About The Stroller... - [RECIPE] Hainan Chicken Rice


Saya sudah pernah bikin postingan ini sebelumnya di instagram, dan karena saya rasa perlu untuk menulis dan menjelaskannya lebih panjang di sini, maka saya putuskan untuk membuat satu postingan lagi tentang stroller Alyaka.

Stroller pertama yang Alya pakai adalah Chicco Liteway. Ini warisan kakak sepupunya yang lalu saya titip jual ke salah satu rental persewaan peralatan bayi di Solo, terus engga dibayar sampai sekarang. Hahaha. Yasudah deh ga mau bahas itu, saya mencoba mengikhlaskannya dan males mengungkit luka lama. Oke lanjut.

Yang kedua adalah stroller yang akan saya bahas. Stroller Alyaka yang saya bawa dari Indonesia merek "Coco Latte" seri otto n70 warna abu-abu. Stroller ini sebenernya enak sekali karena cabin size dan beratnya hanya sekitar 7 kg, cocok untuk travelling. Pertimbangan pertama saya beli ini saat usia Alya 8 bulan adalah yang bisa dibawa traveling tapi juga nyaman duduknya, karena Pockit menurut saya agak ga nyaman posisi anak, tapi buat compact nya ga ada yang ngalahin sih. Coco Latte seri ini mungkin agak agak mirip sama babyzen yoyo/ kiddopotamus/ einhill ya karena dari bentuk sih hampir sama tapi kalo urusan kualitas mungkin paling bagus dan paling mahal tetep babyzen yoyo.


Alyaka di otto n70, duduknya selalu melorot dan miring X)


Nah, Otto n70 ini saya beli baru di Mom & Me Solo Baru. Waktu itu November 2016 saya beli sekitar 1,6 juta dan buat saya 'pas' lah dan karena mau ke Palembang saat itu maka saya putuskan untuk langsung beli daripada harus nunggu babyzen yoyo dikirim dari Jakarta. Dipakai di Solo sih ga ada masalah karena selalu dipakai indoor di mall. Ga bakal kebayang kalo dipake di trotoar jalanan atau jalan berbatu di Solo bakal susah atau enggak. Nah stroller ini akhirnya setelah dipakai di Swedia mulai kerasa kalo emang bukan buat daily stroller.

Awal-awalnya sih masih baik-baik aja. Lalu lewatlah kami di jalanan yang ditata dari bebatuan atau cobblestone dan mulai kerasa sulit dimanuver. Lama-lama rodaya suka nyangkut dan ga bisa rotate. Terus karena dipake tiap hari dari mulai belanja sampe pergi jalan-jalan, masalah lain muncul.

Pas ujan, kehujanan. Karena mau beli stroller rain cover ga ada yang compact karena coco latte bukan merek yang banyak dijumpai di Eropa sini.

Pas belanja, barang belanjaan ga bisa banyak yang masuk/ ditaroh di stroller karena bagian keranjang bawahnya kecil dan kapasitas barangnya ga banyak.

Dan lagi kalo udah penuh gantungan, suka 'njengat' (apa sih bahasa Indonesianya yang pas?!) karena kan ringan.

Terus, Alya duduk ga nyaman karena ga ada cushion.

Terus lagi, ga ada footrest. Ini yang jadi concern paling utama Ayahnya Alyaka dan saya, karena kalo lagi di luar kami bergantung banget sama stroller dan Alya sering tidur juga, pasti jadi ga nyaman buat tidur kalo kelamaan.

Akhirnya setelah saya sounding berkali-kali, suami saya setuju dan memutuska untuk beli stroller baru. Yang pasti harus lebih gede rodanya (atau jogging stroller), ada footrest, bakoh, dan muat banyak barang. Datanglah kami ke salah satu babyshop di Djaknegattan, namanya Barnafar G-knapp. Dekat situ juga ada baby shop khusus untuk stroller juga yaitu Beba, tapi saya lebih sreg sama servis di barnafar G Knapp dan udah terlanjur punya inceran di sana. Setelah nyoba-nyoba stroller Brio Maxi Plus, Ayah Alya suka, dan harganya pun masuk, sekitar SEK3000 sesuai budget awal kami.

Eh, pas mau bayar lewatlah kami di bagian depan, ada promo stroller Emmaljunga (baca: emmalyunga) seharga Brio Maxi yang akan kami beli. Tapi, dapet bonus windcover dan hoodnya bisa penuh nutupin wajah anak even saat posisi fully reclined saat dia tertidur. Tanpa pikir panjang langsung kami ganti hati ke emmaljunga ini. Serinya 2017 Scooter 4S Competition in Neon Pink.

Emmaljunga sendiri merek asli Swedia ya, dan kaya merek asli swedia yang lain para lokal cenderung lebih suka dan lebih bangga pake merek asli mereka yang selain itu kualitasnya emang ga usah diragukan lagi. Yang jadi faktor pemberat mungkin cuma kalo udah sampe Indonesia susah servisnya karena sparepart segala macem ga ada di Indonesia. Kalo mau tau tentang Emmaljunga bisa klik di sini.


Tampak samping, hood dipasang setengah dan kursi posisi feeding, footrest dilurusin buat kaki anak posisi tidur.

Plusnya stroller ini adalah:
1. Berat. Jadi mau gantung atau bawa barang berat dan banyak pun dia ga jadi 'oleng'.
2. Rodanya gede jadi aman mau di pasir/ cobblestone pun.
3. Footrestnya bisa diadjust jadi 3 posisi.
4. Keranjang di bawahnya gede, aku bahkan suka masukin semua barang belanjaan di sana dan aman aja ga jatuh (kecuali kalo stroller dinaikin ke tangga).
5. Cushionnya udah termasuk bawaan, dan karena ada cushion Alya duduknya lebih nyaman ga nyamping ke kanan kiri.
6. Posisi duduk standar tiga: feeding, sleeping, playing. Five safety point harness juga.
7. Separator atau pemisah di bagian crotch bisa dicopot.
8. Hoodnya penuh nutupin anak bahkan saat posisi tidur sekalipun.
9. Pegangan tangan untuk orangtua juga bisa diadjust ketinggiannya sampe tiga setel.
10. Gampang banget dimanuvernya! Dan setelah browsing ternyata emang Emmaljunga terkenal juga karena ini.


Tampak depan dibandingin sama Coco Latte Otto n70

Kekurangannya adalah:
1. Berat. Jadi kelebihan, tapi juga kekurangan. Kalo stroller mesti dilipet atau diangkat saat di tangga, kerasa lumayan beratnya.
2. Kalo dilipet masi bulky dan gendut banget!
3. Cuma bisa forward facing ga bisa parent-facing, tapi menurutku ga jadi masalah di kami karena Alyaka udah gede juga lebih suka lihat pemandangan daripada emak bapaknya.


Jaring-jaring di Otto n70 biasanya dipasang di Emmaljunga juga, saya beli di Maxi ICA harga sekitar SEK50. Gantungan di pegagan tangan Emmaljunga saya beli di Indonesia. 

Oh iya, dari shopkeeper Barnafar G Knapp saya baru tau kalo stroller juga butuh maintenance kayak dikasi pelumas roda-rodanya, terus secara berkala dilepasin rodanya, dan bagian sekrupnya gitu. Nah kemaren karena ga perlu beli cushion dan hood extension lagi kami alokasikan dananya buat beli rain covernya, merek Emmaljunga juga kalo ga salah seharga SEK150. Kunci gemboknya beli di Clas Ohlson harga sekitar SEK70.

Sekian tentang perstrollerannya! Semoga bisa jadi pertimbangan bawa/ beli stroller yang kaya apa kalo mau ke Eropa. Oh iya satu lagi, stroller Emmaljunga punya saya ini ga bisa buat newborn, cuma usia 6mo+ sampe kira-kira 4 tahun usia anak (berat 15 kg-an). Jadi kalo mau beli yang dari newborn bisa cari referensi lain.

- -

Diantara kegalauan mau masak apa (seperti biasa), dan adanya ayam utuh di kulkas saya pun cari resep Hainan Chicken Rice ini di Cookpad. Yang saya suka dari makanan ini adalah ga digoreng/ ditumis sama sekali cuma main rebus, pastinya jadi lebih sehat. Dan kalo seasoningnya pas jadi gurih banget. Seperti biasa juga kalo Ayah Alyaka dan Alyakanya suka, pasti saya share di sini.


Hainan Chicken Rice

Bahan:
- Setengah Ayam Utuh/ helkyckling
- 1 batang Sereh/ citrongräs; saya biasa beli di LUCU, geprek lalu ikat
- 2 lembar daun jeruk/ lemonblad; diplastikan merek "Vincent's Spice Imp & Exp"
- 1 sdt ketumbar bubuk/ koriander; saya pakai merek "Santa Maria"
- 3 siung bawang putih/ vitlök; geprek
- 3 ruas jahe/ ingevära; memarkan
- Garam dan lada secukupnya
- 1 Liter Air
Bahan Nasi:
- 500 gr beras; saya biasa beli di ICA karena murah dan enak.
- 2 sdm margarin
- Daun bawang dan Bawang Goreng

Cara Membuat:
1. Tumis bawang putih, lalu masukkan air. Tunggu hingga mendidih.
2. Masukkan semua bahan ayam, lalu masak sampe ayam empuk, sisihkan.
3. Memasak nasi: di rice cooker masukkan beras, lalu tambahkan kuah kaldu sebanyak masak nasi biasa. Masukkan juga bumbu-bumbunya. Tambahkan margarin, aduk.
4. Masukkan ayam di atas beras, lalu masak sampai nasi matang. 
5. Sebelum disantap, Ayam bisa dipanggang di teflon sebentar. Sajikan dengan potongan daun bawang dan bawang goreng. Sajikan kuah terpisah. 














Comments

Popular Posts