he he...

1. Baby Bouncer Nun* Leaf
Saya beliin Alyaka baby bouncer pas umurnya 1,5 bulan, karena cape gendong dan mulai pada sounding kalo Alyaka udah bau tangan... huhu. Yang saya beli ngakunya punya fitur bisa goyang sampe 2 menit tanpa batere dan modelnya terinspirasi daun, yaitu nun* leaf.

Kenapa buat saya jadi kurang perlu?
Karena kepakenya bentar banget! Pas bayi udah bisa tengkurep sendiri umur -+ 5 bulan, udah deh Alyaka mulai doyong ditaroh di sana, ga bisa diem. Pas 8 bulan, dia bahkan udah bisa buka bucklenya sendiri. Padahal si nun* ini claim dia bisa tahan beban sampai 60 kg gitu... Jadi ya udah jarang banget si bayi pake bouncernya ini. Pernah sih ada niat ngerentalin, tapi abis itu dipikir lagi kok sayang ya nanti misal ga dirawat sm yg ngerental haha jadilah rencananya mau dimasukin lagi ke boxnya dan disimpen buat nanti...

2. Babym**v Cosypad
Katanya ini biar baby ga begitu gelisah tidurnya, karena rasanya ada yang 'ngempit' atau 'ndempel' gitu. Sebenernya mungkin kalo dipake langsung dari bayi kerasa manfaatnya ya, tapi dia ga bisa dipake lagi (lagi lagi) kalo bayi udah bisa tengkurep! Jadi ya sama ajaaa... kepake cuma 5 bulan.

3. Mamal*ve Highchair
Adalah mungkin bukan 'nyesel' beli tapi belom ngerasain manfaat fitu lainnya ya. Jadi saya beli highchair pas Alyaka udah bisa duduk sendiri, -+ saat dia udah umur 6,5 bulan. Awalnya berdasar masukan seorang temen dia kasitau kalo beli highchair yang ada pemisah bagian kakinya jangan cuma buckle karena lebih aman. Jadilah saya sampe dateng ke beberapa baby shop di Solo, nyari waktu itu sempet naksir sama ingenuity trio punya (tapi ga ada yang jual di Solo :( di Suzanna Surabaya sempet ada). Lalu malah berakhir dengan beli mamal*ve ini.

Sebenernya sih bagus, pelapis kursi bisa dicopot dan gampang dicucinya. Tray makan besar, bisa dilepas dan enak buat BLW. Pluuus bisa dipake sampe gede jadi meja belajar toddler.

Kurang bagus apa coba kan!

Tapi makin kesini saya malah menyesal, ko ga beli aja highchair plastik yang banyak dijual di inf*rma itu... karena 1/ Pasti lebih gampang dibersihin tinggal dilap aja. Mamal*ve ini relatif gampang dibersihin yang bagian plastiknya tapi ada banyak sela dan celah yang bisa kemasukan remah-remah makanan. dan 2/ Lebih murah.

Beli satu mamal*ve highchair ini bisa untuk beli kursi makan bayi plastik biasa itu, plus booster seat buat makan di luar (dan ga perlu bawa stroller lagi misal restonya ga sediain baby chair) juga mini mat ezpz buat taroh makan di traynya. Asli, itu mungkin akan jadi strategi yang lebih efisien. pfft.


Sekarang kita bahas barang-barang yang saya harap kebeli daridulu. Beberapa sebenernya bisa aja saya beli misalnya sekarang, tapi sayang mau pindahan lagi dan ga mungkin bisa boyongnya. Jadinya mungkin akan beli kalo Alyaka punya adek (Insyaa Allah)... istilahnya adalah barang-barang yang saya harap anak kedua nanti punya pas dia lahir.

1. Baby Crib
Jeng jeeeng! Kenapa baby crib? Karena saya pengen ga co-sleeping lagi... co-sleeping banyak manfaatnya, tapi saya rasa membiasakan si kecil tidur sendiri di tempat tidurnya sendiri pasti membentuk kebiasaan tidur yang lebih baik. Temen saya pernah cerita kalo temennya punya bayi dan cara nidurinnya gampang banget, cuma dikasih dot, dimatiin lampu, dan ditinggal gitu aja. Nanti selang 2 jam ibunya balik ke kamar bayinya lagi dan si anak udah bangun tanpa ribut nangis atau anxious. Alyaka tidurnya harus ngempeng nen dulu dan kadang kebangun tengah malem cuma nyari mpengnen, kalo ga dapet kebangun dan ga jadi deh sleep through the night-nyaa.
Dan lagi sebenernya ga dianjurkan karena masalah safety... takut orangtuanya ga sengaja membahayakan si kecil gitu.

2. Hafidzah Doll
Huahaha ini asli penge bali, tp karena harganya yang ga murah dan pas itu baru tau saat ayahnya Alyaka udah study abroad... akhirnya saya ga jadi beli karena mau pindah. Saat itu mencoba menenangkan diri sendiri dengan berpikir kalo ayat Al Qur'an sih masih bisa diperdengarkan lewat iPod, tapi yang bikin masih 'gelo' adalah adanya cerita Nabi Rasul juga interaktif sama bayi dan bisa off sendiri kalo 30 meit ga ada reaksi. Canggih kan ya? Dan pasti bermanfaat banget lah buat mengenalkan anak ke agama sedini mungkin...


Itu aja mungkin sharing saya kali ini. Saya perlu ingatkan lagi kalo ini sangat subyektif yaaa, jadi bisa saja pengalaman saya dan ibu-ibu lain berbeda. Ga ada maksud apa-apa selain sharing pendapat saya aja.

Semoga bermanfaat!

- Tania -

Friday, January 6, 2017

Beach Vacay with Baby



Liburan tahun baru kali ini, aku dan keluarga memutuskan untuk pergi ke pantai Pok Tunggal di Yogyakarta.

Untuk menghindari macet yang terlalu, kami berencana untuk berangkat jam 06.00 pagi...... yang berakhir dengan molor 1,5 jam karena banyaknya personel yang kesiangan haha

Sampai di pantai sekitar jam 10.30 lalu kami langsung menyewa payung (yang sudah ada tikarnya) tepat di pinggir pantai. Alya sempat digendong sebentar dan saya turunin ke bawah biar merasakan pasir pantai sebagai tekstur baru, lagipula dia juga sudah suka berdiri ditetah. Tapi Alya sempat panik saat ada ombak dan orang-orang di sekitar teriak kegirangan X) Setelah itu oleh gayeknya sudah dilarang lama-lama main air dan di bawah terik matahari, jadinya langsung aku waslap air bersih dan ganti baju.

Beberapa bawaan ke pantai untuk baby:

1. Baju Tertutup
Saat kita ngomongin pantai, pasti pikirannya langsung mau pakein baju yang terbuka dan dress lucu-lucu ya. Tapi aku ga berani pakein Alya baju yang terlalu terbuka karena berdasarkan pengalaman saat sunset di Bali sama ayah pas Alya 5mo kemaren, malemnya dia langsung hoek abis minum ASI. Pertimbangannya makein Alya baju pantai adalah biar ga terlalu dingin kena angin di pantai yang cenderung kenceng dan juga meminimalisir gigitan serangga (nyamuk) yang ada.

2. Topi
Yang ini untuk menghalau sinar matahari biar ga terlalu silau dan ga panas kepalanya. Alya belom bisa dipakein kacamata, makanya topi masih jadi solusi satu-satunya saat mau panas-panasan.

3. Sunblock & Bugs Repellent Spray
Biar ga gosong dan juga biar ga dihinggapi nyamuk nakal. Bugs Repellent Spray aku masih setia pake dari botanina.

4. Alas serbaguna
Walaupun udah tersedia tikar, tapi jaga-jaga bawa alas serbaguna buat taroh tas, tempat makan, sampai dudukin anak bayi.

5. Snack dan Air Putih yang banyak
Selain gerber puff favorit Alya, kemaren juga bawa roti tawar dan biscotti. Kebetulan Alya juga udah bisa minum pake sippy cup, jadi enak banget ga banyak yang tumpah. Aku juga bawa perasan jeruk baby biar seger.

6. Baju Ganti

7. Kantong Plastik
Selain untuk nampung used clothes juga untuk naruh alas kaki yang penuh pasir pantai juga handuk bekas pakai.

Selain beach essentials diatas, menurutku pilih waktu kedatangan ke pantai sangat penting untuk menghindari angin yang terlalu kencang, pantai yang terlalu penuh sama orang yang juga ngaruh sama kebersihan pantai, juga cuaca yang bakal kelewat panas.

Semoga bermanfaat!