Monday, September 25, 2017

Combining Weaving & Macrame Technique - [RECIPE] Roti Goreng Telur

Sejak mengikuti kelas weaving by mba Nike Prima yang diadain Living Loving x Padekor di Yats Colony bulan Maret kemaren, saya jadi ketagihan weaving bangettt. Dari kecil sih sebenernya udah suka crafts, dari gunting tempel, bikin kerajinan tangan, bahkan mata pelajaran KTK alias Kerajinan Tangan dan Keterampilan itu jadi favorit saya tiap tahun. Nah, karena ga lama abis doyan weaving di Solo harus pindah ke Swedia, saya putuskan untuk ga bawa loom benang dan jarum weaving karena baggage penuh sama benda lain yang sekiranya lebih penting dipake di sini and i thought hobbies can wait. Saya pikir juga mana bisa ngerjain hobi secara semua hal dari A-Z dikerjain sendiri (atau berdua bareng suami kalo lagi ga repot sama tugas kampus). Eh, ternyata salah besar! Malem saya sering mati gaya kalo Alya udah tidur. 

Pucuk di cinta ulam tiba, beberapa minggu lalu saat jalan-jalan ke TGR saya nemu weaving kit yang murah banget cuma sekitar SEK 30. Isinya ada loom, benang 5 warna basic (merah, biru, hijau, kuning dan pink) yang ga begitu panjang, jarum, dan sisirnya. Akhirnya tanpa pikir panjang saya beli, dan mulai deh beli benang-benang lain di Panduro Hobby. Emang terhitung ga murah sih, ada yang lagi diskon harganya sekitar SEK 15, tapi rata-rata warna yang sisa saya ga suka dan benangnya jg ga gitu bagus teksturnya. Yang saya demenin harganya berkisar antara SEK 35-99. Akhirnya pelan-pelan saya belinya ga langsung segambreng bisa gawat nanti dompet hehe.

Nah kemaren setelah bosen weaving yang gitu-gitu aja, saya iseng cari tutorial macrame di youtube terus dicobain untuk bagian bawahnya. Biasanya saya cuma pake fringe/ rya knot, nah abis dicobain macrame technique boleh juga ya, meski belum begitu rapih karena susah kalau ga pake tali yang tebel dan kuat. Di sini saya cuma pake benang putih biasa, yang mesti super ati-ati saat disimpul.


Setelah beberapa saat balik lagi ngelakuin hobi yang saya suka: crafts, writing dan baking (ini sih baru-baru aja abis pindah Malmö), saya merasa tiap harinya malah lebih rileks lho. Banyak temen yang nanya gimana cara saya bagi waktu di tengah kerempongan ini. Tapi, saya ngerasanya kalau udah seneng mah nemu aja jalannya. Kaya kata banyak orang:

Kalau niat nemu jalan, kalau ga niat nemu alesan.

Tinggal gimana bagi waktu dan prioritas aja. Soal ini saya baru banget baca blog Kak Diana tentang gimana dia bisa ngelakuin banyak hal di tengah kewajiban jadi istri dan ibu plus lagi ngerantau di Swiss. Coba cek tulisan beliau di sini. 

Dan lagi menurut saya satu hari tanpa ngelewatin ketiga hal ini malah jadi wasted, sepi dan lebih kerasa capeknya. Makanya menurut saya seorang ibu tetep harus punya me time, harus punya hobi yang disukai, dinikmati, dan diniati. Hasilnya, ibu senang. Ibu yang senang bikin apa aja yang ia sentuh jadi menyenangkan juga. Hasil akhirnya, ada keluarga yang senang dan menyenangkan, yeay!

- -

Selain weaving, ada hal lain yang barusan saya lakukan beberapa minggu belakangan ini, yaitu ga makan nasi dan lauk berat saat sarapan. Semuanya dimulai karena suatu pagi terilhami untuk makan sesuatu yang ringan aja, agar bisa punya slow morning karena dulu selalu udah ribet dari pagi bikin sarapan dengan menu yang berat. Nah, dulu sempat lihat postingan Mama Arga di Instagram @atoddlersfooddiary tentang roti goreng telur yang simpel banget tapi lengkap 4 bintang-nya. Akhirnya saya coba sendiri tapi dimodifikasi pake sayur ruccola dan keju parmesan. Jadinya yummm, sarapan penuh gizi buat sekeluarga yang super praktis!



Roti Goreng Telur

Bahan:
- 2 slices roti tawar; saya pakai Originalrost dari "Skogaholm"
- 1 butir telur/ ägg
- Beberapa helai sayur ruccola; saya pakai merek "Sydgrönt", bisa diganti sayur lain ya.
- Secukupnya keju parmesan
- Butter untuk pan fried
- Salad sesuai selera masing-masing

Cara Membuat:
1. Kocok telur, tambahkan garam kalau suka. Saya sekarang pake Himalayan Salt dari "Jozo" karena pengen lebih sehat aja. Kadang kalo masaknya pake butter saya skip garem, karena udah gurih meskipun butternya normal salt. 
2. Satu slice roti tawar dibagi jadi dua, lalu celupkan ke kocokan telur. Tambahkan sayuran lalu pan fried di teflon.
3. Setelah satu sisi matang berwarna kecoklatan, balik, lalu taburi dengan keju parmesan. Tunggu hingga sisi lainnya matang dan keju lumer.
4. Siap disajikan dengan salad.


Simpel banget kan :) Udah ada karbohidrat dari roti, protein dari telur, sayur, lemak dari butter dan keju sebagai penyedap. Lengkap deh empat bintang-nya. Bisa jadi alternatif banget buat ibu-ibu yang anaknya susah makan tapi doyan banget sama roti. Selamat mencoba ya, semoga sekeluarga pada suka!

Saturday, September 23, 2017

Last Andalusian Hype: Málaga



Bermodal nekat hanya menyediakan 24jam+ saja untuk menjelajah Málaga, kami sekeluarga ternyata bersenang-senang sekali di hari itu. Menurut saya, Málaga punya charm tersendiri yang tidak dimiliki kota Andalusia lain, dan lebih terasa 'modern'. Sedikit ada penyesalan mengapa hanya sehari saja di sana karena ada banyak tujuan wisata yang menarik, tapi mengingat banyaknya kewajiban di Malmö sudah menanti kami, tandanya mungkin harus balik ke sini lagi suatu saat... hehe.

- -

5 Agustus 2017
Kami sampai di Málaga siang menuju sore, dan langsung naik taksi ke Airbnb yang telah dipesan Mas Haf. Lokasi menginap kami pas di pusat kota, dan berada di lantai dua apartemen yang terhitung mewah. Pemiliknya, Maria, dulu tinggal di sana namun pindah ke lokasi lain yang relatif lebih sepi. Malamnya kami baru sadar kenapa Maria pindah dari apartemen yang bagus dan mewah itu... karena malam berisiknya minta ampun. Kami sampai susah tidur, untungnya cape sekali jadi bisa terlelap meskipun sulit. Mungkin karena malam minggu ya jadi semua orang menghabiskan waktu hingga malam di luar. Plusnya, kemana-mana dekat sekali. 

Sore itu kami memutuskan untuk makan malam di Astrid Taperia Organica, hanya berjalan kaki 10 menit dari apartemen. Awalnya kami ga begitu ngeh sama menu-nya, hanya search restaurant based on recommendation from TripAdvisor. Dan ternyataaa, enak banget! Resto ini punya tagline 'Cuisine with Ecological and Healthy Products with Original Mix of Mediteranian and Asian'. Mereka menyediakan menu-menu dengan bahan organic, yang tentunya sehat. Kami pesan minum jus wortel dengan turmeric dan ginger, surprisingly Alya suka. Dan kami pesan ikan, quinoa, kari dan kwe tiaw dengan dessert gluten free cake. Yum!





Setelah makan malam kami mampir ke Supermarket di dekat apartemen untuk beli bahan makanan untuk sarapan keesokan harinya. Setelah belanja, kami jalan-jalan malam di sekitar Malaga Square. Lalu pulang ke apartemen untuk istirahat.

✤ -

6 Agustus 2017
Pagi-pagi kami bangun dan langsung sarapan spaghetti instan (my bad) yang saya beli kemarin. Setelah itu kami menuju Cathedral of Málaga, tapi ga bisa berlama-lama di sana karena sedang ada misa. Setelah dari Cathedral kami mampir sebentar ke gift shop & museum yang ada persis di depan Cathedral. Setelah itu tujuan kami adalah Roman Theatre, yang ternyata sedang direnovasi. Kami cuma sempet sebentar masuk ke museumnya yang dibuka untuk umum dan free entrance. 

Selesai muter-muter di sekitar Roman Theatre, kami makan siang di salah satu resto yang menyediakan black paella, atau paella yang dimasak dengan tinta cumi-cumi sehingga warnanya menjadi hitam. Suami udah nyari black paella ini semenjak kami di Cordoba, yang akhirnya seneng karena kepengenannya keturutan, hehe.

Tujuan selanjutnya adalah must visit place di Malaga, Museum Picasso! Yep, Pablo Picasso, that famous painter, was born here. Audio guide disewakan secara gratis, dan fyi museum ini ketat banget soal peraturan mengambil gambar. 


Sorenya kami lanjut ke Centre Pompidou Málaga yang berada di dekat marina. Di sini kami had a lot of fun! Eksibisinya menarik, dan atraktif even for kids. Saya akhirnya melihat langsung karya Andy Warhol, Yoko Ono dan Frida Kahlo yang dipamerkan di sini.


Selesai dari museum, kami makan malam seafood di resto yang berada di pinggir marina, sambil melihat kapal dan menikmati suasana sore itu. Seafood platternya tergolong lengkap ada cumi-cumi, udang, gurita, dan ikan yang digoreng kering (deep fried). 


Selesai makan kami lanjut main di pantai sampai sunset. Ga mau menyianyiakan kesempatan 'keceh' di Spanyol, kami biarkan Alyaka main air pantai dan pasir hingga basah kuyup, padahal ga bawa baju ganti dan spare pampers pun habis! Akhirnya Alyaka didudukin di stroller pakai dress dan dibuntel selimut, dialasin changing pad biar ga kena ompol >.< 


Setelah hari mulai gelap kami kembali ke apartemen karena harus istirahat, packing dan bersiap-siap untuk first flight keesokan harinya. Ternyata makin malam Malaga makin ramai, lho. Meriah dan semarak sekali suasananya.



✤ -

7 Agustus 2017
Jam 05.00 kami berangkat dari hotel naik taxi yang telah dipesankan oleh Maria, host Airbnb kami. Sampai di airport, karena satu dua hal, we missed our flight to Copenhagen. Akhirnya kami harus transit di Zurich, Switzerland dan berangkat ke Copenhagen keesokan paginya. Kami sekeluarga sampai di Malmö tanggal 8 Agustus siang...


Akhirnya selesai juga perjalanan 10 hari Paris-Andalusia Trip kami di summer 2017. Saya ga berhenti mengucap syukur Alhamdulillah kalau keinget semuanya, betapa Allah SWT sayang banget sama kami hingga kami diberi kelancaran dari awal berangkat sampai pulang lagi. Ya meskipun ada drama missed flight yang mengharuskan kami spent more money on that, saya tetap bersyukur. Yang saya rasakan adalah perjalanan ini menguatkan kami bertiga, memperkuat bond kami sebagai keluarga dan yang terpenting memberikan banyak pelajaran kepada kami tentang banyak hal. Tentang pentingnya tetap tenang saat situasi di luar kendali kita, tentang betapa dibutuhkannya kerjasama suami dan istri untuk semua hal, tentang meredam emosi, mengalah, berpikir jernih. Tentang melihat lagi ke dalam kanak-kanak kita untuk menikmati momen. 

Tentang tak peduli sebaik apa rencana manusia, Tuhan masi punya rencana lain yang lebih indah.

Terimakasih Allah. 
Laa Haula Wa Laa Quwwata Illabillah. There is neither might nor power except with Allah.

Terimakasih suamiku, untuk semuanya. Untuk rencana perjalanannya. Untuk liburannya. Untuk jadi sabar saat istrimu ini marah-marah (uhuk). Untuk tetap menjadi pemimpin kami di manapun kami berada.

Dan terimakasih anakku, Alyakamali Basagita Hafidz, untuk kerjasamanya sepanjang perjalanan. Bunda & Ayah akan selalu mengingat tawa bahagia di usiamu yang ke 17 bulan itu saat berkeliling Eropa. Di akhir hari, hanya hiburanmu yang membuat capek kami hilang dan berganti jadi semangat untuk esok harinya.

Terimakasih semesta. See you again, Paris and Spain.

Thursday, September 21, 2017

Córdoba: A Harmonious Combi


Tanpa ekspektasi berlebih, saya sampai di kota Andalusia kedua kami, Córdoba. Ternyata, kota ini memberikan banyak sekali cerita yang ga mungkin saya lupakan. Dapet wine halal (bukan halal sih lebih tepatnya 0% alcohol haha), hampir makan daging babi saat pesan makanan khas sini, pertama kali lihat pernikahan sesama jenis, ngerasain tinggal di hostel dengan banyak pegawai muda multi-ras: ada yang dari Mexico, Italia, Korea, dan local Córdoba; dan tentu saja yang paling bikin haru, bisa berdiri dan melihat langsung mihrab di Mezquita.. saksi bisu kejayaan Islam masa lampau di Spanyol.


- -

3 Agustus 2017
Kami sampai di Córdoba sekitar jam 6 sore. Kami cek lokasi hotel di google maps, sebenernya ga terlalu jauh tapi karena udah capek banget kami putuskan untuk naik taksi dari terminal bus ke hostel kami di Córdoba: Cordóba Bed & Be. Ga sampai 15 menit naik taksi, kami diturunkan di sebuah jalan dan harus melanjutkan jalan kaki ke hostel.

Sampai di hostel, ternyata pegawai-pegawainya masih pada muda-muda lho! Dan ternyata mereka di sana sebagai 'volunteer', sambil kerja sambil traveling dan sambil numpang hidup, ada yang beberapa minggu ada yang sampai sebulan. Seru banget.

Kami langsung ke kamar di lantai 2. Total ada 4 lantai dan cuma sekitar 3-4 kamar per lantai, dan ada dua kamar mandi di tiap lantainya. Ada juga dapur dan common room untuk bersantai bareng tamu-tamu lain. Malam itu kami semua tidur cepet karena harus bersiap-siap ikut tour guide keesokan harinya.


- -

4 Agustus 2017
Pagi-pagi sekitar jam 10.00, kami sarapan di hotel dan langsung ikut free tour guide. Kami berkumpul di Plaza de Las Tendillas, hanya 5 menit berjalan kaki dari hostel. Guide kami hari itu bernama sama dengan saya, Tania, seorang mahasiswi yang nyambi jadi guide. Saya lupa rute yang kami lewati hari itu, tapi sedikit-sedikit tahu kemana saja kami dibawa muter selama 3 jam. P.S: Bawa stroller emang ga mudah banget tapi bisa, kok. Dan di banyak tempat meskipun ga ada jalur untuk push chair/ stroller, tangganya engga banyak. So mending bawa stroller aja daripada harus gendong anak karena panas kan pasti gerah. Jangan lupa air minum!

- Mezquita: The Mosque-Cathedral of Cárdoba. Kami sampai di Mezquita di tengah perjalanan siang itu, tapi hanya singgah sebentar di luar. Cerita tentang Mezquita di hari berikutnya saat kami masuk ke dalam.
- The Alcázar: Castle of the Christian Monarch.
- Salah satu Patio di tengah kota. Patio biasanya dibangun di bagian depan rumah, dan berfungsi sebagai tempat berwudhu bagi muslim. Namun sekarang patio juga berfungsi sebagai pendingin rumah saat panas luar biasa, bunyi gemericik air juga dapat memberikan ketenangan dan kenyamanan.



Patio yang kami kunjungi. Bahkan di kota ini setahun sekali diadakan festival Patio lho. 
Para pemilik rumah dengan patio berlomba mendekor bagian depan rumahnya seciamik mungkin.

- Monument to Maimónides
- Claudio Marcello Street; saat kami ke sana lagi ada pembangunan dan perbaikan jalan.
- Plaza de la Corredera
- The Portillo Gate: Pintu masuk ke kawasan muslim. Di sini Tania bercerita gimana muslim jaman dahulu mendirikan rumah deket-deketan dengan dinding yang tinggi, mengingatkan saya dengan rumah di Laweyan, Solo. Untuk menangkal panas, karena Córdoba termasuk daerah dengan temperatur paling tinggi di Eropa, maka jendela-jendela di perkampungan muslim ini ditutup dengan semacam tirai yang sangat berat dari rotan yang disiram air secara berkala. Nah, air itu tadi membuat angin yang berhembus masuk menjadi lebih sejuk, dan otomatis lebih teduh karena tertutup.

Dan banyaaak tempat lain selama 3 jam jalan kami mengunjungi banyak tempat menarik di sini. Cordoba terkenal akan perpaduan budaya Arab, Roman dan Jewish dan semua tourist attraction biasanya dibagi per kategori dan daerah dari ketiga budaya itu. Di Cordoba, semuanya campur jadi satu jadi kalo kalian bener-bener mau ngerasain perpaduan budaya mereka maka Cordoba ini kota yang sangat sangat cocok.



Shopping street di pusat kota

Selesai ikut tour guide, kami tanya ke Tania dimana tempat lunch yang recommended di sekitar pemberhentian terakhir kami, Séneca Statue di Puerta del Almodóvar. Tentunya yang enak dan child-friendly dong. Ternyata ga jauh dari situ, hanya sekitar 10 menit jalan kaki kami sampai di Mercado Victoria, berlokasi di Jardines de la Victoria, tepat di jantung kota. Mercado Victoria ini seperti foodcourt dimana ada banyak tenantnya gitu, dari mulai seafood, vegan food, moroccan food dll. Jangan takut kepanasan karena indoor dan cozy juga tempatnya. Kami pesan seafood platter di salah satu tenant (lupa namanya), dan pesan makanan Maroko juga. Menariknya, si tenant Maroko ini baru buka beberapa minggu dan masih dalam rangka promosiin Halal Food-nya, maka dia minta tolong saya buat jadi model terus difoto lagi pesan makanan gitu haha. Saya sih seneng-seneng aja, terus kami dikasi kudapan manis for free. Setelah ngobrol-ngobrol sama dia, dia juga cerita kalo lagi nyoba bikin wine 0% alcohol! Eh ujung-ujungnya kami dikasi gratis juga satu botol. Ada-ada aja...



Setelah selesai makan, kami balik ke hotel jalan kaki di cuaca yang super terik itu. Kami mampir di salah satu pusat perbelanjaan untuk beli charger kamera Mas Haf yang rusak. Abis itu kami balik ke hotel dan leyeh-leyeh aja sampe sore karena cape dan kepanasan hahaha

Setelah makan malam sekitar jam 18.00, kami jalan-jalan ke bagian selatan Córdoba, ke Puente Romano atau Roman Bridge. Salah satu alasan kenapa ngebet kesini adalah, tempat ini jadi salah satu lokasi syuting Game of Thrones, Long Bridge di mana Tyrion & Varys kerap ngobrol! Kami di sini lumayan lama, sekalian iseng motretin Alyaka sambil nunggu sunset. Indah banget pemandangannya saat senja apalagi dapet sunset-nya.



Di ujung jembatan ini ada Torre de la Callahora, atau Calahora Tower. Di dalamnya ada museum Vivo Al Andalus.





Long Bridge berdiri megah di atas sungai Guadalquivir

Di jalan balik, kami mampir di Plaza de las Tendillas dan Alyaka main air bentar sampe basah kuyup, untung ga jauh dari hotel. Kami balik ke hotel sekitar jam 21.00 malam dan langsung istirahat.



Suasana malam di sekitar Mezquita.

✤ -

5 Agustus 2017
Kami bangun pagi mau ke Mezquita, dapet info dari orang hostel kalau datang sebelum jam 09.00 free entry. Kami sampai di sana jam 09.00 kurang, ternyata udah ga bisa dan langsung mulai antri tiket dan ga lupa juga sewa audio guide.
Mezquita, atau Mosque-Cathedral, adalah salah satu main attraction di Córdoba dan merupakan World Heritage Sites sejak tahun 1984. Disini kita bisa lihat style Omeyan, Gothic, Renaissance, Baroque dan Christian berevolusi di satu tempat. Saat musim berkuasa di Spanyol, Córdoba menjadi ibukota di bawah dinasti Umayyah. Ga lama setelah penaklukan kembali oleh kaum Kristen, Mezquita beralih fungsi jadi katedral. Uniknya, mihrab di masjid ini mengarah ke Selatan, padahal kalau dirunut harusnya ke arah Tenggara menghadap kakbah dari Spanyol. Hal ini membuat para jemaah harus miring agak ke kiri saat shalat.



Bell Tower dari luar kompleks Mezquita



Mihrab di dalam Mezquita. Meskipun telah beralih menjadi katedral namun arsitektur peninggalan sebelumnya tetap dipertahankan. 
Kaligrafi-kaligrafi arab menghiasi dinding bagian mihrab ini.



Setelah hampir dua jam muterin Mezquita, kami lanjut makan siang. Kami pengen banget nyobain salmorejo, makanan khas Córdoba. Berhentilah kami di salah satu resto yang jual salmorejo ga jauh dari Mezquita dan pesan satu porsi. Mesti ati-ati yaa pastiin lagi kalau kalian muslim, bahwa salmorejo yang kira-kira kaya hummus itu ga pake daging babi karena biasanya disajikan dengan roti, dan ditaburi potongan daging babi dan telur.



Selesai makan siang, kami lanjut ke Museum Vivo Al Andalus di ujung Roman Bridge. Museum ini bagus banget! Selain displaynya yang rapi, tempatnya masih bersih dan canggih banget. Kita dikasi audio guide for free, terus setiap masuk ke satu ruangan nanti audio guidenya integrated nge-link sama eksibisi di ruangan itu dan jadi penyajian yang teatrikal dan ngalir kaya denger orang cerita langsung ke kita. Di sini kita bisa lihat sejarah Córdoba, perkembangan budaya di sini, penemuan-penemuan hebat jaman dulu, ilmuwan, agamawan, basically everything about the city. 

Selesai di museum Vivo Al Andalus, kami balik ke hotel dan ambil barang karena mesti ngelanjutin perjalanan kami ke Málaga. Dari hotel kami jalan kaki ke halte bus sekitar 15 menit, dan selesai lah petualangan kami di Córdoba selama 2 hari ini.

Menurut saya, Córdoba ini lebih family friendly daripada dua kota Andalusia yang kami kunjungi sebelumnya. Pertama, jalanan ga banyak yang nanjak atau bertangga, hampir semuanya datar. Kedua, kemana-mana dekat, relatif masih  di walking distance kami jadi ga gampang capek atau harus naik kendaraan umum lagi. Yang saya suka, begitu kami nyampe dan minta city guide ke orang hostel, brosurnya lengkap dan informatif banget! Bahkan mereka ngasi titik-titik di mana kita bisa refill botol air minum, shopping center, pembagian 'must visit place' yang dikategorikan dengan sangat baik, tapi semuanya bisa dikemas dengan bahasa yang ringan, mudah dipahami dan kerasa banget kalau disusun oleh locals. Di brosur city guide yang mungil itu, mereka bahkan masih sempet jelasin sapaan khas Córdoba, brief history dari tiap museum, art gallery, makanan khas dan lain-lain. Pokoknya, perpaduan histori dan masa kini; Jewish Roman dan Moslem; old and young; this and that; membuat sebuah kombinasi yang harmonis di kota kecil bernama Córdoba ini. Suka!

most photos are taken by mas @hafidznovalsyah

Sunday, September 10, 2017

Granada - The Lost & Found

Granada, kota Andalusia pertama yang kami kunjungi. Menulis kembali perjalanan kami di Granada, membuat saya teringat banyaknya emosi yang saya rasakan di kota ini. Seringkali pengalaman yang saya dapatkan di kota ini memunculkan sebersit rasa sedih, bangga, dan malu dalam diri saya. Sedih, karena membayangkan kehebatan apa yang dulu pernah ada di sini. Bangga, akan besar dan megahnya bangunan "Al Hambra" yang dijuluki A Pearl set in Emeralds dan penemuan-penemuan lain dari muslim jaman dahulu. Lalu malu... campur aduk rasanya merefleksikan sejarah dengan keadaan masa kini dan ke dalam diri saya sendiri sebagai seorang hamba. Namun mustahil rasanya untuk bisa nulis dan cerita semua di sini...

Overall perjalanan di Granada ini menyenangkan, dan seperti janji saya di Instagram, pengalaman-pengalaman menarik saya sebagai turis yang memakai atribut muslim di kota Andalusia ini akan saya coba ceritakan. Foto-foto lain mungkin bisa scrolling instagram saya ya!

- -

1 Agustus 2017
Sesampainya di Granada sekitar pukul 21.00 malam, kami naik bus ke hostel kami selama di Granada, Hostel Vita. Sebenernya ini pengalaman pertama saya lho menginap di hostel, apalagi Alyaka. Kami harus jalan kaki cukup jauh dari tempat pemberhentian bus ke hostel kami, saat itu sudah malam sekali sekitar jam 22.00, tapi orang masih ramai dan lampu masih terang benderang. Sesampainya di dekat hostel, ternyata kami harus naik tangga lagi agar bisa sampai di hostel. Akhirnya malam-malam begitu, ada ibu muda gendong anak bawa koper dan diaper bag, ditemani suaminya yang bawa stroller dan backpack gede, naik puluhan anak tangga mencari tempat bermalamnya. Sampe hostel rasanya FYUH sekali.


Tangga menuju hostel difoto dari atas. 

Kami checkin dan ternyata kena additional fee karena melewati batas checkin yaitu pukul 23.00. Hostelnya lucu banget! Very recommended dan kerasa feel-nya modern & young. Kami sewa kamar di lantai 2 dan langsung beristirahat.

2 Agustus 2017
Pagi-pagi sekali kami bangun, lalu antre mandi karena satu lantai cuma ada satu kamar mandi. Selesai mandi kami langsung sarapan di kitchen bersama tamu hostel yang lain. Hihi lucu juga mengingat pengalaman pertama saya masak bareng-bareng orang yang baru pertama kali saya temui, dan makan bareng di meja makan gitu.


Selesai sarapan, kami langsung jalan ke Al Hambra. Ga memakan waktu lama (sempet nyasar juga sih) sekitar 15 menit, kami sampai di entrancenya. Mas Hafidz udah beli tiket online, dan kami tinggal print tiket based on booking code dan sewa audio guide, lalu masuk. Berdasarkan survey kami, sebaiknya ke Nasrid Palace dulu karena pengamanannya ketat, tapi karena terlanjur beli tiket masuk Nasrid Palace jam 13.00, kami muter-muter dulu ke tempat yang lain.

Kami lanjut makan siang sekitar jam 12.00 di restoran di dalam kompleks Al Hambra, tepatnya di Restaurant Hotel America. Awalnya di depan kami ragu masalah harga, karena ternyata ini Restoran  Michelin. Tapi ternyata harganya cukup masuk akal dan kami penasaran, akhirnya nyobain deh. Saya pesan daging kelinci yang dimasak lembut, sedangkan Mas Hafidz pesan beef stew. Awalnya kami berdua mau pesan satu menu yang ada sausage-nya. Waktu kami sampaikan order ke waiter dia bilang "But it has pork" dan bersyukur banget dia ngasitau karena saya pakai jilbab. Coba kalo engga... bisa kacau. Anyway ini kedua kalinya saya terselamatkan dalam hal makanan karena pakai jilbab lho, pertama kali sampai di Paris saat mau pesan pizza, waiternya bilang kalo contains ham, dan langsung rekomendasiin menu lain yang berbahan daging ayam. Tapi yang bener ya tiap mau pesen kita mesti nanya duluan ada atau engga ada olahan daging babi, tapi poin saya di sini adalah sebelum kami nanya mereka udah ngasitau karena tau muslim ga makan babi, dan tau kalo pake jilbab berarti muslim. Gitu :)



Daging kelincinya lembut banget, tapi lupa ini nama menunya apa huhu

Selesai makan, kami lanjut perjalanan di dalam Al Hambra dan langsung menuju Nasrid Palace. Dulunya, Al Hambra ini dibangun sebagai benteng kecil, lalu ratusan tahun terbengkalai sampai akhirnya direnovasi oleh Pangeran Moorish (sebutan bagi penduduk muslim di semenanjung Peninsula) yaitu Mohamed ben Al Ahmar dan pada tahun 1333 dijadikan istana oleh Sultan Granada, Yusuf I. Setelah Granada ditaklukkan Kristen pada tahun 1492, Al Hambra menjadi royal palace dari Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sekarang, kita mengenal Al Hambra sebagai warisan kekayaan dunia oleh UNESCO, dan menjadi atraksi utama bagi kota Granada karena arsitektur Islam, Kristen serta taman-tamannya yang indah. Ga heran, Al Hambra ini menginspirasi penulisan banyak cerita dan lagu. 




Alyaka tidur di awal perjalanan kami, first stop Generalife sebagai tempat bersantai raja.


Kami bertiga di Patio of the Irrigation Ditch

Kami antre sekitar 15 menit dan melewati beberapa pemeriksaan hingga bisa masuk ke dalam. Dan sampai dalam, indah banget! Nah, Nasrid Palace atau Palacios Nazaries ini merupakan private area dari istana. Nasrid Palace terbagi menjadi tiga bagian yaitu The Mexuar sebagai tempat semipublik untuk urusan kenegaraan dan administrasi, Comares Palace sebagai tempat tinggal raja, dan Palace of Lions sebagai area paling privat dimana perempuan-perempuan berada.  


Saya dan Alyaka di "Court of the Myrtles"


Kaligrafi Arab seperti ini menghiasi hampir setiap sudut ruangan di Al Hambra.


Pilar-pilar di Palace of the Lions

Saking luasnya total area Al Hambra ini, kami baru selesai mengunjungi semua tempatnya sekitar jam 5 sore. Menurut saya hal yang paling membuat saya takjub adalah bagian dalam Nasrid Palace, dan kaligrafi di hampir semua dinding yang bertuliskan lafadz "Laa Ilaaha Ilallah"... Sampai saya sempet nahan-nahan untuk ga nangis saat melihat kemegahan bangunan ini dan keindahan arsitekturnya saat di Comares Palace. Semua bukti kejayaan Islam di masa lalu. Kejayaan yang diraih, hilang, lalu ditemukan lagi dalam bentuk rasa bangga di dalam hati muslim yang meresapinya. Allahu Akbar...



Lafal "Wa Laa Ilaaha Ilallah" atau "Dan tidak ada Tuhan selain Allah" menghiasi hampir sebagian besar dinding di Al Hambra. Konon setelah tidak lagi menjadi Istana Muslim, dekorasi dan hiasan Islam sempat ingin diganti namun karena terlalu banyak maka hanya ditambahi ornamen bercorak Kristiani.


Kota Granada dari atas bastion di Al Cazaba atau benteng utamanya.

Akhirnya kami balik lagi ke hotel, dan makan malam beli kebab di dekat hotel. Malam itu sebenernya berencana nonton flamenco tapi udah ga kuat kami pilih istirahat di hotel. Oiya, karena panas dan ga biasa kepanasan itulah kami selama di Granada minum terus! Bolak balik beli air kemasan atau isi ulang botol minum kami, kalo ga lemes. Jadi bawa botol minum sendiri sangat sangat disarankan untuk irit pengeluaran.

✤ -

3 Agustus 2017
Hari kedua di Granada, kami memutuskan untuk ikut free tour keliling kota. Sekitar jam 09.00 semua peserta berkumpul dan kami memulai perjalanan hari itu.


Kami berkeliling ke banyak spot menarik dan bersejarah di Granada. Guide kami, Borja, sangat teatrikal dan informatif sekali dengan Bahasa Inggris yang jelas dan mudah dipahami (ini penting!). Borja bercerita bagaimana penduduk muslim yang menempati Granada dulu membangun kota ini dengan sangat baik dan menggunakan teknik yang sangat cerdas. Karena Granada sering dilanda gempa, maka bangunannya dibangun menggunakan campuran batu alam dan semen biar kokoh tapi tetep fleksibel. Belokan di jalan juga dirancang dengan teliti biar tentara-tentara yang datang dari bawah ke atas sulit menggunakan pedang dan perisai di tangan kanan. Menurut mereka itu jenius banget.

Borja juga bercerita bahwa dulu setelah penaklukkan muslim, ada patroli 'daging babi'. Kemananan diperintahkan untuk mendatangi rumah-rumah dan menyuruh penduduk untuk makan daging babi sebagai patroli pengurangan jumlah muslim di Granada. Jika menolak maka dibunuh. Jadi pilihannya mati atau pindah agama. Saat Borja bercerita ini, dalam rombongan kami hanya saya yang memakai atribut muslim yaitu jilbab. Dan Borja sangat berhati-hati saat bercerita sambil sesekali melihat ke arah saya, hahaha. Padahal saya mah santai aja wong udah lalu. Tapi karena hal ini jadi mudah dimaklumi kenapa di Andalusia sini makanan lokal banyak mengandung babi karena ada patroli , mungkin.

Setelah selesai free tour guide, kami makan siang di Camela Resto. Kami pesan octopus with mashed potato yang enaaak banget! Ini pertama kalinya Alyaka nyobain octopus hehe. Setelah dari Camela Resto, kami naik bus ke "Parque de Las Ciencias" atau Science Park. Kami naik dari halte bus Catedral dan turun di Violon. Saat sampai di halte bus Violon kami harus berjalan kurang lebih 10 menit menurut google maps, tapi agak sedikit muter. Berbekal sotoy yang teramat sangat, saya dan suami nekat motong jalan dari maps dan ternyata, jalan raya dong! Ga ada jalan sama sekali untuk ngelewatin selain harus puter balik dan ikut route awal dari google mapsnya. Dan lagi siang itu panas banget sampai 44 derajat, kami ga bawa payung juga. Daerahnya sepi dan ga banyak pohon, lagi. Duh!

Sampai di museum, kami langsung pergi ke bio domo, dimana terdapat banyak satwa biodiversity yang ada di dalamnya. Seru! Kami lihat sloth bergelantungan di atap, lemur lagi kumpul di pohon, hiu dan bermacam satwa unik lain. Ga bisa lama-lama di museum, kami harus ngejar bus ke Cordoba sore itu. Akhirnya dengan berat hati kami cuma sempet main di baby area dan beberapa science corner sambil nunggu taksi datang. Kami balik ke hotel naik taksi, lalu ambil barang bawaan kami dan pergi lagi ke halte dengan taksi yang berbeda (karena udah terlanjur pesen via hotel). Sampe halte, kami beli makan malam pizza dimakan di atas bus. Perjalanan ke Cordoba memakan waktu sekitar 2-3 jam, dan sepanjang perjalanan indah banget kami melihat pepohonan, hamparan padang yang luas dan dapet sunset juga. Indah sekali ❤




Alyaka ketiduran di taksi dan bahkan ga kebangun saat kami udah sampai di museum.



...masih tidur tapi bundanya maksa foto sama hiu.



Menikmati sunset di atas bus ke Cordoba.


Most of the photos taken by my husband @hafidznovalsyah ❤

Wednesday, September 6, 2017

Hola, Barcelona!



Setelah dari Paris, kami melanjutkan Paris-Andalucia Trip kami ke: Barcelona! Sebagai Ibukota Spanyol, rasanya sayang kalo cuma transit dan nunggu di airport aja. Akhirnya Mas Haf memutuskan agar kami punya waktu sekitar 6 jam untuk jalan-jalan di Barcelona. Selain itu, kami juga udah bikin janji untuk ketemuan sama temen Mas Haf, Liz & Pol, yang tinggal di sana. Saat kami berkunjung, Liz udah hamil tua, tapi masih nemenin kami jalan-jalan keliling kota lho!


La Ramla yang selalu ramai

Selain kami harus mengganti sapaan "Bonjour" dengan "Hola", rupanya kami juga harus mengganti outfit kami karena udaranya panas banget booo'! Bahkan sempat 44 derajat saat kami di Granada (I will tell the story later). Jadi dari Swedia yang ga pernah panas, kami ke Paris yang agak anget dikit, lalu ke Spanyol yang panas banget.

1 Agustus 2017
Pagi-pagi kami berangkat dari hotel kami ke Bandara Charles De Gaulle. Sempat salah kereta karena dari Gare du Nord yang gede banget itu kami seharusnya ambil kereta B3 ke Aéroport Charles De Gaulle, tapi kami malah naik B5 ke Mitry-Claye. Untung di tengah jalan ada ibu-ibu yang berbaik hati notice kami bawa koper ngasitau kalo kami harus turun setelah stop berikutnya, masih nunggu di jalur yang sama untuk kereta berikutnya. Fyuh! Coba kalo salah, bisa-bisa kami ketinggalan penerbangan hhu.

Sampai di CDG kami jalan cukup jauh ke konter checkin, lalu beli sarapan sandwich. Ga menunggu lama akhirnya boarding dan terbanglah kami ke Barcelona.

Sampai di Barcelona sekitar jam 1 siang, kami makan siang di airport El Prat dan lanjut naik Aerobus ke Plaça Cataluna. Setelah turun dari bus, yaampun baju ini basah keringet karena panas dan terik bangeeet. Kami jalan-jalan di La Ramla dan mampir di Casa Mila - La Pedrera, Antoni Gaudi's main residential building. Di sini kami ga sempet masuk karena ramai banget dan masih mau lihat banyak tempat lain di Barcelona, makanya kami cuma mampir ke gift shopnya. Ayah Alyaka beli satu set Story Box, berisi gambar-gambar puzzle Snow White & Seven Dwarfs, Jack & Beanstalk dll yang bisa kita bikin sendiri alur ceritanya. 

Di depan La Pedrera

Keluar dari Casa Mila, kami lihat gedung Gaudi lain di jalan yang sama sepanjang La Ramla, yaitu Casa Batllo. Lagi-lagi karena ramai, kami ga bisa masuk dan cuma bisa menikmati keindahan dan kerumitannya dari luar. Haha.

Selesai dari Casa Batllo, kami mampir ke HnM di La Ramla buat beli sendal untuk Alyaka karena kayaknya dia gerah pake sepatu & kaos kaki. Lalu kami jalan ke Cathedral of Barcelona, dan lagi-lagi dibikin awe sama arsitekturnya! Sore itu hujan rintik-rintik dan sedikit mendung, jadi suasana dalem katedral tambah sendu-sendu gimana gitu.


Cathedral of Barcelona tampak dari luar


Dibeliin sendal baru malah tetep dilepas akhirnya nyeker aja bocah ini. Anw untung bawa portable mini fan dari Clas Ohlson seharga SEK 25 sajaaa!

Keluar dari Katedral, ternyata Liz & Pol udah nungguin di depan. Sambil jalan kami catch up kabar dan cerita satu sama lain. Oleh mereka kami diajakin muter sekitar katedral, dan sempet ngeliat satu taman dimana dingding-dinding bangunannya berlubang kena tembakan. Ternyata itu tembakan dari kelompok separatis Cataluna yang mau memisahkan diri dari Spanyol. Terus mereka ngajakin kami ke sebuah mural yang terdiri dari foto-foto warga Barcelona dan membentuk mosaik gede, "Kiss of Freedom" di Plaça d'Isidre Nonell.


Selesai dari mural ini kami balik ke La Ramla dan makan waffle & ice cream (ga makan berat karena masih kenyang). Ga berapa lama kami harus berpisah karena ngejar bus ke airport, sekitar jam 18.00 kami diantar Liz & Pol naik aerobus dari terminal terdekat. Sampe bus baru ingat kalau belom foto sama mereka, dan nyesel bangeeet.

Sampai di airport, kami langsung makan malam di foodcourt dan siap untuk terbang ke Granada jam 18.40 malam. Petualangan berlanjut, yeay!

P.S:Tepat seminggu setelah kunjungan kami, Liz melahirkan putri pertamanya yang diberi nama "Julia". Congratz once again for the happy couple!

Monday, September 4, 2017

A Dream Comes True - En Route to Paris With Toddler

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah! Setelah sebulan lebih 'mager' nulis perjalanan liburan kami bertiga akhir Juli hingga awal Agustus kemarin, akhirnya terkumpulah niat dan kesempatan ini. Maafkan jeda waktu yang terlalu lama ini yaa...

Mas Hafidz sudah berencana untuk ajak saya dan Alyaka jalan-jalan di Eropa sejak residence permit kami granted. Awalnya Mas Haf dan saya bingung, apakah mau ke destinasi liburan mainstream keliling Eropa atau yang tematik. Setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk budget, kami putuskan untuk liburan di Paris dan kota-kota Andalusia saja. Pertimbangan lain kenapa ke Paris adalah sekalian ketemuan dengan Om Yudi dan Tante Tari. Om Yudi adalah adik dari mendiang ayah mas Haf, dan juga ayah dari Mas Ario Bayu yang menikah dengan Valentine Payen asal Prancis. Pernikahan mereka dilangsungkan awal Juli, tapi karena bertepatan dengan exam preparation Mas Hafidz kami jadi belum bisa datang. Ditundalah kunjungan kami hingga akhir bulan, hehe.

- -



29 Juli 2017
Pagi-pagi sekitar jam 08.00, kami berangkat ke Kastrup Airport, Kopenhagen. Bawaan kami ga banyak, karena mau irit juga jadi ga beli bagasi. Hanya bawa tas ransel, diaper bag, dan koper cabin size juga stroller Coco Latte Alyaka. Perjalanan naik kereta Oresundstȧg memakan waktu sekitar 30 menit. Sampai di airport kami langsung checkin dan saat mau boarding, petugasnya bilang kalo koper saya ga bisa masuk ke cabin karena dimensinya terlalu besar, padahal saat checkin sudah diapprove sama petugasnya untuk dibawa aja. Akhirnya, stroller Alyaka yang sudah diberi limited release tag dan koper saya ditinggal di gate untuk kemudian dimasukkan bagasi oleh petugas, bersama dengan koper beberapa penumpang yang lain. Terbanglah kami ke Paris YEAY!



Bawaan kami. Tentunya yang paling berharga yang lagi cengengesan itu.

Sesampainya di bandara Charles De Gaulle Paris, kami langsung turun dan berniat untuk ambil barang. Sampai di conveyor belt, cuma kelihatan ada stroller Alyaka and no sign of my blue luggage at all. Kesel, ditambah lagi laper, kami lapor ke pihak Air France-nya. Mereka bilang sih kemungkinan ada dua: koper ga ikut terbang ke Paris atau lost somewhere in the airport. Mereka janjiin kalau koper kami akan diantar ke hotel paling lama besok malam, dan kami dapat kompensasi belanja toiletries dsb sekitar EUR 100 per orang, dengan sistem reimburse. Padahal, di dalam koper itu ada make up, baju saya dan baju Alyaka. Rasanya kesel banget karena kalau boleh masuk cabin tadi, maka kami ga mungkin ngalamin yang kaya gini hhu.

Akhirnya setelah saya berhasil menenangkan diri, kami makan di salah satu food stall di dalam CDG. Setelah itu kami naik RER Train ke hotel kami, Hotel De Nemours. Saya sempat mampir ke konter Yves Rocher dulu untuk beli lipstick, bedak dan pembersih wajah :( Kami naik kereta dari CDG, turun di Gare du Nord, ganti kereta nomer 5 jurusan Place d'Italie dan turun di Oberkamf. Dari stasiun metro Oberkamf kami lanjut jalan kaki sekitar 10 menit dan sampai di hotel. Setelah beristirahat sebentar, sekitar jam 07.30 Om Yudi sekeluarga menjemput kami ke hotel untuk makan malam. Ada Om Yudi, Tante Tari, Mba Dianny dan suaminya, Tom. Kami jalan kaki ke Restauran Etiopia ga begitu jauh dari hotel kami. Di sana ternyata sudah ada Elsa, adik ipar Mas Bayu dan ga berapa lama Valentine datang nyusul.



Makan rame-rame 'muluk'. Lauk pauk di atas itu dimakan bersama sejenis crepe basah, yang rasanya sedikit sour. 
Untuk lauknya sendiri kaya rempah - mirip gulai dan rendang lho!

Malam itu seru dan hangat sekali, kami bertukar banyak cerita. Ini kali pertama saya ketemu Om Yudi sekeluarga, dan pertama kali sejak 20-an tahun Mas Hafidz ketemu dengan mereka. Selain obrolan yang hangat, kami juga terkesan dengan hidangan Etiopia yang cara makannya dengan tangan, ramai-ramai di piring yang besar. Ga terasa kami ngobrol ngalor ngidul sampai 3 jam lamanya. Akhirnya kami balik ke hotel sekitar jam 11.00 malam.

✤ -

30 Juli 2017
Karena ga ambil breakfast di hotel, kami sarapan croissant yang dibeli Mas Haf di dekat hotel. Sekitar jam 11.00, kami berangkat ke Louvre dengan kereta. Kami naik dari stasiun Metro Oberkamf, turun di Bastille, ganti kereta dan turun di Palais Royal Musee du Louvre. Sampai di Museum Louvre kami langsung masuk dan makan siang pizza dan roti isi di cafe di dalam komplek museum. Setelah perut kenyang, kami siap menjelajahi museum!
Satu hal yang perlu diperhatiin, Louvre ini gede. Jadi jangan ragu buat pegang map sendiri, dan sewa audio guide biar tahu posisi kita saat itu, histori di balik karya seni dan peta museum secara digital. Kami berdua, sengaja menyiapkan waktu hingga seharian di museum karena tahu bakalan betah di sini. Semacam 'me time' tapi barengan.


Mothers and their children




Setelah hampir seharian di sini, kami jalan ke Eiffel (literally jalan kaki, HA!). Sempet lihat lampunya waktu nyala dan kami duduk-duduk di tamannya lumayan lama. Lalu kami jalan ke Trocadero Square lalu naik kereta dari situ balik ke hotel. Kami naik dari stasiun Metro Trocadero dan turun langsung di Oberkamf. Sempet nyasar dengan posisi hape 2-2nya mati, untungnya ada turis lain baik hati mau bukain google map dan kasih direction balik ke hotel. Sampai hotel ternyata koper udah nyampe, yeay!



✤ -

31 Juli 2017
Hari ketiga di Paris, kami keluar hotel sekitar jam 11.00. Kami naik Metro dan turun di Hotel de Ville. Langsung jalan kaki ke Notre Dame, dan sampai sana ternyata harus ambil antrian untuk bisa naik ke atas menaranya. Kita bisa pilih mau antre jam berapa, akhirnya kami memutuskan untuk ambil antrean jam 15.00. Kami makan siang di restaurant dekat situ, dan setelah itu naik kereta lagi turun di Anvers ke Dali Museum.

Museumnya kecil, tapi termasuk museum yang paling lengkap memajang koleksi Salvador Dali. Ga bisa terlalu lama di Dali Museum, kami langsung balik lagi ke Notre Dame mengejar jam antre, untungnya masih bisa dan ga terlambat.

Setelah menunjukkan tiket antrean, kita naik ke atas dengan tangga yang jumlahnya seitar 380 anak tangga (Yes!) dan setengah jalan menuju ke gift shop. Di sini kita harus nunggu lagi sekitar 5 menit sampai dipersilakan naik lagi ke atas, melalui tangga yang sama. Tangganya sempit dan fan-shaped, jadi mending kalo mau naik lupakan deh pake high heels atau bawa barang berat, karena cuma muat satu orang dan ga bisa nyantai naiknya atau ditungguin sama yang lain. Waktu kami kesini, saya bawa diaper bag dan Alyaka digendong mas Haf dengan i-Angel. Kerasa banget perjuangannya apalagi kami termasuk ga terlalu rutin berolahraga. Namun sesampainya di atas, view Paris dari atas Notre Dame sangat cantik dan totally worth the pain! Kami menghabiskan waktu lumayan lama di atas sini, lalu turun dengan tangga dari sisi lain.



Keluar dari Notre Dame, kami berencana untuk masuk ke Katedralnya, tapi antrean yang super panjang membuat kami urung. Akhirnya cuma duduk-duduk sambil kasih makan merpati dan Alyaka main kejar-kejaran sama burung.


Setelah beberapa saat, kami jalan kaki ke halte Batobus dan menikmati Seine River Cruise dari atas kapal. Kami turun di Champ Elysees dan makan siang di restoran China lalu lanjut jalan kaki ke L'Arc de Triomphe.



Batobus, Seine River Cruise

Monumen ini besar dan amazing banget! Dulu, monumen ini dibuat untuk menghormati mereka yang berjuang saat Revolusi Prancis dan perang-perang Napoleonic. Kita juga bisa naik sampai ke atas monumen, dengan antre di pintu masuk bagian bawah. Tapi saat kami ke sana, ga berapa lama hujan rintik-rintik dan takut Alyaka sakit maka kami putuskan untuk ga naik. Setelah puas melihat-lihat, kami balik ke hotel naik kereta. Sampai hotel kami langsung packing karena besok pagi-pagi mau lanjut naik pesawat ke Barcelona. Malam itu semua tidur super pulas karena kecapekan haha!



✤ -

My Notes About Traveling to Paris, especially with Toddler

1. Alyaka sudah ga lagi minum ASI saat kami berlibur. Maka, saya bawa satu pack susu NAN Pro 4 nya yang kira-kira habis dalam waktu 5 hari. Nyatanya Alyaka ga kepingin minum susu saat kami jalan-jalan di siang harinya, dan susunya habis di hari ke-7. Saran saya menyangkut susu adalah, kalo anak perutnya sensitif terhadap perubahan makanan/ minuman terutama susu, jangan compromise dengan ganti susu di Eropa sini. Karena walaupun sama-sama di Eropa seperti Swedia, French dan Spain, kami susah menemukan NAN Pro di groceries store. Perlu diinget kalo most of the store here close on Sunday! Jadi kebayang saya dan suami setelah kehilangan koper berusaha cari optik yang jual softlense, susu Alyaka, dan beberapa barang lain terpaksa gigit jari karena toko ga pada buka di hari Minggu.
2.  Sebelum berangkat saya browsing dan banyak yang bilang kalo Paris termasuk kota yang ga stroller-friendly. Saya ngerasain sendiri dan emang iya! Trem gitu ga dibikin sejajar dengan platform, jadi bakal susah banget bawa stroller bersama dengan tetek bengeknya. Contohnya juga kalo mau naik Notre Dame, duh byebye mending bawa baby carrier aja karena praktis. Banyak resto juga ga menyediakan baby chair atau sekedar tempat untuk naruh stroller. So compared to Malmo, I must say Paris is nothing about being a child-friendly town.
3. Keep your bag light. Benda-benda yang dibawa dan kemungkinan ga terlalu esensial mending ditinggal di hotel aja deh daripada berat-beratin.
4. Hal yang paling sulit dikompromi adalah membuat anak tetap makan ontime, biar ga rewel dan ga kelaperan di jalan. Jadi kami berdua sebisa mungkin selalu udah makan di jamnya makan Alyaka (12.00, 18.00). Karena ga bisa ditunda itulah kami jadi sering makan di resto terdekat di posisi kami, ga sempat browsing resto yang murah. Jangan kaget ya kalo budget makan untuk sehari di Paris ini bisa sama kaya budget gofood-an satu paket panas McD tiap hari selama sebulan penuh X)
5. If you arent familiar on using public transport, terutama di Eropa sini, jangan males untuk banyakin browsing dan caritahu, jugaa jangan malu nanya. Kami yang terbiasa baca jadwal dan cari rute bus di Swedia aja awalnya bingung banget dan sempet beberapa kali salah kereta atau salah exit. Sekalinya salah exit atau salah jalur bisa jauh muternya, dan kalo udah keluar dari stasiun kita harus bayar lagi dan beli tiket lagi, which ga murah kalo belinya satuan (bukan paket).
6. Banyak tips berlibur ke Paris yang bertebaran di internet, dan ga semuanya satu suara. Ada yang bilang ga perlu beli tiket batobus, ada yang bilang it's a must. Balik lagi kita mesti rajin caritau sebelum berangkat, biar ada bekal saat memutuskan mau kemana/ naik apa. Kami begitu sampai langsung beli tiket untuk masuk museum dan transportasi di Tourist Information di airport, kalau mau yang praktis dan terpercaya mungkin bisa dicoba.
7. If you are a moslem you have to check check check everytime you ordered something on the restaurant. Make sure it has no pork/ ham/bacon.
8. Jadilah brand ambassador yang baik untuk Negaramu, Agamamu dan untuk dirimu sendiri dengan menjadi tertib.  Ga usah parno, Bismillah dan senyumin aja :)