Thursday, April 6, 2017

Wander Note #2

Wander note #2: New Mom's Dilemma


When you first had your baby, friends without kids may have drifted away, wondering how their engaging, curious friend got replaced by a baby-talking, fawning, sleep-deprived robot. Similarly, when you jump into start-up mode, every brain cell and spare moment is dedicated to succeeding. Soon you’ve lost any friends who survived your baby obsession. Don’t worry; you will survive the early years of playgroups and funding cycles thanks to new friends with same-age kids, and the support of other female entrepreneurs. (source: mindbodygreen)

My note:

Told you so... being a new mom kinda change a whole of you. You might still befriend with your old pals but they will never understand some struggles that can only be understood by another moms. Simple example when my friends ask me to go out at night occasionally and without plan.

I can-not!

I need to arrange Alyaka's needs first. I have to make sure that her caregiver is available (its my mums and father). I have to book an appointment for them (and make sure they aren't tired). I have to prepare her milk, pjs, her favourite pillow downstair, etc.

If it can't happen, I am left with no other option than to bring Alyaka along with me. And that will be no fun at all (night time? babies? they are supposed to be asleep, not here).

Second examples when my fellow guy friend asks why isn't my baby fat and chubby like the other babies. How am I supposed to explain to them that every baby is different, and how normal and fine my baby is. How should I explain to them that it's usually a typical of breast-feeded baby.

They will not understand until they experience it themselves. And these too, shall pass, Moms. 



Baby Steps to Sustainability

I can not say that I'm totally devoted to sustainability of this planet since I still do a lot of things that is contrary to the belief. But slow but sure, I try to take baby steps in order to collaborate with people who care and conscious.

1. I reduce the usage of plastic bags. When I go shopping I bring my own bag (even when today I went to buy a cabbage I refused the plastic bag and the cashier was like 'Why?' and I put it on my baby's diaper bag LOL)
2. I turn off the aircon at night
3. I use towel instead of tissues
4. I unplugged cords when I leave the room
5. I eat a lot of veggies (for those who's wandering why is it related to the planet can start google about carbon footprints) but still can not ban meat on my menu. Maybe soon, or maybe never.
6. I say no to brochures, receipt (unless it's important) and any other form of information that i could access online instead of hard copy.

Wish me luck! (+consistent)




Sunday, April 2, 2017

Young Living PanAway & Lemongrass Review


Dulu saya selalu sangsi sama kehebatan essential oil ini di postingan Instagram para mommagram. Serius. Sampai akhirnya saya merasakan sendiri keampuhannya.

Karena bukan selebgram, saya ga merasa kapasitas saya untuk nulis review yang bagus-bagus abis satu dua kali pakai karena barang endorse-an. Disini saya murni sharing karena ini honest review dari seorang pengguna yang udah merasakan betul manfaatnya setelah kurang lebih 3 mingguan pakai. Okeey kita mulai yak.

  • Lemongrass

Dari aplikasi YL EO yang bisa diunduh di play store, Lemongrass ini berfungsi meningkatkan physic awareness, digestive system, nervous system, fever dan headache. Kalau yang seliweran di Instagram, biasanya lemongrass ini dipake untuk menambah nafsu makan anak.
Di saya, cerita nyatanya begini. Saya ngerasa udah 2 hari perut ga enak, semacam minor discomfort mungkin karena makanan yang saya konsumsi atau karena pola makan yang ga teratur. Saya pakai EO ini dengan cara didilute dengan Virgin Coconut Oil milik saya, lalu saya oleskan di perut sambil saya massage. Kalau bayi aja bisa enakan perut kalau dimassage ILU, saya pikir kenapa di kita engga, lalu coba dengan gerakan sama persis. Eh ga lama habis itu, perut saya langsung enakan. Rasa ga nyaman tadi langsung hilang dan Alhamdulillah ga balik lagi lho.
Di Alyaka, saya oleskan di kaki dan kerah baju. Gatau kebetulan atau apa, setelah itu dia makannya banyak banget, setelah makan pun masih minta nyamil yang manis-manis. Wah manjur juga yah, pikir saya. Tapi ga saya pakein tiap hari, paling tiga hari sekali atau pas dia makannya diemut aja.

  • PanAway

Kalau Panaway ini untuk mengatasi muscle discomfort dan support healthy skin. Cara pakainya didilute 50:50 lalu dioleskan ke daerah yang mengalami ketidaknyamanan. Jadi ceritanya saya sempet sakit pinggang bagian bawah, mungkin salah posisi saat gendong Alyaka atau salah tidur, maklum kadang tengah malam ngelilir alyaka masih sering saya kasi mpengnen. Harus miring badan ke satu posisi terus menerus kan pasti bikin sakit. 
Nah, paginya, saya pakai deh Panaway ini. Sensasi pertama adalah panas banget dan baunya mirip counterp*in. Kira-kira satu jam habis saya oles, hilang sakit punggungnya. Saya ulang sehari dua kali setiap selesai mandi, dan abis dua hari sembuh. Biasanya saya mesti pijet dulu ke N*kamura atau sekalian spa, belum lagi pantang angkat berat dulu. Alhamdulillah pakai EO ini hilang dengan sendirinya.


Saya punya satu set isi 10 botol, karena beli sekalian set Everyday Oils. Untuk yang lain nanti kalau manjur akan saya share lagi deh kapan-kapan. Tapi yang peppermint saya ga pake, karena sempet baca kalo peppermint itu bikin busui berkurang produksi ASInya, dan terjadi di saya. Dan pas browsing lagi emang ada beberapa kasus di blog ibu-ibu menyusui gitu yang mengalami sendiri. Jadinya nganggur deh itu peppermint.

Ada yang punya pengalaman yang sama? Semoga bermanfaat yah.

Salam hangat,

Tania

Long Distance Marriage and How I deal with it


Banyak yang tanya ke saya gimana saya bisa LDR-an sama suami dalam waktu lama?

Well, ini sejujurnya adalah pertanyaan yang saya rasa ga bisa saya jawab. Satu, sesusah-susahnya saya rasain LDR-an pasti lebih susah suami karena harus jauh-jauhan sama istri dan anak, sedangkan saya cuma jauh-jauhan sama dia. Dua, banyak banget pasangan lain yang LDR an jauh lebih lama dan lebih jauh daripada saya, dan mereka baik-baik aja. Ketiga, emangnya saya punya pilihan lain? ;D

Mungkiiin saya terbiasa LDR-an karena dari jaman pacaran pun kami jarang tinggal sekota. Dulu saat masih gadis, saya juga paling males kalo pacaran jauh-jauhan. Buat apa, sih? 

Terus saya ketemu lah sama ayahnya Alyaka ini. Baru sebulan jadian, saya harus ke Jakarta sekolah lagi di ESMOD. Sampai setahun studi dan 3 bulan internship kami LDR-an. Habis itu saya balik ke Solo and guess what, suami keterima kerja di Surabaya... Jadi cuma ada sebulan aja tuh pacaran sekota. Setelah itu 6 bulan pacaran Solo-Surabaya, kami menikah dan tinggal serumah (akhirnya).

Ternyata abis itu saya hamil, dan sempat flek. Saya bedrest selama sebulan di Solo, lalu nyusul suami lagi ke Surabaya. Ga lama habis itu mendekati due date saya pulang lagi ke Solo. Ketemunya cuma pas weekend aja dan ngepasi suami ga lagi dinas. Bisa dibilang 2/7 waktu kami habiskan bersama selebihnya sendiri-sendiri.

Setelah melahirkan pun saya harus nunggu Alyaka 2 bulan baru bisa balik ke Surabaya lagi. Dan ga lama setelah itu, suami keterima beasiswa S2 di Swedia. Prosesnya berlangsung cepat sekali dari mulai entry sampai akhirnya diterima dan berangkat. Sebulan terakhir kami tinggal serumah sebelum suami pergi jauh pun dilewati dalam keadaan suami selalu pulang lembur, dan berangkat pagi-pagi banget. Ga jarang dia berangkat saya dan Alyaka belum bangun, dia pulang saya dan Alyaka udah tidur.

Kalau ditanya gimana rasanya, berat ga? Ya pasti berat... Apalagi saat awal-awal kehamilan saya mual parah dan sering muntah, cuma mau makan makanan tertentu aja. Namanya ngerepotin suami pas hamil kan ga begitu salah ya, tapi kalo udah orang serumah yang harus ikutan repot ngikutin kemauan saya saat itu... Kadang kalo malem saya suka nangis sendiri kangen ama suami.

Ditambah lagi saat anak udah lahir dan awal menjadi ibu, ditengah prahara juggling jadi ibu baru dan segala adaptasinya harus dilewati sendirian. Kalau malem ga bisa gantian sama suami begadang, baru bisa dibantu orangtua pas pagi/ siang. Apalagi orangtua saya masih kerja semua, jadi saya kerasa sering kesepian. Banyak sih saudara yang dateng, temen-temen yang jenguk. Tapi tetep aja namanya perhatian langsung dari suami dan dukungan penuh dari dia kan lain dibandingkan lewat telepon aja.

Tapi Alhamdulillah masa-masa itu udah lewat. Saya tipe yang percaya kalo jalan yang bener itu biasanya ga mudah, apalagi kalo kita mau naik tingkat. Saya yakin banget perginya suami studi ini penting untuk keluarga kami supaya menjadi lebih baik. Sekarang ini saya cuma bisa fokus ngurusin anak dan mendukung suami dari jauh. Kuncinya bisa sabar dan kuat adalah... Percaya, dan komunikasi. Percaya ini penting, kalo ga percaya tapi komunikasi lancar sama aja bohong isinya curigaan melulu. Kalo percaya tapi ga pernah komunikasi ya sama aja bohong ga ada kabar ga tau perkembangan dan ga bisa diskusi atau minimal berkabar. Klise sih, tapi ini bener banget loh. Trust me.

Bersyukur banget kita hidup di jaman yang udah modern, dimana bisa video call-an lewat gawai yang bisa kita bawa kemana-mana. Bayangin orang jaman dulu, LDR tapi ga ngerti lagi deh pasangannya kemana, ngapain aja, kadang juga gatau kapan pulangnya. Hahaha. Jadi emang harus kuat, jangan lembek. Perempuan apalagi harus bisa mengatasi masalah sendiri, karena kita kan yang ngurusin keluarga. 

And in the end... Saya rasa LDR ini akan terasa ga mungkin kalau belum dijalani. Kalo udah, dan yakin, pasti bisa kok. Tetep satu kuncinya adalah PERCAYA.

Untuk para ibu-ibu di luar sana yang akan, sudah atau hampir menjalani Long Distance Marriage, semangat! Kita harus kuat.

Salam hangat,

Tania





Swim, swim little champ!


Pertama kali Alyaka saya ajak ke kolam renang umum adalah saat dia berusia 4,5 bulan. Saat itu di Surabaya dia kami bawa ke kolam renang sebuah hotel, sore-sore, dan kebetulan di pool hotel itu mau ada acara nikahan. Jadinya rame banget deh dan ayahnya ga jadi ikut nyemplung, cuma bunda aja nemenin Alyaka main air. Saat itu kami udah pakein swimtrainer untuk Alyaka. Kenapa ga pakai neckring, karena menurut saya swimtrainer ini lebih bakalan sering dipake karena bisa sampai anaknya besar, tapi kalo neckring cuma sebentar aja kalo udah gendut gede bakalan nganggur. 

Pas itu Alyaka ga nangis ga rewel sama sekali dan dia udah keliatan seneng cipak cipukin kakinya sambil liatin orang-orang. Saya bersyukur banget ga ada drama kedinginan atau nangis kejer dan bonusnya anaknya enjoy kelihatan seneng main di air. Apa karena bayi pisces ya, hahaha. Usia 5,5 bulan, Alyaka berenang lagi. Saat itu kami liburan ke Bali, dan emang diniati bawa swimtrainer posisi kempes masuk ke backpack. Di hotel minta tolong orang hotelnya untuk pompain. 

Sampai minggu lalu akhirnya Alya nyemplung lagi setelah hampir 6 bulan ga berenang. Saya udah was-was bakalan nangis ga ni anak, soalnya pengalaman baby spa ga pernah ga ada drama. Eh, ternyata dia seneng banget lho! Karena bundanya ikut nyebur kali ya jadi dia ga takut dan merasa lebih aman gitu...

Bawa anak berenang di kolam umum, kuncinya ada di:
1. Pilih timing yang bener-bener pas. Dia ga lagi ngantuk, ga lagi laper, ga pas bangun tidur banget, dan ga lagi pengen nyusu.
2. Pilih waktu berenang yang nyaman. Ga terlalu panas dan juga ga terlalu berangin dingin. Untuk airnya aku rasa ga ada masalah sih benernang di air dingin dan pool umum kan biasanya jarang ada yang hangat yah.
3. Perkenalkan anak sama suhu air dan lingkungan sekitar pelan-pelan. Kemaren Alyaka setelah dipakein swimtrainer dan siap nyemplung, masih dalam posisi digendong kakinya dimasukin dulu sambil diajak bercanda, terus paha, badan sampe seterusnya. Pelan tapi pasti.
4. Kalau memungkinkan pilih pool yang ada shower di luar. Karena kalo di dalem biasanya lantai kamar mandi jadi lebih licin dan bahaya banget saat gendong bayi mesti ekstra hati-hati.
5. Sebelum berenang ga ada salahnya dilumuri minyak telon sekujur tubuh, aku kemaren juga olesin Young Living yang Thieves di tapak kaki supaya menjaga imun tubuhnya.
6. Setelah selesai berenang, ga usah lama-lama cukup maksimal 30 menit aja, langsung mandiin dan keringkan badan. Pakein baju yang hangat dan balurkan minyak telon lagi, lalu jaga supaya anak ga kena angin kencang atau kedinginan. Pakaikan kaos kaki jangan lupa.
7. Sedia snack atau langsung makan setelah acara berenang. Kita yang orang dewasa aja abis olahraga pasti laper, gimana nakbayi. Hehehe.

Semoga membantu yah!

Tania