Monday, September 4, 2017

A Dream Comes True - En Route to Paris With Toddler

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah! Setelah sebulan lebih 'mager' nulis perjalanan liburan kami bertiga akhir Juli hingga awal Agustus kemarin, akhirnya terkumpulah niat dan kesempatan ini. Maafkan jeda waktu yang terlalu lama ini yaa...

Mas Hafidz sudah berencana untuk ajak saya dan Alyaka jalan-jalan di Eropa sejak residence permit kami granted. Awalnya Mas Haf dan saya bingung, apakah mau ke destinasi liburan mainstream keliling Eropa atau yang tematik. Setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk budget, kami putuskan untuk liburan di Paris dan kota-kota Andalusia saja. Pertimbangan lain kenapa ke Paris adalah sekalian ketemuan dengan Om Yudi dan Tante Tari. Om Yudi adalah adik dari mendiang ayah mas Haf, dan juga ayah dari Mas Ario Bayu yang menikah dengan Valentine Payen asal Prancis. Pernikahan mereka dilangsungkan awal Juli, tapi karena bertepatan dengan exam preparation Mas Hafidz kami jadi belum bisa datang. Ditundalah kunjungan kami hingga akhir bulan, hehe.

- -



29 Juli 2017
Pagi-pagi sekitar jam 08.00, kami berangkat ke Kastrup Airport, Kopenhagen. Bawaan kami ga banyak, karena mau irit juga jadi ga beli bagasi. Hanya bawa tas ransel, diaper bag, dan koper cabin size juga stroller Coco Latte Alyaka. Perjalanan naik kereta Oresundstȧg memakan waktu sekitar 30 menit. Sampai di airport kami langsung checkin dan saat mau boarding, petugasnya bilang kalo koper saya ga bisa masuk ke cabin karena dimensinya terlalu besar, padahal saat checkin sudah diapprove sama petugasnya untuk dibawa aja. Akhirnya, stroller Alyaka yang sudah diberi limited release tag dan koper saya ditinggal di gate untuk kemudian dimasukkan bagasi oleh petugas, bersama dengan koper beberapa penumpang yang lain. Terbanglah kami ke Paris YEAY!



Bawaan kami. Tentunya yang paling berharga yang lagi cengengesan itu.

Sesampainya di bandara Charles De Gaulle Paris, kami langsung turun dan berniat untuk ambil barang. Sampai di conveyor belt, cuma kelihatan ada stroller Alyaka and no sign of my blue luggage at all. Kesel, ditambah lagi laper, kami lapor ke pihak Air France-nya. Mereka bilang sih kemungkinan ada dua: koper ga ikut terbang ke Paris atau lost somewhere in the airport. Mereka janjiin kalau koper kami akan diantar ke hotel paling lama besok malam, dan kami dapat kompensasi belanja toiletries dsb sekitar EUR 100 per orang, dengan sistem reimburse. Padahal, di dalam koper itu ada make up, baju saya dan baju Alyaka. Rasanya kesel banget karena kalau boleh masuk cabin tadi, maka kami ga mungkin ngalamin yang kaya gini hhu.

Akhirnya setelah saya berhasil menenangkan diri, kami makan di salah satu food stall di dalam CDG. Setelah itu kami naik RER Train ke hotel kami, Hotel De Nemours. Saya sempat mampir ke konter Yves Rocher dulu untuk beli lipstick, bedak dan pembersih wajah :( Kami naik kereta dari CDG, turun di Gare du Nord, ganti kereta nomer 5 jurusan Place d'Italie dan turun di Oberkamf. Dari stasiun metro Oberkamf kami lanjut jalan kaki sekitar 10 menit dan sampai di hotel. Setelah beristirahat sebentar, sekitar jam 07.30 Om Yudi sekeluarga menjemput kami ke hotel untuk makan malam. Ada Om Yudi, Tante Tari, Mba Dianny dan suaminya, Tom. Kami jalan kaki ke Restauran Etiopia ga begitu jauh dari hotel kami. Di sana ternyata sudah ada Elsa, adik ipar Mas Bayu dan ga berapa lama Valentine datang nyusul.



Makan rame-rame 'muluk'. Lauk pauk di atas itu dimakan bersama sejenis crepe basah, yang rasanya sedikit sour. 
Untuk lauknya sendiri kaya rempah - mirip gulai dan rendang lho!

Malam itu seru dan hangat sekali, kami bertukar banyak cerita. Ini kali pertama saya ketemu Om Yudi sekeluarga, dan pertama kali sejak 20-an tahun Mas Hafidz ketemu dengan mereka. Selain obrolan yang hangat, kami juga terkesan dengan hidangan Etiopia yang cara makannya dengan tangan, ramai-ramai di piring yang besar. Ga terasa kami ngobrol ngalor ngidul sampai 3 jam lamanya. Akhirnya kami balik ke hotel sekitar jam 11.00 malam.

✤ -

30 Juli 2017
Karena ga ambil breakfast di hotel, kami sarapan croissant yang dibeli Mas Haf di dekat hotel. Sekitar jam 11.00, kami berangkat ke Louvre dengan kereta. Kami naik dari stasiun Metro Oberkamf, turun di Bastille, ganti kereta dan turun di Palais Royal Musee du Louvre. Sampai di Museum Louvre kami langsung masuk dan makan siang pizza dan roti isi di cafe di dalam komplek museum. Setelah perut kenyang, kami siap menjelajahi museum!
Satu hal yang perlu diperhatiin, Louvre ini gede. Jadi jangan ragu buat pegang map sendiri, dan sewa audio guide biar tahu posisi kita saat itu, histori di balik karya seni dan peta museum secara digital. Kami berdua, sengaja menyiapkan waktu hingga seharian di museum karena tahu bakalan betah di sini. Semacam 'me time' tapi barengan.


Mothers and their children




Setelah hampir seharian di sini, kami jalan ke Eiffel (literally jalan kaki, HA!). Sempet lihat lampunya waktu nyala dan kami duduk-duduk di tamannya lumayan lama. Lalu kami jalan ke Trocadero Square lalu naik kereta dari situ balik ke hotel. Kami naik dari stasiun Metro Trocadero dan turun langsung di Oberkamf. Sempet nyasar dengan posisi hape 2-2nya mati, untungnya ada turis lain baik hati mau bukain google map dan kasih direction balik ke hotel. Sampai hotel ternyata koper udah nyampe, yeay!



✤ -

31 Juli 2017
Hari ketiga di Paris, kami keluar hotel sekitar jam 11.00. Kami naik Metro dan turun di Hotel de Ville. Langsung jalan kaki ke Notre Dame, dan sampai sana ternyata harus ambil antrian untuk bisa naik ke atas menaranya. Kita bisa pilih mau antre jam berapa, akhirnya kami memutuskan untuk ambil antrean jam 15.00. Kami makan siang di restaurant dekat situ, dan setelah itu naik kereta lagi turun di Anvers ke Dali Museum.

Museumnya kecil, tapi termasuk museum yang paling lengkap memajang koleksi Salvador Dali. Ga bisa terlalu lama di Dali Museum, kami langsung balik lagi ke Notre Dame mengejar jam antre, untungnya masih bisa dan ga terlambat.

Setelah menunjukkan tiket antrean, kita naik ke atas dengan tangga yang jumlahnya seitar 380 anak tangga (Yes!) dan setengah jalan menuju ke gift shop. Di sini kita harus nunggu lagi sekitar 5 menit sampai dipersilakan naik lagi ke atas, melalui tangga yang sama. Tangganya sempit dan fan-shaped, jadi mending kalo mau naik lupakan deh pake high heels atau bawa barang berat, karena cuma muat satu orang dan ga bisa nyantai naiknya atau ditungguin sama yang lain. Waktu kami kesini, saya bawa diaper bag dan Alyaka digendong mas Haf dengan i-Angel. Kerasa banget perjuangannya apalagi kami termasuk ga terlalu rutin berolahraga. Namun sesampainya di atas, view Paris dari atas Notre Dame sangat cantik dan totally worth the pain! Kami menghabiskan waktu lumayan lama di atas sini, lalu turun dengan tangga dari sisi lain.



Keluar dari Notre Dame, kami berencana untuk masuk ke Katedralnya, tapi antrean yang super panjang membuat kami urung. Akhirnya cuma duduk-duduk sambil kasih makan merpati dan Alyaka main kejar-kejaran sama burung.


Setelah beberapa saat, kami jalan kaki ke halte Batobus dan menikmati Seine River Cruise dari atas kapal. Kami turun di Champ Elysees dan makan siang di restoran China lalu lanjut jalan kaki ke L'Arc de Triomphe.



Batobus, Seine River Cruise

Monumen ini besar dan amazing banget! Dulu, monumen ini dibuat untuk menghormati mereka yang berjuang saat Revolusi Prancis dan perang-perang Napoleonic. Kita juga bisa naik sampai ke atas monumen, dengan antre di pintu masuk bagian bawah. Tapi saat kami ke sana, ga berapa lama hujan rintik-rintik dan takut Alyaka sakit maka kami putuskan untuk ga naik. Setelah puas melihat-lihat, kami balik ke hotel naik kereta. Sampai hotel kami langsung packing karena besok pagi-pagi mau lanjut naik pesawat ke Barcelona. Malam itu semua tidur super pulas karena kecapekan haha!



✤ -

My Notes About Traveling to Paris, especially with Toddler

1. Alyaka sudah ga lagi minum ASI saat kami berlibur. Maka, saya bawa satu pack susu NAN Pro 4 nya yang kira-kira habis dalam waktu 5 hari. Nyatanya Alyaka ga kepingin minum susu saat kami jalan-jalan di siang harinya, dan susunya habis di hari ke-7. Saran saya menyangkut susu adalah, kalo anak perutnya sensitif terhadap perubahan makanan/ minuman terutama susu, jangan compromise dengan ganti susu di Eropa sini. Karena walaupun sama-sama di Eropa seperti Swedia, French dan Spain, kami susah menemukan NAN Pro di groceries store. Perlu diinget kalo most of the store here close on Sunday! Jadi kebayang saya dan suami setelah kehilangan koper berusaha cari optik yang jual softlense, susu Alyaka, dan beberapa barang lain terpaksa gigit jari karena toko ga pada buka di hari Minggu.
2.  Sebelum berangkat saya browsing dan banyak yang bilang kalo Paris termasuk kota yang ga stroller-friendly. Saya ngerasain sendiri dan emang iya! Trem gitu ga dibikin sejajar dengan platform, jadi bakal susah banget bawa stroller bersama dengan tetek bengeknya. Contohnya juga kalo mau naik Notre Dame, duh byebye mending bawa baby carrier aja karena praktis. Banyak resto juga ga menyediakan baby chair atau sekedar tempat untuk naruh stroller. So compared to Malmo, I must say Paris is nothing about being a child-friendly town.
3. Keep your bag light. Benda-benda yang dibawa dan kemungkinan ga terlalu esensial mending ditinggal di hotel aja deh daripada berat-beratin.
4. Hal yang paling sulit dikompromi adalah membuat anak tetap makan ontime, biar ga rewel dan ga kelaperan di jalan. Jadi kami berdua sebisa mungkin selalu udah makan di jamnya makan Alyaka (12.00, 18.00). Karena ga bisa ditunda itulah kami jadi sering makan di resto terdekat di posisi kami, ga sempat browsing resto yang murah. Jangan kaget ya kalo budget makan untuk sehari di Paris ini bisa sama kaya budget gofood-an satu paket panas McD tiap hari selama sebulan penuh X)
5. If you arent familiar on using public transport, terutama di Eropa sini, jangan males untuk banyakin browsing dan caritahu, jugaa jangan malu nanya. Kami yang terbiasa baca jadwal dan cari rute bus di Swedia aja awalnya bingung banget dan sempet beberapa kali salah kereta atau salah exit. Sekalinya salah exit atau salah jalur bisa jauh muternya, dan kalo udah keluar dari stasiun kita harus bayar lagi dan beli tiket lagi, which ga murah kalo belinya satuan (bukan paket).
6. Banyak tips berlibur ke Paris yang bertebaran di internet, dan ga semuanya satu suara. Ada yang bilang ga perlu beli tiket batobus, ada yang bilang it's a must. Balik lagi kita mesti rajin caritau sebelum berangkat, biar ada bekal saat memutuskan mau kemana/ naik apa. Kami begitu sampai langsung beli tiket untuk masuk museum dan transportasi di Tourist Information di airport, kalau mau yang praktis dan terpercaya mungkin bisa dicoba.
7. If you are a moslem you have to check check check everytime you ordered something on the restaurant. Make sure it has no pork/ ham/bacon.
8. Jadilah brand ambassador yang baik untuk Negaramu, Agamamu dan untuk dirimu sendiri dengan menjadi tertib.  Ga usah parno, Bismillah dan senyumin aja :)

No comments:

Post a Comment