Wednesday, October 25, 2017

Berkunjung ke Kota Kembar: Helsingborg - Helsingør



Monochromatic view di depan Musee for Søfart, Denmark.

Mingu terakhir di Swedia :( Rasanya duh... Ga bisa digambarkan dengan kata-kata. Saya ngerasa lebih romantis urusan apapun. Saat belanja, saya pandang-pandangi semua sudut. Pulang Alya sekolah, saya perhatiin tiap sudut jalan. Kok mellow banget ya. 

H-5 kepulangan, kami sekeluarga memutuskan untuk jalan-jalan ke kota kembar, Helsingborg dan Helsingør. Kalau lihat di peta, dua kota ini emang deket banget, lebih deket malahan daripada Malmö-Copenhagen yang terhitung deket juga naik Oresundstag cuma 20 menit-an.



Pagi itu kami langsung cus ke Helsingborg naik kereta. Kira-kira satu jam perjalanan, kami sampai di Helsingborg. Kami lalu jalan-jalan sebentar di sekitar stasiun, lalu ngikutin google maps jalan ke Museum of Failures. Tenyata oh ternyata, seperti farewell trip kami yang sudah-sudah, museum of failurenya lagi ga buka. Alias tutup. Haha. Yaudah kami langsung jalan ke Dunker Culture House sekitar 20 menit. Di tengah jalan, saya nemu toko perlengkapan weaving yang lengkap banget! Yarns yang mereka punya koleksinya banyak, dengan warna bermacem-macem. Surga buat pecinta weaving/ knitting. Saya menghabiskan sekitar 20 menit di dalem toko, while Mas Haf dan Alyaka di luar. Ga ketinggalan saya beli benang gradasi dan warna beige yang terhitung murah daripada beli di Panduro Hobby atau semacamnya.

Kami ga menghabiskan banyak waktu di Dunker Culture House, langsung jalan ke Kärnan Tower. Daaaan... TUTUP. Padahal kemarennya buka. Kemaren waktu di Ystad, mereka ga buka pas weekend. Sekarang di Helsingborg, mereka bukanya pas weekend. Duuuh. Bener-bener ga direstui semesta buat jalan-jalan sebelum berpisah sama Sverige. Haha. Yaudah kami ga nyesel juga orang ini perjalanan impromtu dan santai aja, kami cuma foto-foto sebentar di Tower dan di taman sekitar situ.



Ayah dan Alyaka di atas tower dengan view Helsingborg di belakang.



Selesai dari Kärnan, kami makan siang di resto Thailand dekat square, lalu langsung balik ke stasiun untuk naik Ferry ke Helsingør. Kami naik ferry Scandlines, yang emang jadi ferry service Helsingborg-Helsingør. Perjalanan ga memakan waktu lama hanya sekitar 25 menit, lalu kami sampai di Helsingør.

Setelah sampai di Helsingør, atau Elsinore, kami langsung menuju The M/S Maritime Museum of Denmark atau Musee for Søfart. Seperti namanya, museum ini berisi semuanya tentang maritim, dari jaman dulu sampai sekarang yang modern. Dan ternyata, museum ini berkali-kali menang award Internasional, lho, seperti '2014 World's Greatest New Museum in the World' dari BBC, dll. Kalau mau lihat websitenya bisa klik disini.


Setelah menghabiskan sekitar satu jam di museum yang ga kerasa banget kenapa tiba-tiba udah sejam aja, kami pulang. Sampai di luar, ternyata udah hujan deres dan karena di pinggir pantai maka anginnya kerasa tambah ga santai! Alyaka yang tidur di stroller harus kami kasih selimut, dan rain cover untuk strollernya pun sampai hampir terbang kena angin. Untuk jalan aja susah karena sampai merem-merem ngehindarin air ujan dan angin. Setengah perjalanan jalan kaki ke stasiun Alyaka bangun dan nangis kenceng banget, mungkin kaget karena tau-tau chaos gitu. Pokoknya bikin panik haha.

Sampai stasiun kami langsung naik ferry lagi untuk nyebrang ke Helsingborg. Ohiya jangan lupa bawa passport ya, karena kalo dari Swedia ke Denmark emang ga ada passport control, tapi dari Denmark ke Swedia selalu ada maka kita wajib banget bawa passport.

Sampai di stasiun di Helsingborg kami makan malam di McD, lalu pulang kembali ke Malmö. Sampai Malmö sekitar jam 21.00. Selesai juga perjalanan kami mengunjungi si kota kembar hari ini.

Still, I must say, See you again someday. 


Sunday, October 22, 2017

Next Farewell Trip: Trelleborg




Masih dalam edisi jalan-jalan di bulan terakhir muterin Skȧne, sebagai penggemar serial Viking di History rasanya saya wajib untuk dateng lihat Viking Fortress di negara asal mereka ini. Dan lagi-lagi, karena ga merencanakan perjalanan saat musim liburan, banyak Viking Village yang tutup di awal musim gugur ini. Salah satunya yang tetap buka adalah Trelleborgen di Trelleborg.

"Borg" atau dibaca boryi, adalah Bahasa Swedia untuk kastil/ castle. Jadi setiap kota yang berakhiran 'borg' sudah tentu memiliki kastil. Nah, kastil di Trelleborg ini adalah peninggalan King Harald Blȧtand atau Bluetooth di sekitar tahun 980 M. King Harald berinisiatif untuk membangun fortress ini untuk menghormati mendiang orangtuanya.

Dan ternyata, teknologi "Bluetooth" itu diambil dari nama Raja Harald ini, lho.

Di dalam museumnya, lengkap sekali membahas tentang sejarah pembangunan kastil Trelleborgen. Di sini juga terdapat properti asli yang bisa kita buat foto-foto. Saya sempet cobain topi dari bulu rubah dan pake fox fur biar kaya Medieval Viking Girl, LOL


Suami juga sempet cobain pake armor, yang ternyata berat banget! Proses makenya aja perlu saya bantu dan ribet taampun. Alyaka, yang tidur sejak kami sempai di Trelleborg, masi pules aja tidur di stroller padahal orangtuanya udah heboh nyobain properti foto dan ribet ngatur kamera supaya pas angel dan ngeset timernya. Haha. Fyi selama 30 menit kami sekeluarga jadi satu-satunya pengunjung di sana jadi bebas banget mau ngapain aja. Setelah setengah jam datang pengunjung lain yang 'memaksa' kami untuk jadi lebih kalem :D


Selesai dari Trelleborgen, kami jalan-jalan ke Trelleborg Old Water Tower. Di sana juga ada Trelleborg museum, yang sayangnya ga bisa kami kunjungi karena tinggal setengah jam sampai museumnya tutup saat kami tiba. Akhirnya cuma lihat-lihat di sekitar sana aja.


Kami ga bisa berlama-lama di Trelleborg karena ada janji farewell dinner di apartemen Peppy, teman kami orang Indonesia yang kerja di Malmö. Sekitar jam 16.00, kami pulang ke Malmö naik kereta lagi. Sore itu hujan, bikin tambah mellow mengingat seminggu lagi kami harus meninggalkan Swedia...

Sunday, October 15, 2017

To Follow or To Inspire



Daun-daun udah mulai menguning memasuki musim gugur. Foto diambil di depan Stadsbibliotek Malmo.

Apa reaksi pertama kalian semisal ada seseorang meniru, mengikuti, menjiplak gaya/ suatu hal yang kalian buat dengan proses panjang?

Marah? Kesal? Biasa aja?

Mungkin itu reaksi yang paling banyak muncul saat pertanyaan semacam itu ditanyakan ke kita, ya. Sebenernya ga perlu terlalu marah, karena kata orang bijak, there's nothing new under the sun. Austin Kleon pun bilang semua artis besar itu cuma 'pencuri' dari artis besar lain, di bukunya yang berjudul "How to Steal Like an Artist". Pun ide original udah jarang yang muncul, beberapa cuma modifikasi dari ide sebelumnya yang dimiliki orang lain, atau penyesuaian dari ide lama mereka yang lebih relevan sama jaman sekarang.



Salah satu sudut di Kungsparken, Malmo.

Beberapa saat yang lalu bisa dibilang saya sangat kaget melihat seseorang meniru cara saya melakukan suatu hal. Sesuatu hal ini bukannya hal jamak dilakukan orang ya, tapi saya sendiri dulu juga struggle menemukan ciri khas dan style saya dan menseriusi hobi ini sehingga jadilah 'gaya yang Tania banget' buat saya. Berkali-kali saya ganti template, dari 2009 saya mulai, dan udah bermacam format saya coba sampai akhirnya saya yakin dengan 'tampilan' yang sekarang dan berniat untuk konsisten di situ. Mengingat kami punya histori hubungan yang baik, saya mencoba berbaik sangka. Sebenernya bukan sekali ini aja hal tiru-tiru ini terjadi, di beberapa hal lain juga pernah, tapi kali ini saya ingin sekali tahu kenapa beliau melakukan itu (lagi). 

Ada beberapa alasan kenapa orang melakukan suatu hal yang mirip dengan orang lain. Satu, buat mereka itu bagus dan mereka mau coba karena terinspirasi. Dua, buat mereka itu bagus dan mereka mau coba karena pengen ikut-ikut aja dan berharap reaksi sama dari orang lain. Ada perbedaan mendasar antara 'mengikuti' dan 'terinspirasi'. Pihak yang satu berusaha lebih keras untuk menemukan gaya sendiri dan pihak yang lain ga mau keluarin effort lebih buat punya ciri khas karena mungkin mereka juga masih di tengah kebingungan mencari jati diri, tsailah. Dan kebanyakan mereka ga sadar kalo menjiplak karena hal itu udah sering mereka lakukan: mencari inspirator, terilhami, dan meng-copy mentah-mentah. Iya, kebanyakan ga sadar.

Sepanjang hal yang diikuti itu masih baik, pasti yang diikuti bakal merasa senang. Tapi kalo udah merembet ke hasil pemikiran, hasil kerja keras, hasil brainstorming sama orang lain, terus dijiplak ketiplek tanpa modifikasi, tanpa babibu ga ngomong apa-apa terus dicredit jadi hasil pemikiran dia sendiri, pasti lah ada satu dua hal yang ganjel dari orang yang diikuti.

Tapi dari kasus ini saya malah jadi sadar, bahwa resiko itu bakal selalu ada dan kita ga bisa kontrol orang lain buat ga melakukan itu. Sekali lagi, siapa tau style kita juga influenced dari orang lain kan?!



Beberapa saat setelah saya ngomong dengan beliau, saya pun menyadari sesuatu kalo ternyata, setelah ngerasa kaya kecolongan gitu, saya malah lebih semangat lagi melakukan dan memperbaiki hal yang saya sukai itu. Saya jadi lebih (pengen) rajin, pengen konsisten, dan pengen setidaknya membuktikan kalo saya ngelakuin ini dengan serius. Dan hasilnya adalah, yaaa walaupun masih dikit-dikit tapi ada progress lah. Pertamanya impulsif menggebu-gebu, tapi kali ini lebih slow down perlahan... Tapi keinginan untuk menunjukkan kalo saya serius dan baik di bidang ini selalu ada, dan jadi semangat kalo saya mulai kendor.

Ternyata, ga selalu butuh orang yang menginspirasi ya untuk bikin kita 'up our games'. Punya orang yang terinspirasi sama kita (atau copycat?!) juga bikin kita makin semangat, makin pengen jadi lebih baik, and up in the games.

Apapun itu, kalau masih dalam jalur kebaikan, jangan ragu buat berlomba-lomba. Ga bakal ada yang namanya kalah apa menang, karena bukan kompetisi. Dan semoga makin banyak orang yang ngasih inspirasi baik ke orang lain, sehingga makin banyak orang yang berbuat baik. Aamiin.

Monday, October 9, 2017

A Weekend at Ystad



Memasuki minggu-minggu terakhir kuliah masuami, beliau jadi jarang ada di rumah. Kalau ga ke kampus, ke asrama, atau ke coffee shop ngerjain tugas atau hal lain yang memerlukan konsentrasi tinggi karena pasti susah kalau di rumah. Apartemen kami studio, dan ga ada kamar untuk dia kerja atau belajar sendiri. Dan setiap Ayahnya di rumah, Alyaka selalu kepo pengen manja-manjaan dan needy. Akhirnya kami putuskan kalau suami enakan di rumah setelah errands nya kelar, which berujung pada cuma ketemu malem hari aja, haha.

Minggu lalu, tiba-tiba saya pengen ke Ales Stenar di Ystad. Saya masak bestik sapi pagi itu untuk bekal berangkat, lalu siap-siapin semua kebutuhan Alyaka untuk pergi seharian. Satu jam setelah saya tiba-tiba kepengen berangkat, kami udah di stasiun Triangeln dan beli tiket ke Ystad, woo-hoo!



Tips ngirit 01: Pastikan perut kenyang dengan bawa bekal dari rumah yang bisa disantap di kereta.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih sejam, sampai Ystad kami turun karena stasiun pemberhentian terakhir, lalu... 

Krik Krik. 

Ga ada bus ke Ales Stenar di hari Minggu itu. Oke, cari tujuan lain di Ystad, oh ada ni Djurpark Zoo. 

Krik Krik.

Ga ada juga bus ke sana untuk hari Minggu itu. Ternyata eh ternyata di off season seperti ini, bus pas weekend ga ada yang menuju tempat wisata, ha! Ini semua karena planning yang serba mendadak dan impulsif aja... Jadi inget pepatah 'If you failed to plan, you plan to failed'. BENER BANGET.

Tapi marilah menikmati weekend dengan santai dan tanpa beban (apasih?!). Di depan stasiun ternyata ada Ystad Touristbyra, atau kaya pusat informasi buat turis gitu. Kami cari-cari informasi dan memutuskan buat pergi ke museum cinematic, Ystad Abbey dan having fika di cafe pinggir laut.


Perjalanan ke Cineteket Film Museum memakan waktu cuma 10 menit, naik bus no.2 jurusan Regementet. Dan ternyata sesampainya di museum itu...

Krik krik.

Museumnya udah tutup per Oktober 2017, which baru seminggu yang lalu. HA! Saya dan masuami sampe geleng-geleng. Sverige kaya ga rela ada yang mau farewell trip, atau karena semesta ga mendukung, jadinya perjalanan kami ini banyak zonk-nya. Mungkin biar suatu saat beneran bisa balik ke sini lagi, Aamiin...

Akhirnya kami cuma jalan-jalan ke Ystad Greyfiars Abbey aja. Kami cuma jalan-jalan muterin kota tua kecil itu dan ga masuk ke dalam museum/ monastery nya. Sempet lihat bebek berenang-renang di sore yang syahdu itu.


Overall, memang ga banyak yang bisa dilihat atau dikunjungi di Ystad kalau ga lagi summer. Tapi, kota ini ambiancenya beda banget sama kota besar lain. Tenang, kalem, dan cocok banget buat yang ga suka sama keramaian. 

I really wish I can go back here one day. Aamiin.