Thursday, November 16, 2017

Swedish Things I Still Want to Continue Doing in Indonesia





Hi! Sorry for the long absence! Alhamdulillah awal bulan November kemaren kami sekeluarga sampai di Indonesia dengan selamat... Perjalanan dan persiapan pulang kemaren akan saya ceritakan dalam postingan terpisah, Insyaa Allah.

Setelah lebih dari 2 minggu di rumah, saya mulai merindukan Malmö. Lebay sii, tapi bener lho saya ngerasain itu hha. Sebelum pulang, saya sempat cerita-cerita sama ibu-ibu Indonesia di Malmö, yaitu Mba Ikma dan Mba Rida, tentang kebiasaan baik di sana yang tetap ingin kami lakukan di Indonesia. Di bawah ini hasil bincang-bincang kami sore itu, dan beberapa poin tambahan dari saya.


  • Belanja seperlunya, bawa tas belanjaan sendiri, dan mengurangi kantong plastik


Beberapa retail belanja di Indonesia sudah mulai menerapkan ini, kan. Tapi masih banyak yang belum disiplin menagih Rp200,- untuk setiap kantong belanjaan, padahal peraturannya udah keluar hampir 2 tahun yang lalu. Nah, membiasakan bawa kantong belanja sendiri menurut saya sangat baik untuk mengurangi penggunaan plastik. Di Swedia dan beberapa negara Eropa yang kami kunjungi saat traveling, disiplin sekali dalam penggunaan kantong plastik ini. Ga cuma di groceries store, tapi juga di toko baju/ kosmetik. Mereka selalu tanya "Do you need a bag?" sebelum memasukkan belanjaan kita ke kantong plastik. Jadi, lebih prefer untuk masukin belanjaan ke handbag kita sendiri. Kalau butuh kantong plastik mereka selalu charge sekitar Rp3000 setiap tasnya. Mahal kan ya? tapi efektif banget untuk bikin orang sadar. Saat di Swiss bahkan mereka ga nawarin kantung belanjaan sama sekali. Saat itu, saya yang beli susu Alyaka di apoteket sempet nanya "Do you have a bag?" dan kasirnya, seorang wanita paruh baya, malah bilang "Honey, you should bring it yourself because we don't have it", NAH LOH! Jadilah terpaksa saya bawa-bawa susu, diaper dan minyak telon pake dua tangan, haha. Kalau sedang bawa stroller, saya sering mengalihfungsikan bagian bawahnya sebagai trolley belanjaan. Jadi setiap belanja mingguan, saya taruh barang yang berat seperti susu, gula, telur di bagian bawah stroller dan barang ringan seperti sayur-sayuran di kotak handle-nya. Dan itu jamak sekali dilakukan orangtua di Swedia.
Satu lagi, saya baru ngeh kalo customer di Indonesia tu bener-bener treated like a King/ Queen. Tiap belanja, kasir selalu multitasking ngescan sambil masukin ke kantong, kan? Di sini boro-boro, kasir cuma scan dan menerima pembayaran. Barang yang udah discan harus kita sendiri yang masukin ke tas/ stroller/ trolley belanja pribadi. Bener-bener efektif dan efisien (buat mereka :p).


  • Lebih sering jalan kemana-mana semisal masih dalam walking distance


Sehari di Indonesia, saat masih jetlag dan bangun sore, saya, suami dan Alyaka pengen muter-muter Solo jalan kaki. Rute kami saat itu keluar Laweyan, lalu ke Sriwedari makan Sate Kambing Pak Manto yang telah dirindukan itu, terus ke toko majalah ABC di Gladag, muter Superindo, dan pulang ke rumah naik becak. Capek? Iya pasti, bukan karena jauh, tapi karena sulit jadi pedestrian di sini. Trotoar buat parkir motor, kadang jalan gede trotoarnya buat pedagang kaki lima. Alhasil kami jalan di jalan raya, yang ga aman sama sekali juga. Tapi itu juga berarti, kita masih bisa jalan kaki di kota ini, lho. Meskipun kalau pas panas ya bisa jadi pepes juga.


  • Naik transportasi publik


Setelah away selama 6 bulan, mobil saya otomatis jarang dipake dan diservis. Akhirnya saya masukin ke bengkel. Pas mikir mau pulang ke rumah naik apa, saya memutuskan buat naik bus! Dan sebenernya seru sih, hemat juga, hanya dengan Rp2000,- saya bisa naik dari penumping ke Laweyan. Jangan dibayangin busnya berhenti di halte ya, bis seperti NUSA gitu-gitu berhenti by demand. Haha. Dan saya tekad banget kalo masih ada public transport untuk ke tempat tujuan saat ga bawa barang banyak/ ribet, I will definitely use it.




  • Tertib antre, sabar menunggu lampu lalu-lintas, Ngalah ke pejalan kaki/ pegowes sepeda



Budaya antre di Indonesia ni sepertinya masih susah sekali ya ditemukan sehari-hari. Orang seperti takut ga dapet jatah/ susah kalo ga duluan. Kenapa ya? Saya keinget kepala sekolah ESMOD saya, seorang Prancis, posting di facebook beliau tentang betapa lucunya orang kita buru-buru berdiri dan menenggelamkan diri berdesak-desakan saat mau turun dari pesawat. Kaya bakal ditinggal aja, lho?! Seminggu di Indonesia kemaren, kami juga datang ke acara nikahan teman SMP saya, putri Presiden RI saat ini. Dan lucunya, semua orang tampak ga sabar mau masuk sampe aksi dorong-dorongan pun terjadi. Ga peduli orangtua, bawa anak, semua sama rata kena dorong. Padahal, kalo mau tertib, proses masuk pasti kan lebih rapi dan otomatis lebih cepet. Namanya juga nikahan anak presiden, pengamanan kan perlu ekstra. Body check, invitation check, semua perlu dicek. Huff.
Ga cuma antre, di jalan raya pun kita sering nemu pengemudi yang ga sabaran. Lampu belom hijau udah ngegas, ga mau ngalah sama yang lagi belok, dsb. Di Swedia, hierarki penguasa jalan dimulai dari pesepeda. Karena apa? Ngeremnya ribet, lol. Yang kedua pejalan kaki, dan yang ketiga kendaraan bermotor. Jadi, mobil/ motor harus ngalah ke pejalan kaki yang harus ngalah ke pesepeda. Semua orang tertib sekali, karena semua serba ter-record. Saya diceritain sama Mba Nana, Diaspora Indonesia yang tinggal di Sjöbo, bahwa kalau ketauan melanggar lalu lintas/ ga ngalah sama pejalan kaki, bisa-bisa akhir bulan ada tagihan denda yang dikirim ke rumah! Ga cuma denda, mereka melampirkan bukti pelanggaran berupa foto dari surveillance camera di jalan raya. Betapa efektifnya single ID, hanya dengan identifikasi plat nomer, kelakuan kita di ruang publik bener-bener harus dipertanggungjawabkan. Di Indonesia, single ID masih jadi angan-angan. e-KTP aja dikorupsi. Tersangkanya licin banget kaya belut haha...



  • Ke taman/ museum/ berkunjung silaturahim instead of pergi ke Mall

Pengeluaran bulanan saya di Swedia, meskipun semua serba mahal, jauh lebih sedikit daripada pengeluaran saya di Indonesia. Setelah saya pikir-pikir, saya tu boros banget beli barang yang ga saya butuhkan kalo pergi ke Mall. Sampe sana, window shopping bisa berujung purchasing, karena barang yang ga dibutuhkan tiba-tiba harus dipunyai. Jadilah sekarang saya kepingin banget ngurangi kunjungan ke mall kalo ga butuh-butuh banget. 
Dan unuk mengisi weekend, saya pengen ngelanjutin kebiasaan baik di sana, yaitu dengan mengunjungi museum, taman, atau berkunjung ke rumah sahabat. Selain lebih murah, juga sarat manfaat. Semoga bisa, Aamiin.



  • Bawa botol minum sendiri dan tempat makan untuk bungkus makanan saat di resto


Kebiasaan bawa botol minum di Swedia, dimulai dari mahalnya sebotol still water/ mineral water di sana. Padahal, air keran saja bisa di minum kalau di rumah. Jadi saya sering kemana-mana bawa botol minum sendiri. Tempat makan/ kontainer makan juga sebaiknya dibawa agar saat kita makan di resto, kita bisa pakai tempat makan sendiri untuk bungkus. Mengurangi penggunaan styreofoam juga, kan.


  • Lebih banyak makan homemade, spend more time masak sendiri


Yang ini juga kepingin sekali saya lanjutkan! Meskipun order makanan serba dimudahkan dengan go-food, kalau ada waktu saya pengen mengutamakan masak sendiri. Bahan-bahan kita olah sendiri, pakai apa aja kita tahu, dan bisa diadjust sesuai kebutuhan. 


  • Menghormati orang lain dengan mengurangi pertanyaan pribadi


Hidup dengan banyak teman dari banyak negara, membuat saya jadi terbiasa ga nanya pertanyaan pribadi ke mereka, karena itu ga sopan. Simply because it's none of our business. Kenapa ga shalat Jumat, padahal muslim? Kenapa lebih sering tidur di kamar pacarnya? Kenapa ga ikut Shalat Ied? Ko ga puasa sih? Anaknya ASI, ga? Ko anaknya kurus, sih? Kursi di bus banyak yang kosong ko duduknya pangku, LOL. Kecuali mereka sendiri yang cerita, atau kami deket banget, atau berpotensi mengganggu kehidupan kita atau kehidupannya, saya membiasakan diri untuk ga tanya. Bahkan di Swedia, bilang "Oh anaknya kecil ya padahal udah 20 bulan" itu ga sopan. Kadang kalo mereka tanya Alyaka berapa bulan dan saya jawab tjugo monader (20 bulan), saya nangkep sebersit pandangan "Lah kecil ya", terus mereka biasanya melanjutkan dengan basa basi "Aah she's so cute". Biasanya saya terus cerita sendiri, gimana Alyaka kalau BB-nya diukur pake chart Sweden emang di bawah rata-rata, tapi normal kalo di chart Indonesia. Dan small talk gini biasanya berlanjut ke sharing lain yang bermanfaat dan hangat.


  • Menjual/ beli barang second


Ekologisk, eco-friendly, sustainability, itu jadi cara hidup yang diterapkan di keseharian hidup orang Swedia. Menjual dan membeli barang second mengurangi jumlah carbon footprints secara signifikan. Makanya, toko-toko secondhand seperti Emmaus, pasar Minggu Drottning, itu selalu ramai orang. Reduce, Reuse, Recycle ga cuma jadi teori tapi bener-bener diterapkan. Di Indonesia, saya harap garage sale atau secondhand stuff itu bakal lebih banyak, masih baik, dan lebih bagus. Kalau butuh sesuatu, bisa cek dulu barang preloved dari orang lain. Pastikan kualitasnya masih baik.


  • Merapikan meja makan saat makan di luar


Di negara berkembang, merapikan meja dan mengembalikan tray makan saat di resto/ foodcourt masih sangat jarang ditemui, ya. Di negara maju, selesai makan kita merapikan sendiri meja bekas kita gunakan dan mengembalikan piring, gelas, cutlery di dalam tray makan ke tray box yang bentuknya bersusun, biasanya ada di pojok restoran. Nah, saya ingin melanjutkan melakukan ini di Indonesia. Sempet berpikir kalau buat apa, kan ada waiter yang emang udah dibayar buat melakukan itu. Tapi, menjadi rapi dan hidup efisien harus selalu dimulai dari hal kecil, kan?

Friday, November 3, 2017

24+ Jam di Amsterdam


Akhirnyaa... hari yang (tak) ditunggu-tunggu pun tiba. 29 Oktober pagi, kami sekeluarga harus 'pergi' dari Swedia. Dianter banyak temen, Alhamdulillah, kami berangkat dari Malmö jam 7 pagi menuju Copenhagen. Pagi itu, ada Mba Rida, Aiman, Nay, Mba Nur yang sudah standby di rumah. Lalu ga berapa lama ada teman-teman S18 WMU Indonesia yaitu Mas Bas, Mas Roland, Mas Baso, Tri, dan ga sebelum kami keluar apartemen ada Pratichi, teman Mas Haf dari India, Mba Ikma dan Mas Chicco. Rasa haru jelas ga bisa ditutupi, tapi karena pengen bikin perpisahan yang ga bombay-bombay banget saya nahan untuk ga nangis. Eh malah Alyaka yang gatau kenapa nangis, ga mau saya pegang -cuma mau sama Mba Ikma aja- dan bener-bener kaya orang sedih. Tau kali ya dek mau pisah sama Malmö? hhu. Rencananya saya mau nulis lagi tentang perpisahan saya dengan Malmo, di postingan sendiri Insyaa Allah.

- -

29 Oktober 2017
Karena bawa barang banyak dan cuma naik kereta maka kami dibantu Mas Bas dan Mas Roland sampai ke bandara. Kami sempat salah kereta (duh) untung aja ga berapa lama sadar dan langsung pindah ke kereta yang bener. Sampai Copenhagen saya sempet mau tax refund tapi karena ga keburu jadi batal. Dan jam 12.05 kami berangkat ke Amsterdam.


Jadi rencananya emang kami mau jalan-jalan dulu di Eropa sebelum residence permit expired. Dan karena masih ada waktu dua hari maka kami  putuskan untuk ke Belanda aja karena ada direct flight dari Amsterdam ke Jakarta.

Sampai di Schiphol kami makan siang dulu lalu keluar nunggu shuttle bus Ibis Budget Schiphol yang ga dateng-dateng. Ternyata lagi ada kecelakaan jadi macet banget. Akhirnya kami putuskan untuk naik taksi (duh). Ga berapa lama kami sampai di hotel dan langsung istirahat.

Malamnya, Alyaka sempet panas, tapi kami belum makan malem. Akhirnya kami pakein Alyaka baju berlapis-lapis dan keluar jalan kaki ke shuttle bus terdekat. Ternyata ga jauh cuma jalan kaki 5 menit lalu kami naik bus jurusan Leidseplein dan pergi ke the Pantry, resto yang khusus nyediain makanan khas Belanda. Sampe sana ternyata udah fully booked, akhirnya kami pilih makan steak di resto Argentina ga jauh dari sana.


Abis makan kami sempet jalan-jalan malam sebentar, lalu pulang ke hotel lagi. Malam itu Alyaka panasnya sempet tinggi, tapi untung karena bawa Beauty Barn Fever Down + Young Living Thieves, paginya demam Alya udah ilang.


- -

30 Oktober 2017
Paginya kami bangun dan breakfast di hotel. Sempet ga jadi pergi mengingat Alyaka barusan sembuh, tapi akhirnya kami putuskan buat jalan santai aja. Kami naik shuttle bus ke Schiphol lalu naik kereta ke Amsterdam Centralstation. 


Sampai sana, saya langsung cari Patat Manekenpis yang udah direkomendasiin sama Rachel, temen saya yang pernah tinggal di Groningen. Ga jauh dari Centralstation sekitar 400 m ke arah Dam Square di kanan jalan. Porsinya gede banget dan pilihan sausnya banyak!


Selesai jajan patat, kami menuju Dam Square. Di sana cuma lihat-lihat dari luar aja ada Museum Madam Tussauds, dan National Monument yang dibangun untuk mengenang korban perang dunia ke-2. 


Dari Dam square, kami kembali lagi ke Central station dan balik ke Schiphol dan naik taksi ke hotel. Semua koper dan stroller langsung diangkut dan kami menuju Schiphol lagi untuk flight selanjutnya ke Jakarta. Penerbangan kami jam 15.45 dan sampai di Jakarta jam 11.20 pagi keesokan harinya...

Bye, Europe. It was a nice good bye. And see you soon someday :)

Thursday, November 2, 2017

Last Days in Malmö

Mendekati waktu kepulangan kami ke Indonesia, perasaan makin campur aduk. Ga bisa dijelaskan dengan kata-kata deh pokoknya.

Nah, suami sempet nanya ke saya mau ngapain di hari-hari terakhir di Swedia. Saya cuma minta satu: Dia ngeluangin waktu ikut aktivitas saya dan Alyaka sehari-hari! Jadilah mas Hafidz nyediain satu waktu full untuk nemenin kami dari pagi sampai malam. Ga boleh ngurusin kampus atau lain-lain, hehe.

Kami mulai dengan pergi ke sekolah Alyaka. Selama di Swedia, Alyaka sekolah di Öppna Forskola atau open school yang buka dari Senin sampai Jumat. Nah, disini ga kaya sekolah beneran yang serius gitu, cuma tempat bermain dimana orangtua wajib nemenin. Dan jam belajarnya bebas sesuai jam operasional kita bisa dateng dan pergi. Biasanya tiap hari-hari tertentu ada acara menyanyi bersama, dansa, atau teater.



Hari itu kami sekalian mau 'pamit' sama Cristina dan Ingrid, guru Alya di Barnens Hus Malmö. Sayangnya, Cristina lagi cuti jadinya kami cuma sempet ketemu sama Ingrid. Di peta dunia, Ingrid minta dijelasin sama Mas Haf dimana letak negara kami, dan dia amaze banget kami sampai harus melewati perjalanan sejauh itu untuk sekolah :D

Selesai sekolah, kami pergi ke Stadsbiblioteket atau Perpustakaan umum kota Malmö. Di perpustakaan memang ada section khusus anak-anak yang dinamakan 'Kanini', dimana banyak banget tersedia buku-buku untuk bayi 0-36 bulan dan yang lebih tua dalam berbagai bahasa. Kami sempet menghabiskan beberapa jam di perpustakaan.



Setelah dari perpustakaan, kami fika siang/sore di Kallbadhus, di tengah laut. View di senja itu bikin tambah mellow...



Selesai makan malam, kami pulang karena udah ada janji untuk dinner bareng keluarga Zarina dan Anwar, tetangga kami satu apartement. Zarina baru melahirkan putri pertamanya saat kami liburan ke Paris, dan baru kali ini sempat host kami sekeluarga di kamar mereka. Malam itu kami ngobrol banyak dan berakhir dengan pamitan juga.

Ga lama hp Mas Haf bunyi dan kami diminta untuk ke kamar Yasser & Marwa, tetangga kami satu apartemen juga. Di sana kami disuguhi dinner (lagi!) dan bincang-bincang sampai larut malam. Keluarga Yasser sudah seperti sodara sendiri buat kami. Kami saling menitipkan anak. Marwa juga yang pertama kali ngajakin saya keliling Malmö, berenang, dan pergi ke tempat-tempat yang ramah anak. Marwa juga yang ngajarin saya masak, bertukar tips parenting, dan beli perintilan bayi bersama. Sungguh rasanya pasti bakal kangen banget sama mereka dan keempat anak mereka: Ammar, Ommar, Annas dan Aboody.

Keesokan harinya, kami seharian beresin apartemen dan final packing dibantu teman-teman S18 WMU dari Indonesia. Malamnya, Tetangga satu apartemen kami membuat farewell BBQ untuk kami. Terharu banget :') Kami sekeluarga, Yasser sekeluarga, Zeeshan sekeluarga dan Otto menghabiskan waktu untuk ngobrol, minum teh hangat, BBQ-an dan lain-lain. Dan hari itu diakhiri dengan perpisahan yang hangat: saling mendoakan yang terbaik dan janji untuk ketemu lagi suatu saat Insyaa Allah.

Semoga :)