Saturday, August 19, 2017

17 Agustus-an di Denmark




Kami ga sempet ngerayain ulangtahun anggota keluarga selama tinggal di sini, namun sempet ngerasain Idul Fitri, Idul Adha dan 17 Agustus-an di rantau! Dalam postingan kali ini saya pengen cerita serunya 17 Agustus-an di Wisma Duta RI di Copenhagen, Denmark, dan kegiatan kami setelah datang ke acara.

17 Agustus pagi sekitar jam 07.30, kami sekeluarga dan teman-teman WMU S17 beserta keluarga dan Diaspora Indonesia lain berangkat dari Malmo. Sampai di Wisma Duta sekitar jam 09.00 dan langsung baris berbaris ikut upacara. Untung Alyaka tidur di stroller sehingga saya bisa ikutan upacara dengan khidmat, haha. Kami semua kompak pakai batik, biar kerasa gitu Indonesia-nya.

Selesai upacara, kami kumpul di ruang tengah untuk menerima sambutan dari Pak Dubes RI untuk Denmark, Bapak M. Ibnu Said. Setelah itu, makan makaaaan! Seperti biasa hidangan di Wisma Duta ga pernah ga enak. Sebenernya masih ada acara di malam itu, tapi berhubung kami bawa Alyaka, maka kami putuskan untuk ga ikut acara malemnya. 

Setelah upacara kami lanjut ke Designmuseum Danmark. Menurut saya, museum ini harus banget dikunjungi oleh orang-orang yang emang berkutat di bidang desain! Dari desain interior, fashion hingga grafis, semua ada. 


Di sini dijelasin juga sejarah perkembangan dunia desain di Denmark hingga bisa jadi seperti sekarang ini. Walaupun belum balik lagi ke bisnis fashion, saya (masih) menghabiskan waktu paling banyak di eksibisi tentang fashion. Diceritakan tentang sejarah Little Black Dress (LBD) yang timeless, ciri khas dari designer couture Internasional dan masih banyak lagi.


Ada juga pojok kreatif dimana anak-anak bisa ikutan 'berkarya' mewarnai figurine. Seru banget. Entrance fee adalah 60 Danish Krona per orang. Tapi, kalau pengunjung berusia di bawah 26 tahun atau memiliki student ID, maka digratiskan. Akhirnya dari kami bertiga cuma saya yang bayar, haha.


Selesai dari museum, kami berjalan-jalan ke Kastellet, lalu muter-muter sampai ke Little Mermaid Statue atau Den Lille Havfrue yang termahsyur itu. Sekitar pukul 17.00, kami pulang kembali ke Malmo. Saya dan suami masih pakai batik sepanjang perjalanan, tapi Alyaka sempet ganti baju karena kotor. Rasanya kok ada sebersit bangga pakai produk Indonesia di tanah Skandinavia ini huhu *lebay*


Malam harinya saya cerita ke suami, gimana upacara pagi tadi terasa beda buat saya. Jelas iya, ini kali pertama saya upacara setelah diterima jadi Mahasiswi UNS tahun 2009 kemaren. Ini kali pertama juga saya merayakan agustusan di rantau, jauh sekali dari tanah air. Ada harunya, ada khidmatnya, ada sedihnya.

Semoga di tengah gempuran berita macam-macam dari tanah air yang bikin ngelus dada ini, masih banyak orang Indonesia yang berbaik hati percaya kepada bangsa ini dan berbuat terbaik untuk kepentingan semua. Semoga suatu saat dengan usaha bersama, Indonesia bisa menjadi negara yang maju dan nyaman. 

Dirgahayu Indonesiaku.

Saturday, August 12, 2017

[RECIPE] I Fu Mie

Dulu saat masih sekolah di ESMOD, makan malam andalan saya (dan mungkin anak-anak ESMOD lain yang ngekos dekat kampus) adalah sajian apapun dari Pak Min. Enak, murah, dan bisa delivery tanpa tambahan biaya. Biasanya saya pesan kwetiaw, mie goreng, nasi goreng tapi yang paling saya suka adalah I fu mienya! Garing dan endeus. Nah kali ini karena kangen banget makan i fu mie maka saya coba membuat sendiri...


I Fu Mie
Resep dari Cookpad dengan sedikit modifikasi

Bahan:
2 lembar mie telur/ noodle egg
1 buah wortel/ morot ; iris serong dan jangan terlalu tipis.
2 buah daun bawang/ vȧrlök ; iris tipis
2 buah daun seledri; iris
1 buah sawi
5 buah bakso/ köttbullar
2 siung bawang putih; iris
1 sdm tepung maizena

Cara Membuat:
1. Rebus mie hingga benar-benar matang kurang lebih 10 menit, setelah itu tiriskan. Siapkan mangkuk, lalu beri air sedikit dan tambahkan garam, lalu masukkan mie. Biarkan kira-kira 5 menit lalu ditiriskan dan kemudian goreng mie dengan minyak panas. Usahakan mie terendam minyak lalu tunggu hingga kuning kecoklatan dan garing. Angkat.
2. Tumis bawang putih dengan minyak sampai harum lalu masukkan air matang kira-kira 150 ml. Masukkan bakso dan wortel. Setelah wotel empuk masukkan sawi, daun bawang dan seleri. Beri garam dan merica sedikit.
3. Setelah semua matang masukkan tepung maizena yang sudah dilarutkan dengan sedikit air.
4. Letakkan mie, lalu tuang sayuran di atasnya. Sajikan selagi mie masih kriuk.


Wednesday, August 2, 2017

[RECIPE] Curry Flavoured Butter Chicken

Naah ini adalah salah satu lauk yang sangat saya senangi, dan mudah bikinnya. Resepnya saya dapat dari seorang teman yang lama kuliah di Malaysia dan juga hobi masak... Pertama kali bikin dulu saya juga terhitung langsung 'berhasil' kok.



Curry Flavoured Butter Chicken

Bahan:
- Fillet ayam secukupnya/ kycklingfilé
- 2 sdm bubuk kari/ curry madras; saya pakai merek "Smaklökens"
- 1 sdm lada bubuk
- 1 butir telur/ ägg; kocok
- 5 sdm tepung terigu/ tepung serbaguna; saya pakai merek "Kungsörnen"
- Secukupnya tepung maizena/ majsstärkelse; saya pakai merek "Maizena"
- 3 siung bawang putih
- 5 sdm butter/ smör; saya pakai merek "Bregott"
- Secukupnya daun peterseli cincang
- 100 ml susu cair/ mjölk; saya pakai merek "Skȧnemejerier"

Cara Membuat:
1. Lumuri ayam dengan bubuk kari, garam dan lada lalu taruh di chiller selama 30-60 menit; lebih lama lebih bagus karena lebih meresap bumbunya.
2. Balur ayam dengan tepung maizena, lalu ke kocokan telur, lalu ke tepung terigu lalu goreng hingga kering.
3. Untuk sausnya: Lelehkan butter di wajan, tumis bawang putih hingga harum lalu masukkan garam, gula, lalu masukkan susu sampai kuah kental. Campur ayam yang sudh digoreng ke saus, lalu tambahkan bubuk peterseli.