Saturday, May 13, 2017

30 hours Trip to Malmo with Alyaka


Alhamdulillah tanggal 7 Mei kemarin, saya dan Alyaka sampai juga di kota Malmo tempat ayah belajar. Setelah melalui penantian panjang 3 bulan awal persiapan berkas, 4 bulan menunggu residence permit approval dan hampir sebulan menunggu kartu dibuat dan dikirim ke Indonesia, akhirnya kami sekeluarga bisa berkumpul lagi :)

Saat bermain di waiting room Bandara Adi Soemarmo

Membawa Alyaka berdua saja melalui perjalanan jauh yang baru pertama kali juga saya alami, mungkin adalah hal ternekat yang pernah saya lakukan sejauh ini. Kami berangkat tanggal 6 Mei 2017 dari Solo ke Jakarta jam 10:00 pagi, diantar oleh Ayek mande, Eyang uti dan tante-tantenya Alyaka. Sampai di Jakarta jam 12:00 kami di terminal 3, saya harus mengambil sendiri bagasi berupa koper 30 kg dan koper 10 kg. Ada stroller otto n70 seberat 7 kg juga yang boleh dipakai sampai ke pintu pesawat dan sudah ada lagi saat kami mau keluar. Ada diaper bag Alya berisi barang-barang kebutuhan dia selama di pesawat (earmuff, kacamata, diaper, tissue basah, tempat minum dll) dan tas saya sendiri yang beratnya minta ampun karena ada laptop dan benda-benda penting lainnya. Ini kali pertama saya di terminal 3 dan untungnya sahabat kecil saya, Elsa, datang menemani selama di bandara.

Tidur saat baru landing di Bandara Soekarno Hatta

Setelah sampai, saya janjian ketemu juga dengan sahabat saya kuliah yaitu Memel dan Ari. Kami makan di resto dalam terminal dan menunggu di sana sampai hampir penerbangan selanjutnya. Alyaka tidur semenjak hampir landing di Soekarno Hatta sampai kami selesai makan, tidurnya puleees banget sampai-sampai harus dibangunin dengan cara dilepas earmuffnya :))

Bangun tidur agak telat dari jam makan siangnya yang seharusnya jam 12:00, untungnya bangun ga rewel, dan saya pesankan nasi tim ayam jamur. Tapi Alyaka ga mau makan, cuma masuk sedikit :( yasudah gpp, pikir saya nanti kalau laper juga minta sendri. Iseng-iseng saya putuskan untuk pesan roti bakar which kalo roti Alyaka hampir ga pernah nolak, dan berhasil! Sambil main di dalam terminal bareng bulik Yasmin, Alyaka lumayan banyak makan roti bakar dan nugget goreng.

Sekitar jam 15:30, teman saya Ambar dan suaminya, Mas Fahmi nyusul. Saya gantikan baju Alyaka dengan atasan lengan panjang, jaket dan jogger pants biar nyaman nanti tidurnya. Kami langsung pindah ke terminal 2 dengan diantar Ambar & Mas Fahmi. Yasmin mengantarkan sampai ke pintu masuk dan dari situlah perjalanan berdua saja saya & Alyaka resmi DIMULAI.

Oke, jadi kenapa transit di Soekarno Hatta nya lama banget deh sampai 6 jam begitu?

Hitung-hitungan saya dan suami memang harus spare sekitar 6 jam-an biar cukup waktu buat makan, istirahat bentar, dan siap-siap. Ternyata 6 jam ini menurut saya pas banget, sambil bisa cerita-cerita ketemu teman dan anak dibikin capek dengan harapan bisa ngantuk cepet dan tidur pules. 

Balik ke cerita tadi yang barusan dimulai.

Akhirnya checkin lah saya berdua aja. Sebelumnya saya harus angkat dan turunin koper 40 kg itu sendirian ga dibantu sama petugasnya dalam posisi Alyaka di stroller keadaan tidur diperiksa agak jauh dari saya. Bete sih, mbok ada yang bantuin gitu, atau jangan jauh-jauh periksa anak. Tapi untungnya ga kenapa-napa dan saya juga bisa handle Alhamdulillah.

Saat check in Qatar Airways menuju Doha

Saat checkin, tiba-tiba petugas counternya menginfokan kalau bassinetnya PENUH. Tiga-tiganya udah booked dipake orang yang bawa infant. Laaah… 8,5 jam perjalanan saya harus gendong Alyaka? Terancam ga bisa istirahat sama sekali ini. Saya akhirnya ngabarin suami dan karena emang udah ga bisa berbuat apa-apa lagi suami cuma minta saya untuk sabar. Yasudah, gpp, tapi maskapai menjamin kalo flight selanjutnya saya dapat bassinet.

Setelah melalui imigrasi kami menuju gate D3, dan tiba-tiba Alyaka bangun dari tidur (mungkin tau mau ada pengalaman baru ya dek?) Saat masuk, kami ditawari agar stroller dilipat saja dan masuk bagasi. Saya tanya, terus nanti di Doha gimana? Kata mereka ada stroller service di Hamad International Airport. Okelah, akhirnya Alya pindah ke gendongan kaos yang saya bawa. Baby carrier tersimpan rapi di dalam koper.

Jam 19:30, pesawat kami menuju ke Doha berangkat. Saya duduk di kelas ekonomi dan pilih di aisle agar mudah kalau mau ke belakang, dan untung sekali sebelah kami adalah pasangan suami istri dari Polandia yang super baik. Qatar juga menyediakan mainan bagi penumpang infantnya, lumayan bisa menghibur Alyaka di awal perjalanan. Sekitar jam 21:00 WIB, meal service disediakan. Namanya kelas ekonomi, tray makan yang dibuka plus harus mangku anak sama dengan sesak :)) belum lagi Alyaka yang belum tidur ikutan heboh pegang sendok garpu juga. Alhasil berantakan kemana-mana, dikit masuk perut dia, dikit masuk perut bundanya, dan banyak jatuh di bawah kursi (zzz). Penumpang sebelah saya menawarkan untuk meletakkan gelas minum di mejanya agar tidak tumpah. I feel really grateful that she was being considerate and offered me a kind gesture karena jujur aja walaupun kecil tapi itu sangat membantu dan mahmud ini merasa diperhatikan (sob)

Setelah makan, Alya rusuh minta nenen, dan ga berapa lama kemudian tertidur pulesss. Saya yang udah ngantuk juga, berusaha tidur. Tapi ga bisa sama sekali. Entah itu yang kebangun lagi karena denger pramugari lewat, jadi seger karena orang sekitar masih ngoceh, dll. Sekitar jam 12 malam WIB second meals service disediakan. Alyaka yang kaget kesenggol tray makan saat saya turunkan (yaampun) jadi kebangun, dan ikut makan lagi -_____- jadilah sesi makan jilid satu pindah ke jilid dua.

Oiya, saat di kursi pesawat, agar Alyaka ga jatuh saat saya pangku, saya kalungkan gendongan kaos ke pinggang dia dan pinggang saya. Nanti kalo dia udah tertidur, satu sisi saya pindah ke pundak dan sisi lain menutupi pantatnya dan bantal saya taruh untuk sanggahan tangan jadi aman kalaupun sampai saya ketiduran.

Satu jam sebum landing, saya pengen buang air kecil. Saya panggil pramugari dan minta tolong to carry my baby for a second because i need to use the toilet. Lah, si Alyaka begitu pindah tangan kok langsung kebangun nangis protes. Akhirnya saya bawa sekalian dia ke kamar mandi hahaha. Balik ke kursi lagi di puk puk bentar sudah tidur lagi.

Sekitar pukul 03:20 WIB hari Minggu (07/05) atau 23:20 hari Sabtu (06/05) waktu DOHA, kami sampai di Hamad International Airport. Ternyataaa, dari pesawat sampai ke ruang transit lumayan jauh. Alyaka yang kebangun karena gaduh orang mau turun, minta jalan sendiri. Bawa tas saya yang besar isi laptop, diaper bagnya, dan gendongan kaos, saya udah ga bisa nolak lagi setengah bersyukur karena ga harus gendong. Tapi namanya bayi kan jalan sendirinya sambil muter-muter malah lebih lama dan saya lebih capek, akhirnya cuma saya turunin saat di travelator saja. Sampai di pelaporan transit dan dekat dengan stroller rent yang disewakan for free selama pegang boarding pass, saya akhirnya bisa sedikit enteng karena anak sudah di stroller dan tas laptop juga bisa digantungkan disitu juga. Kami melalui pemeriksaan dan turun ke terminal bawah menggunakan lift, serta siap-siap untuk transit selama 8 jam.

Loh, kok lama banget lagi transitnya?

Jadi, telah terjadi miskomunikasi antara suami dan travel agent yang ngurusin tiket keberangkatan kami. Seharusnya pernerbangan saya selanjutnya itu pukul 02:00 pagi waktu DOH, jadi saya transit cuma selama 2,5 jam. Namun karena miskomunikasi ini terbelilah tiket ke Copenhagen jam 07.30 pagi waktu DOH which is 5,5 jam lebih lama. Yasudahlah, nasi udah jadi bubur, Ahok juga udah ditahan, saya cuma bisa pasrah.

Untungnya, Hamad nternational Airport atau HIA ini fasilitasnya super komplit. Ada Family Quiet Room dimana tersedia banyak kursi recline yang berjejer. Ada parent's room yang lapang bisa untuk ganti diaper, menyusui, siap-siap dll. Ada Baby Changing Room, dan toiletnya super bersih. Begitu sampai saya langsung menuju Family Quiet Room di lantai bawah dekat food court. Sudah banyak orang, ada yang tidur biasa, tidur ngorok, main hp, sampai cuma leyeh-leyeh aja. Alyaka saya susui sebentar dan tidur, lalu saya pindah ke stroller. Saya berusaha mati-matian untuk tidur tapi ga bisa, karena takut kalo saya tertidur nanti Alyaka kenapa-napa (duh, ibu-ibu). Akhirnya cuma bisa maksain merem, sambil nguap, dan ngabarin keluarga di Indonesia sambil scrolling instagram. Wifi gratis, loginnya pake reference code atau ticket number dan last name. Lumayan kenceng tapi ga kuat buat video call-an Whatsapp aupun FaceTime.

Sekitar jam 3:00 DOH saya pindah ke Parent's Room. Saya ganti baju dan setelah selesai gantiin baju dan diaper Alyaka yang berujung dengan bangunnya si anak bayi dan main di sana. Jam 04:00 dimana berarti jam 8 pagi WIB, Alyaka mulai rewel karena ternyata udah masuk jam sarapannya. Saya pergilah ke foodcourt dan ternyata food tenantnya yang baru buka masih sedikit. Akhirnya saya beli buah-buahan dan chicken fritatta dimakan berdua Alyaka. Alhamdulillah Alyaka habis banyak dan buah-buahannya juga.

Makan sendiri di foodcourt Hamad International Airport

Setelah makan kami sempatkan berjalan-jalan di HIA, ga ketinggalan lihat Giant Lamp Bear karya seniman Swiss Urs Fischer. Setelah jalan-jalan kami langsung menuju ke gate Qatar Airways menuju Copenhagen di A10. Dalam perjalanannya baru lihat kalo ternyata banyak Family Quiet Room lain selain di dekat foodcourt, dan cenderung sepi. Kami beristirahat di Quiet Room terdekat gate A10 dan Alyaka minta disusui lalu tertidur pulas. 

Alya and Giant Lamp Bear

Pukul 06:30 gate dibuka, Alhamdulillah bagi penumpang yang membawa bayi diprioritaskan. Saya diminta menunjukkan residence permit card milik kami, lalu ditanya apakah masih mau menggunakan stroller hingga ke dalam. Saya putuskan untuk menyudahinya karena malas ribet nanti-nantinya dan menggendong Alyaka pakai gendongan kaos. Saat menunggu di waiting room saya ngantuknya luar biasa karena belum tidur, sempat tertidur sebentar dalam keadaan duduk. Ga lama kemudian boarding tiba.

Menunggu gate open

Saat naik ke pesawat ada penumpang yang baik hati sekali membawakan tas tangan saya yang, sekali lagi harus saya katakan, super berat karena berisi laptop dll. Oke jadiii saya 100% aware kalau di airport memang jangan sampai barang bawaan kita ga dalam pengawasan atau berpindah tangan karena takutnya nanti disalahgunakan orang yang ga kita kenal. Tapi memang saat itu saya super duper ribet, capek, dan keberatan bawa tas belum lagi harus berdiri antri. Penumpang perempuan ini ibu-ibu usianya mungkin sekitar 40 tahun-an awal, dan beliau berbaik hati sekali mengantarkan sampai di kursi duduk kami.

Selama penerbangan ini kami bersebelahan dengan pasangan muda mudi dari Denmark yang barusan pulang berlibur dari Bali. Alhamdulillah lagi-lagi dapat sebelahan yang enak, si cewek berulang kali bantuin keluarin screen dari bawah, tray makan, dan bahkan masangin headset untuk Alyaka. Perjalanan selama 6,5 jam ini ga kerasa karena kami sempat tertidur. Bassinet yang dipesen juga ga jadi kepake karena Alyaka saya pangku terus.

Sekitar jam 13:00 waktu Copenhagen, pesawat kami landing. Dan setelah landing ternyata jalan ke Arrival lumayan jauh, whew-nya lagi si anak infant minta jalan sendiri, kalo digendong ngamuk minta turun. Dari yang awalnya penumpang awal keluar jadi paling terakhir deh gara-gara acara jalan sendiri belok kanan belok kiri. Setelah sampai kami harus melewati passport control dahulu. Ga memakan waktu lama setelah paspor kami diperiksa dan petugasnya nanya "Is your husband already in Sweden?" kami dipersilakan lanjut. Kemudian sampai di baggage claim menunggu barang bawaan kami, Alyaka tetep gamau diam digendong cuma mau dilepasin dan dia udah heboh kesana kemari padahal orang rame… Alhamdulillah ga berapa lama strollernya keliatan, langsung saya ambil, buka lipatan dan duduki dia di situ kasih mainan seadanya dan lanjutin cari koper 30 kg dan 10 kg kami. Setelah berhasil dipindah ke trolley (angkat sendiri iya, ga ada porter hahaha) kami menuju pntu keluar dengan harapan langsung ketemu si ayah yang udah nunggu. Saya ga sempet connect wifi karena pegang anak dan bawaan ribetnya minta ampuuun jadi ga cek hp sama sekali.

Sampai luar, ga kelihatan si ayah di mana.

Oke muter.

Tetep ga keliatan -___-

Alyaka mulai nangis karena jam makan sorenya dia. Panik, udah ga bisa komunikasi, ini suami ga bisa ditemui ditengah ramainya orang. Akhirnya saya nekat, dorong stroller ninggalin trolley barang sambil berdoa Yaa Allah semoga ga ada orang sini yang ambil kalo diambil juga buat apa isinya mah abon sama pakaian bayi. Ga berapa lama keliatan si ayah nyender dinding agak jau dari pintu keluar. Dan akhirnyaaaa….

Reuni lah kami setelah 8 bulan berpisah :') 


Ternyata dari tadi si ayah nunggu disana, ngewasap si bunda (tapi ya percuma wae wong ga ada koneksi) sambil harap harap cemas karena udah sejam lebih nungguin, dan si ayah emang nunggu di bagian kanan padahal saya dan Alyaka keluar lewat bagian kiri. Ah yasudhlah gpp, yang penting udah kumpul dan semua sehat, Alhamdulillah.

Masih dalam posisi si bayi nangis cranky karena laper, akhirnya kami beli roti untuk ganjel perutnya Alyaka dulu. Ayah beli tiket kereta menuju Malmo dari Copenhagen. Baru mau keluar airport, suami nanya "Bawa jaket  ga sayang?" Melihat saya cuma pakai baju dan outer selapis lalu minta saya untuk ambil jaket di koper. Untung ajaaa pake jaket lagi karena ternyata suhunya cuma 9 derajat saja. Lah saya yg terakhir tadi ngerasain panasnya Doha mana ada preparation kalo CPH sedingin ini hahaha. Maklum lah ya first timer.

Setelah naik kereta 15 menit lewat Oresunbron dan harus melalui pemeriksaan pasport oleh petugas, kami turun di Triangeln Station. Rumah kami berada dekat dengan stasiun ini, jalan kaki ga nyampe 5 menit. And we're finally home :)

Posing in front of Triangeln Station

Setelah seminggu di Malmo, sekarang jam tidur Alyaka dan saya sudah mengikuti jam sini. Kami benar-benar sedang beradaptasi sama cuaca sini yang dibandingkan Surabaya-Solo ya beda banget, buat kami masih sangat dingin walaupun orang sini bilang enggak. Doakan kami lancar melalui kehidupan di sini ya, dan semuanya sehat-sehat sampai nanti pulang lagi ke Indonesia… Aamiin.

Kalau ditanya kapok ga perjalanan jauh berdua aja sm bayi? Saya ga mungkin bilang iya. Karena perjalanan ini bikin saya takjub banget sama anak saya. Saya ga nyangka dia bisa sekuat ini, pengertian banget banget hanya berdua bunda dan gamau bikin repot sampe yang gimana. Jelas perjalanan ini udah lebih mempererat bond kami sebagai ibu-anak.

Last but not least, kalo bukan ibunya sendiri terus siapa yang bisa megang anak itu? (Ini petuah dari teman saya Syifa hahaha) dan bener banget menurut saya.

Sekarang kami sudah kumpul bertiga, Alyaka sudah ada ayahnya lagi dan bisa merasakan langsung kasih sayang dari ayahnya. Semoga ga ada lagi pisah-pisahan jauh buat keluarga kami ke depannya. Aamiin!



With Love from Malmo,

Tania