Tuesday, July 17, 2018

REVIEW BUKU - The Danish Way of Parenting


Pertama kali lihat buku ini di rak "New Arrival", saya langsung tahu ini buku ada hubungannya sama negara Skandinavia dari desain sampulnya. Ternyata bener, ini buku tentag pola pengasuhan orang Denmark. Tanpa pikir panjang saya langsung beli, deh. Dan selesai dalam beberapa hari aja.

Nah ini buku terjemahan ya, dan biasanya saya tu malah pusing baca buku terjemahan apalagi kalo terjemahannya kurang bagus. Tapi buku ini lumayan lah, ga separah buku wellness yang saya beli tahun lalu yang bikin bingung banget kalimatnya. Bukannya sok Inggris, tapi beneran deh mending baca yang pake English aja tar kalo gatau satu-dua vocab tinggal buka kamus, huhu.

Ada banyak sekali hal yang bikin saya mikir "I can totally relate to this!"  karena pengalaman saya yang hanya tujuh bulan tinggal di Swedia kemarin. Yaa walaupun cuma dan baru tujuh bulan tapi saya lumayan belajar banyak dari orangtua Swedia yang saya temui di daycare dan taman.

Denmark menjadi negara yang hampir selama 40 tahun berturut-turut ada di urutan atas dalam daftar negara berpenduduk paling bahagia se-dunia berdasarkan World Happiness Report by PBB dan dari OECD (Organisation for Economic Cooperation & Development). Sejak tahun 1973! Gila ga tuh. Dan selidik punya selidik, itu semua dikarenakan pola pengasuhan mereka yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Emang ga semua pola pengasuhan buat orang satu itu bagus dan sesuai buat orang lainnya. Itu disebut dengan "parental ethnotheories" yaitu teori khas tiap kelompok budaya tentang cara pengasuhan sebagai kepercayaan mana yang benar mana yang engga. Contohnya, kalo di Indonesia makan itu harus habis dan boleh sambil digendong, sedangkan di kebanyakan negara Eropa, balita wajib makan sambil duduk, dst. Nah, ga ada salahnya kita ambil yang baik-baik dan mengaplikasikannya ke pola pengasuhan kita.

Pada dasarnya, prinsip parenting mereka disingkat sebagai "PARENT".

  • Play (Bermain)
Bagian 'Play' ini meyakinkan saya untuk ga buru-buru masukin Alya ke sekolah. Secara saya sering baca kalo fase sekolah itu akan panjang, dan makin dini anak mulai makin gampang bosen dianya. Nah awalnya ni saya ragu-ragu, gimana nanti kalo Alya perkembangannya telat dibanding temen-temennya yang udah duluan mulai sekolah? Yang udah bisa Bahasa Inggris kek, udah bisa berhitung kek. Kenyataannya, kemampuan itu dalam satu waktu bakalan sama juga sama yang lain, justru yang udah dipaksa dari kecil dan ga dibiarin main sesuai keinginannya sendiri, malah rentan menunjukkan stress saat udah dewasa. Jadi, selama saya masih bisa nemenin dia main di rumah kayaknya saya juga ga pengen masukin dia sekolah dulu. Tapi lain cerita kalo saya tiba-tiba harus sekolah lagi ya :p Mungkin saya akan pilih dia di daycare daripada diasuh ART di rumah.

Dalam bagian ini juga dibahas pentingya solo playing, yaitu membiarkan anak main tanpa intervensi dari orang dewasa di sekitarnya. Dan mereka banyak bahas keutamaan bermain anak yang minim larangan, kadang kita suka denger kan kalo anak lagi main di playground gitu dikit-dikit dilarang. No ini, no itu. Sebenernya biarin aja, asal ga membahayakan banget. Anak justru jadi belajar sendiri, dan dia jadi paham atas pengalamannya sendiri.
  • Authenticity
Authenticity atau autentisitas. Nah bagian ini saya rasa yang perlu saya pelajari banget. Pada umumnya, kita harus membiarkan anak mengenali dan menerima semua emosi sejak dini, bahkan yang paling sulit sekalipun. Meskipun saya udah ga lagi bereaksi berlebihan kalo Alya jatuh apa kejedug, saya masih suka console dengan "Ga papa ya dek... It is okay, ga sakit kan..." Which sebenernya kurang baik, karena pemolesan perasaan negatif (sedih, sakit, marah) ga membuat mereka terbiasa dengan kenyataan dan ga terbiasa mengatur strategi untuk semua masalah. Hasilnya? Waktu gede mereka rentan kena stress saat ada masalah, karena ga tau cara menghadapinya dan ga terbiasa sama perasaan ga enak itu.
Bagian ini juga menjelaskan bagaimana pujian dilontarkan oleh orangtua Denmark, agar mengembangkan growth mindset instead of fixed mindset. Anak ga dikit-dikit dipuji 'pinter! Good Job!' tapi selalu diajak diskusi dan dipuji karena USAHA, bukan bawaannya. Jadi mengubah bahasa pujian dari:
"Pinter anak bunda, makannya habis!"

Menjadi:
"Wah Bunda bangga, Alya berusaha menghabiskan makanannya!"
dst.
  • Reframing
Bagian ini mengajak kita untuk menjadi orangtua yang Optimis Realistis, yaitu menyaring info negatif yang tidak perlu di sekitar kita. Saya ga dibesarkan dengan menjadi selalu positif, makanya bagian ini pun harus saya latih. Orang Denmark terbiasa selalu melihat sesuatu from the bright side, sehingga memunculkan personaliti yang positif meskipun ga selalu bubbly. Mereka juga terlatih memisahkan pribadi dengan sebuah masalah, juga orang dengan tindakan. Jadi misalnya nih, kita lihat anak yang pas kumpul-kumpul orangtuanya dia malu-malu, instead of melabeli mereka dengan 'pemalu' mereka berpikir kalau "Oh dia sedang tidak nyaman dengan lingkungan ini". Mengubah cara pandang kita akan sesuatu akan berdampak besar dengan cara kita menghadapinya, kan?
  • Empathy
Empati itu kalau diartikan adalah sebuah kemampuan untuk mengenali dan memahami perasaan orang lain, trying to walk on their shoe. Menurut Daniel Siegel dari UCLA, Empati bukanlah kemewahan untuk umat manusia, melainkan keharusan. Kita bertahan bukan karena memiliki cakar atau taring, tapi karena berkomunikasi dan berkolaborasi. Jadi, memiliki empati sejak kecil itu penting! Kalo ga, anak akan tumbuh jadi orang yang cuek dan ga punya consideration sama sekali. Nah, mengajarkan anak empati sejak kecil itu dimulai dari ibunya. Gimana mereka belajar mencocokkan emosi dan suasana hati ibunya, sehingga penting bagi kita untuk melakukan kontak mata, ekspresi wajah, dan nada suara. Itulah kenapa buku emosi buat bayi dan balita itu jamak kita temui, ya kan?
  • No Ultimatum
"Alya kalo pipis di toilet ya, kalo engga nanti bubu repot lho"
"Alya makannya dihabisin ya, kalo engga nanti kasian bubu udah masak lho"
Memberikan ultimatum seperti ini, tanpa kita sadari, adalah hal yang kurang baik. Apalagi kalo sampai main fisik, aduhh, jangan deh. Jangan sampai kita jadi orangtua yang otoriter: memiliki kendali tinggi tapi respons rendah. Anak-anak jadi didorong untuk melakukan hanya apa yang diperintah, tanpa tahu alasannya. Hasilnya? Mereka bisa jadi pemberontak di kemudian hari. Atau mereka selalu menata emosi sendiri, terlalu tertutup dan rentan depresi. 
Cobaan (ceilah cobaan) saat anak kita melalui beberapa fase itu seringnya cuma sementara. Seperti Alya, ada masanya dia ga mau makan. Ada masanya dia ga mau mandi sore. Nah sekarang dia masuk ke fase Terrible Twos, yang bikin ngelus dada karena dia lagi nguji kesabaran Bundanya. Bahkan istilah Terrible Twos ini di Denmark menjadi Trodsalder atau usia ambang batas. Mereka sedang mendorong ambang batas, dan hal itu harus disambut dengan baik karena completely normal. Walaupun rasanya gedeg juga tiap dikit-dikit diajakin ini itu dia pasti langsung jawab: GAK MAU!, tapi yakinlah these too shall pass :)
  • Togetherness & Hygge
Kebersamaan menjadi prediktor teratas dari kualitas kesejahteraan dan kebahagiaan seseorang. Sedangkan konsep 'Hygge' (dibaca: Huga) sendiri udah banyak yang bahas karena sempet ngetrend tahun lalu, yaitu menikmati kenyamanan bersama-sama, mengesampingkan diri sendiri demi manfaat keseluruhan. Menjadi keluarga yang hangat dan memiliki quality time bersama-sama mengajarkan pada anak kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta bagaimana cara agar dia dapat berguna dan membantu sekitar. Kalau anak kita tahu mereka punya orang yang bisa diajak bicara dan dimintai tolong saat waktu sulit, mereka bisa lebih siap menghadapi tantangan hidup tanpa tumbang. Khusus yang terakhir ini, The Hafidzs udah sering melakukannya di hari Minggu, dengan judul: Gabut bersama. haha!

Sekian rangkuman saya setelah menbaca buku ini. Tekad baru untuk membesarkan anak yang tangguh agar siap menghadapi kerasnya dunia. Bismillah! Semangat Ayah Bunda semuanya :)

Semoga bermanfaat.

Friday, May 18, 2018

Masalah Sudut Pandang



Theres a lot of things that has been happened to me lately I dunno where to start :') 

Pertama-tama adalah satu kejadian yang berkaitan dengan politik, dan ini berkaitan juga dengan orang yang sangat sangat saya cintai. Singkat cerita beberapa waktu yang lalu saya terlibat adu politik dengan beliau karena saya sudah ga bisa menahan diri untuk mengkritisi pemikiran beliau yang -sudah bukan saja tidak sejalan- tapi juga sudah ngawur. Selama ini saya diam karena beliau orang yang sangat sangat saya hormati dan kesalahan saya adalah mendebatnya saat itu (mendebat lho ya, bukan diskusi-karena sulit berdiskusi kalau sudut pandang sudah terlampau berbeda tanpa berakhir dengan debat panas).

Yang kedua, saya sudah kelewatan menegur seseorang karena yang beliau lakukan menurut saya kurang perlu. Dan seperti hal lain yang meskipun niat awal baik, kemungkinan hal untuk diterima sebaliknya itu sama besarnya.

Yang ketiga, saya merasa sangat sangat terganggu saat seseorang mengatur tentang kegiatan ikuti-berhenti mengikuti akun sosial media saya. Seakan tidak cukup sehari-hari saya sudah tidak lagi bebas berbuat apa terkait perilaku dengan handphone (yang jadi konsekuensi seorang 'Ibu' beranak satu yang memasuki usia balita. No hape, Bunda!) sekarang saya juga harus meladeni permintaan mengikuti, memberi penjelasan kenapa berhenti mengikuti, dsb. Buat saya selain itu ga sopan (sama sekali di luar domain kalian), hal itu juga mengganggu ketentraman hati akibat pertanyaan-pertanyaan yang bikin canggung.

Yang keempat, tepat sebelum Ramadhan kemarin saya mengalami 'tamparan' keras karena kegiatan saya belakangan yang sering jadi tempat curhat. Long shory short saya jadi terkesan mengadu domba karena saya mengemukakan satu dua hal ke si A tentang si B yang sebenernya tujuannya biar mereka ga sebel-sebelan lagi, cepet bisa baikan, dan tuduhan yang ga bener itu bisa ilang. Tapi apesnya, malah fire backwards. Ngerti kan, sial biyut.

Yang kelima, yang terakhir, adalah aksi bom bunuh diri yang dilakukan orang tidak bertanggungjawab di beberapa gereja di Surabaya, dan juga di Mapoltabes Surabaya yang jaraknya cuma 2 km dari tempat saya! Sudah bisa diprediksi, timeline facebook jadi 'rame'. Ekstrim kanan kiri pada sibuk kasi pendapat dan klarifikasi (?). Sampe puncaknya saya udah judeg banget dengan dunia online ini dan mencoba untuk... hiatus :)

Momennya juga pas, masuk Bulan Ramadhan. Kalo kita digital detox dan mengalihkan buat beribadah juga pasti pahalanya berkali lipat hari biasa, kan.

Selain karena sudah sebel itu lah saya juga jadi makin deket sama si mungil yang sekarang sudah minta 100% waktu bundanya untuk dia, selama dia bangun. Jadi makin dikit tuh saat dimana dia ngajak ngomong dan saya malah mematung lihat hape sambil berucap "Bentar Alya bunda lagi cari hiburan..."

Dipikir-pikir lagi, apa ya korelasi kelima hal diatas? 

Persamaannya mungkin: Kelima-limanya sama-sama mengganggu saya. Dua, kelima-limanya ada karena saya losing consciousness sehingga bisa dibikin 'terganggu' dengan apa yang orang lain lakukan. Dan dirunut-runut lagi semuanya ada karena saya makin jarang punya waktu untuk being mindfull: meditasi, get some headspace, dan yoga. Ah! Sangat penting untuk menjaga keseimbangan dan tetap 'lagom'.

Perbedaannya dari kelima hal tersebut adalah, ada yang saya jadi korban dan ada yang saya jadi pelaku. Tapi disitu-situ aja. Saat saya menegur, saya jadi pelaku. Saat saya diresehin, saya jadi korban. Dan ada masanya saya menegur terus orang kesal dan ada masanya saya ditegur dan saya kesal. Semua cuma masalah sudut pandang, kan?

Jadi keinget beberapa hari yang lalu saya baca tulisan Gobind Vashdev di IG beliau. Baca lengkapnya disini ya. Penggalannya yang sangat saya setujui berkaitan dengan kondisi saya saat ini adalah:


Marah pada mereka, tidak menyelesaikan masalah, sebaliknya kerugian akibat kemarahan berpotensi merusak diri ini.Sadarilah kemarahan ada dalam diri Anda dan tidak ada hubungannya dengan makhluk lain.Kemarahan dan kebencian adalah bel yang memanggil dari dalam, agar kita masuk dan bekerja pada pemahaman dan kesadaran diri.


See? Ga ada yang dirugikan selain saya sendiri! 

Sekali lagi ini cuma masalah sudut pandang.


Thursday, April 5, 2018

[RECIPE] - Beef Cube A La Mama

Postingan resep beef cube ini menjadi postingan resep masakan pertama yang saya buat di Indonesia, haha. Beberapa bulan belakangan ini saya memang sangat direpotkan dengan kegiatan dobel: menjadi ibu rumah tangga, wirausaha dan pekerja pabrik. Keduanya menuntut banyak sekali waktu sehingga saya jadi ga rutin posting.

Minggu kemarin, akhirnya saya membuat satu keputusan besar dalam hidup saya: Meninggalkan Solo. Lima bulan setelah pulang dari Swedia saya memang masih tinggal di rumah orangtua, sambil membantu papa dan kakak di pabrik. Di Solo, saya full mengurus kerjaan di pabrik dari pagi hingga sore. Sehingga Alyaka dipegang oleh pengasuh saya dari kecil, Mbahti. 

Setiap dua minggu sekali saya ke Surabaya, dan di Surabaya saya 100% menjadi ibu Rumah Tangga mengasuh Alyaka dan ngurus rumah. Melakukan dua pekerjaan yang berbeda, ditambah harus menempuh jarak 4 jam setiap perjalanan bawa balita, lama kelamaan membuat saya capek dan merasa ini sungguh ga baik untuk well-being saya. Sulit konsentrasi, pasti. Goals saya untuk hidup lebih teratur pun menjadi berantakan.

Yang paling sulit dari pamit kali ini adalah meninggalkan kakak ketiga saya menjalankan usaha sendirian, ditambah lagi kakak sedang harus konsentrasi menghadapi penyembuhan ponakan saya. But somehow I know she'll be fine :) Dan seperti biasa meninggalkan rumah selalu bikin haru... Padahal saya seharusnya udah mastering ilmu pamit keluar dari rumah, secara 3 tahun pernikahan saya udah keluar masuk rumah orangtua berkali-kali. Bukan, bukan karena "pulangkan saja aku pada ibuku" tapi karena suami merantau kesana kemari dan saya belum bisa ikut :p

Lah ko jadi panjang curhatnya yaaa... 

Ini resep oleh Bu Sisca Soewitomo, saya modif dikit. Alhamdulillah rasanya enak, apalagi Alyaka teryata ga ada alergi sama bahan di masakan ini. 


- -



Beef Cube A La Mama
Resep oleh Sisca Soewitomo (dengan sedikit modifikasi)

Bahan:
Beef Cube:
- 500 gr Daging Sapi has dalam; potong dadu
- 2 sdm mentega
- 1 buah bawang bombay; iris
- 150 ml air
- 100 ml krim kental; saya pakai merek ElleVire
- 200 gr jamur champignon

Marinated Sauce:
- 5 siung bawang putih; haluskan
- 2 sdm minyak wijen
- 2 sdm kecap manis
- 1 sdm saus teriyaki
- 2 sdt garam
- 1 sdt merica bubuk
- 1 sdt bubuk pala

Mashed Potato:
- 500 gr kentang
- 1 sdm mentega

Tumis kengkung:
- 1 ikat kangkung
- Garam secukupnya

Cara Membuat:
1. Bersihkan daging, lalu potong dadu 3 cm
2. Campur bahan rendaman/ marinated sauce menjadi satu, lumuri ke daging dan taruh di chiller selama kurang lebih 2 jam supaya bumbu meresap. Sambil menunggu, kukus kentang untuk mashed potato dan rebus kangkung bersama sedikit garam.
3. Panaskan mentega, tumis bawang bombay hingga harum. Sisihkan. Lalu masukkan rendaman daging, tambahkan air, masak hingga daging lunak.
4. Tambahkan krim kental dan jamur kancing, masak sebentar. Lalu masukkan bawang bombay, aduk rata dan angkat.
5. Mashed Potato: Kentang yang sudah dikukus lalu dihaluskan, campur dengan mentega, merica dan garam, lalu panaskan sebentar. Tata mashed potato, beef cube dan kangkung. Siap dihidangkan.


Tuesday, March 13, 2018

The Joy of Unboxing

Kenapa ya buat saya, perasaan membuka paket belanjaan yang saya beli lewat daring itu sedikit bikin 'nagih'? Haha.

Tahun 2012 saat saya masih jadi intern di Octovate Jakarta, saya ditugasi riset tentang cottonink. Waktu itu cottonink masih belum kaya sekarang, dan bisa dibilang mereka ini yang mempelopori jual beli pakaian lewat online. Saya baca salah satu interview dengan Ria Sarwono & Carline Darjanto, tentang awal mula mereka membangun bisnis ini dan alasan kenapa penjualannya hanya dilakukan lewat website (pada saat itu mereka belum punya offline store dan masih merintis sedikit stockist).

Jawabannya kalau ga salah karena menurut mereka orang cenderung menyukai perasaan yang muncul saat membuka paket, seperti memberi kado ke diri sendiri gitu. And I couldn't agree more. Buat saya belanja online itu punya efek yang sama kaya doing sport, haha. Jadi ga salah kalo:

Unboxing package gives you endorphin, and endorphin makes you happy!
Dan buat yang penasaran untuk apa saya riset cottonink adalah kami saat itu lagi di project XL xmartplan, dan akhirnya setelah riset, saya si anak magang dapet kesempatan ikut bikin video xmartplan feat Carline Darjanto di cafe Monologue. What an amazing experience buat saya waktu itu :D


Buka paket yang isinya Essential Oils yang udah lama habis, bikin perasaan seneng jadi berkali-kali lipat!



Peppermint, Lemon, Copaiba balsam & Rosemary Essential Oils from @organicsupply.co

 Tapi dalam rangka #shoppingban, saya berusaha ga beli suatu barang kecuali kalo bener-bener lagi butuh. Dan pesen saya sih, kita ga boleh terlalu impulsif belanja online karena terkadang kalo kita lupa barang itu ternyata ga esensial atau ga terlalu diperlukan malah cuma jadiin kita lebih konsumtif.

Satu lagi, perasaan bahagia saat punya barang baru itu seringnya won't last long. Dalam beberapa waktu kita udah jadi biasa lagi, dan barang itu udah jadi sampah atau cuma numpuk atau cuma menuh-menuhin rumah aja.

So still, be wise!

Wednesday, March 7, 2018

Digital Detox: Unplug & Reconnectt


Menjadi seimbang atau being balance itu sangat penting biar kita bisa mencapai potensi maksimal di keseharian kita. Namun, apa yang serigkali menghalangi kita merasa seimbang setiap harinya?

Well, saya ingin berbagi pengalaman saya pribadi.

Seperti yang beberapa kali sudah saya sampaikan, 2018 ini saya memulai proyek Grande yang kalo didengar kayaknya kok muluk sekali: I want to practice mindfulness and reach Wellness everyday. Saya sudah membuat plan-plan dan to-do list yang sudah saya atur sedemikian rupa seperti  meditasi setiap pagi, makan dan minum dengan metode food combining dan alkaline plate, lalu olahraga agar terpenuhi semua kebutuhan mind, body and soul saya. Namun setelah 2 bulan memulai ini, selalu terasa ada big hole yang menghalangi saya untuk menjadi mindful, dan biasanya to do list itu ga tercapai semua karena menurut saya, saya selalu kekurangan waktu.

Sampai akhirnya saya sadar kalo bukannya kekurangan waktu, namun waktu yang saya miliki saya pakai untuk hal-hal yang bertentangan dengan tujuan saya sehari-hari: Saya terlalu sering dan terlalu banyak membuka social media.

Tanpa saya sadari membuka hp menjadi hal pertama yang saya lakukan setiap paginya. Saya cek setiap aplikasi chat dan memastikan membalas semua satu-satu. Lalu saya buka instagram dan saya pastikan saya membuka apa yang oranglain bagi. The first thing I do in the morning: terkoneksi dengan oranglain. Padahal, in order to find balance, saya harus connect dulu ke diri saya sendiri, baru mulai dengan yang lainnya, termasuk keluarga yang saya temui langsung.

Ini sejalan dengan banyak sekali praktisi wellness yang sudah mengingatkan kita untuk melakukan digital detox. Detoks digital termasuk mengurangi waktu bermain dengan gawai. Apalagi yang sudah jadi seorang orangtua, maka hal ini menjadi lebih mendesak karena kita harus membagi waktu berkualitas dengan si kecil dan memberi contoh baik salah satunya dengan tidak terlalu sering bermain gawai di depan mereka. Kalau kita sudah menghabiskan sekitar 4 jam dengan handphone dalam sehari, itu sudah termasuk ke dalam adiksi atau kecanduan, dan ini bahaya. Udah banyak saya rasa yang menulis dan membahas soal kecanduan hape ini.

Sebelum saya memulai digital detox ini, saya membaca sebuah artikel di mindbodygreen yang membahas soal efek samping internet. Menurut mereka, di tahun 2018 ini, kita perlu reassess the healthiness of our relationship with social media and online technology. Yang perlu dihighlight dari artikel tersebut adalah:

The more time we spend online = The higher our stress climbs.
Bahaya potensial dari penggunaan internet ini bahkan sejalan dengan apa yang telah dikatakan oleh Silicon Valley's most visionary leaders. Bahkan, salah satu tujuan facebook adalah "to consume mouch of your time and conscious attention as possible" (baca disini). Ngeri, kan ya?! Dan fakta yang bikin kaget lagi, kebanyakan orangtua di Silicon Valley melarang penggunaan gadget atau gawai serta social media buat anak-anaknya. Bahkan, Steve Jobs aja engga kasih anaknya iPad. Duh! Jadi mereka yang udah tahu dan aware tentang kemampuan dan bahaya penemuan mereka sendiri pun memilih untuk membatasi, kenapa kita malah harus mengkonsumsinya terus-menerus?

Akhirnya saya putuskan untuk membatasi penggunaan hp menjadi hanya maksimal 2 jam setiap harinya. Kita bisa dibantu oleh aplikasi seperti RealizeD yang dapat membantu tracking screen time kita dalam satu hari (you thank me later! :p)


Kira-kira begini bentukan saya kalau terlalu engaged dengan smartphone saya LOL

Setelah kurang lebih seminggu melakukan digital detox, saya menjadi lebih jarang merasa 'kosong'. Kini saat sedang tidak ada kerjaan saya habiskan waktu dengan membaca. Saat di rumah saya habiskan waktu bersama anak tanpa membagi perhatian. Saat butuh kerja dengan handphone saya pastikan saya hanya membuka aplikasi yang saya perlukan dan menahan diri untuk tidak tergoda membuka social media. Efek sampingnya? Tentu saja saya lebih hepi. Daaan anxiety yang sering muncul karena melihat konten yang dibagikan orang lain (yang perlu digarisbawahi, seringnya ga esential dan relevan dengan kehidupan kita) udah jarang muncul. Dan lagi saya jadi lebih memperhatikan sekitar, lebih banyak terhubung langsung dan bicara tatap muka dengan orang yang saya temui di sekitar saya, yang berimbas pada adanya kepuasan karena terpenuhi kebutuhan sosial saya untuk berinteraksi. And it feels so good.

So in the end... I want to ask you all to consider doing this: Unplug and reconnect to real life. It's time for us all to log off, power down, and make mindful decisions about our choice to connect.

Good luck!


Friday, March 2, 2018

Reposting One Day in by LivingLoving



Halo temen-temen, yang belum tahu atau kebetulan ga berteman dengan saya lewat daring, saya sempat menjadi kontributor One Day In dari LivingLoving.net. 

Untuk yang ingin membaca, silakan klik link ini, ya.

Terimakasih untuk Suamiku, Hafidz, untuk foto-fotonya yang keren.
Untuk Mba April Ramadhan dari LivingLoving yang udah 'mengawal' penulisan artikel ini.
Dan untuk mba Nike Prima, karena udah dibolehin jadi kontributor.
Last but not least untuk LivingLoving.net, semoga tetap menginspirasi dan membagikan hal-hal baik yang menyenangkan!

Enjoy!

Saturday, February 24, 2018

Alyaka Belajar Mandiri: Potty Training dan Sapih Dot

Tinggal 2 minggu sampai anak kecil Bubu ini berusia dua tahun, Insyaa Allah!

Rasanya kaya apa ya, seneng pasti. Sedih juga, karena makin gede dia makin nunjukin kemandirian, yang berarti sooner or later dia udah ga gitu clingy lagi sama Bubunya. Bisa ditinggal sama orang lain, yang disatu sisi saya hepi tapi di sisi lain saya yakin 100% bakal merindukan dia kecil yang teriak-teriak kalo saya out of her sight... *heartbreak*

Alhamdulillah di usia 23 bulan kemaren, Alyaka udah bisa Buang Air di potty dan ga lagi pakai dot untuk minum susu, yeay! Prosesnya justru ga pernah saya atur yang sedemikian rupa, cuma saya arahin pelan-pelan. Dan ga memakan waktu yang lama juga, mungkin karena anaknya udah bisa ya pelan-pelan dikasi pengertian.

Jauh sebelum saya pengen dia daytime diaper-free dan ga minum susu lagi pake dot, saya udah pernah berhasil ngasi pengertian ke Alyaka tentang suatu hal. Jadi setiap mau tidur, setelah minum susu Alyaka selalu masukin tangan ke dalam baju saya sampai terlelap. Awalnya ga papa sih lama-lama jadi kebiasaan dan saya mulai merasa ga nyaman karena kalo ngelindur malem dia juga langsung nyari saya buat masukin tangan ke dalam baju. Jelas jadi ga sejalan dong sama keinginan kami supaya dia bisa tidur sendiri.

Akhirnya suatu hari saya kasi pengertian: "Dek, ini kalo mau tidur pegang bonekanya aja, ya. Bubu sakit" *sambil nunjuk dada*

Eh dia mau dengerin, awalnya tapi ya masih bingung sedikit. Akhirnya dia bisa terlelap dengan cuma pegang boneka aja... Terus pas bangun tidurnya dia lihat saya dan bilang "Bubu masih sakit?" Lucu banget!

The Potty Training

Ya abis bisa dikasi pengertian itu saya mulai pelan-pelan bilang ke dia kalo pipis itu ada tempat dan caranya, dek. Setiap saya ke kamar kecil pun dia saya ajak dan lihat langsung gimana buang air itu. Kloset kamar mandi rumah mande-nya dan di rumah kami Surabaya pun sudah saya beri potty tambahan supaya dia cepet mengasosiasikan "potty" dengan "buang air".

Saya pernah baca kalo proses potty training ini ga bisa dipaksain dan pasti berbeda-beda di setiap anak. Idealnya sih udah lepas diaper sejak usia 3 tahun, dan sebenernya bisa dimulai dari kapan aja asal anak udah menunjukkan tanda-tanda dan ketertarikan pada kegiatan buang air. Namun, mereka rata-rata sudah bisa merasakan bladder control sejak usia kurang lebih 24 bulan. Dan katanyaa, kalo ga dikenalin sejak dini, dan mulai melatih potty training ke mereka, akan lebih sulit mengajarkan potty training pada anak saat udah lebih dari 3 tahun. Nah loh! Ya logikanya aja dia ga pernah belajar untuk buang air kalo dikasi diaper terus. Dia ga bakal bisa ngerasain namanya 'basah' dan ada sesuatu yang keluar beberapa saat setelah dia minum dan makan.

Nah, setelah beberapa hari ngasi dia pengertian terus menerus, akhirnya suatu hari dicoba lah tatur di kamar mandi. Dan berhasil! Abis itu saya kasi celana pendek katun aja buat di rumah. Hari pertama saya selalu ajak sejam sekali ke kamar mandi. Hari kedua pun begitu, sampe hari ketiga dia bisa bilang "Pipis" dan saya ajak ke kamar mandi terus buang air kecil sendiri deh :')

Ada sih beberapa kali saat saya sibuk ngerjain sesuatu dan lupa ngajak dia ke kamar mandi, dia ngompol di karpet, di kasur, di lantai. Tapi tetep tenang aja, karena kan prosesnya ga mungkin instan dan kalo dia lihat kita panik malah bisa tertekan. Saya cuma ketawa aja terus bilang "Adek, lupa yah, kalo pipis kan di kamar mandi aja bolehnya". Hehe.

Nah sempet juga saya titipin Alyaka di daycare saat di Surabaya. Tetep saya pakein diaper, karena saya belum tahu dia bakal terbuka ga sama orang baru (suster) yang bakal jadi caretakernya. Terus waktu saya jemput, susternya bilang kalo Alyaka bisa minta pipis sendiri dan pas dicopot diapernya untuk mandi sore, diaperya kering :') Dia semacam udah sadar kalo pipis itu di kamar mandi. Alhamdulillah bangeeet.

Ohiya satu lagi, makin cepet anak dilepas pake diaper makin sedikit sampah popok sekali pakai yang mesti diurai bumi. Ini penting banget buat saya. Yaa meskipun opsi lain seperti cloth diaper masih ada, tapi ga ada salahnya ngajarin langsung supaya lebih cepat.

Sapih Dot

Nah kalo sapih dot ini, sebenernya saya ga terlalu ngerencanain dan menargetkan, lho.

Jadi ceritanya Alyaka minum susu sehari 3 kali, masing-masing 150 ml. Itu di pagi sejam setelah sarapan, sore jam 3-an, dan jam 8 malam sebelum tidur. Setahu saya, kebutuhan susu anak seusia Alyaka itu sekitar 400 ml sehari. Jadi masih masuk.

Nah ceritanya kalau di Surabaya itu, Alyaka biasa minum susu UHT pack yang isi 150 ml itu lho merek Ultra Milk. Itu karena suami saya juga minum susu dan suka beli satu kardus yang isi 24 pcs. Nah, kami tinggal 2 minggu di Solo dan di Surabaya. Tiap di Surabaya dia minum susu sendiri langsung dari kemasannya dan ga saya pindahin ke dot. Lama-lama dia ga pernah lagi, tuh, minta susu. Dia udah tahu jam minum susunya dan susunya ada di dalam kardus. Dan udah deh, dia ga minta susu lagi kalo malam kebangun. Tapi ini terjadi setelah kakak kedua saya ngelahirin beberapa minggu yang lalu. Saya lihatin videonya dan saya bilang ke Alyaka "Nih Alyaka udah bukan cucu bungsu lagi lhoo, sudah ada adek lhoo. Ayo kalo udah kakak minum susunya dari gelas ya, apa pake sedotan ya. Bye dot, byeee".



Dari beberapa kali ngomong ke Alyaka begitu, kayaknya 'membekas' banget di dia dan bikin dia jadi paham kalo mulai sekarang minum susu ya ga pakai dot lagi. Sekali lagi, Alhamdulillaaaah :)

Temen-temen beberapa juga udah ada yang share cerita potty training dan sapih dot anak-anaknya sih. Rata-rata dari mereka berhasil dalam waktu singkat asal kuncinya di KONSISTEN. Semoga yang baru mau mulai, akan berjalan lancar juga yaaa! Aamiin.

Thursday, January 4, 2018

Recalling Memories


Depan TV dengan satu sofa panjang yang penh coret-coretan spidol Alyaka. 


Rak coat dan tempat sepatu, helm bersepeda, topi musim panas yang saya beli di Malaga. 


50% waktu di rumah saya habiskan di sini: dapur dan meja makan. Pertama kali saya belajar masak, yeay!


Kasur yang ketutupan barang, crib Alya yang jadi tempat singgah pakaian, dan semuanya berantakan sejauh mata memandang.

Sering ga sih saat kita ngelihat suatu foto/ lukisan, tiba-tiba kita langsung keinget kenangan saat foto itu diambil, lalu cerita tentang objek di dalamnya?

Malam kemaren secara ga sengaja saya lihat foto-foto apartemen kami di Malmo, Swedia, beberapa hari sebelum kepulangan kami. Tiba-tiba langsung ingat kapan foto ini diambil dan kenapa.

Saat itu kami emang lagi packing untuk balik lagi ke Indonesia. Semua barang berantakan, ditumpuk. Beberapa udah ada yang dikoper. Beberapa disortir untuk dilungsurin ke temen-temen yang baru dateng. Beberapa mau dikasih ke oranglain. Beberapa mau dikasih ke tetangga yang baru punya anak, beberapa mau diikhlasin aja ditinggal di apartemen.

Dan sore itu, saat saya lagi sendirian di rumah dan Alyaka diajak main Ayahnya ke taman, tiba-tiba datanglah waktu sore favorit saya: golden sunset. Matahari udah mau tenggelam dan sinar keemasannya masuk ke dalam apartemen kami. Selalu favorit. Selalu. Di hari-hari biasa jam segitu selalu ada saya dan Alyaka di depan TV. Saya weaving atau baca buku dan Alyaka main sendiri, kami berdua nunggu Mas Haf pulang dari kampus. Dan sore itu saya sendirian, dikasih kesempatan untuk cherish the moment alone. Saya ambil gambar tanpa maksud apa-apa selain ingin kenangan ini bisa diingat lagi.

Apartemen kami emang kecil dan ga bisa dibilang bagus (compared to other apartment) dengan harga yang ga murah juga karena letaknya di tengah kota. Waktu saya awal dateng banyak banget yang mesti dibersihin. Baunya pun saya masih ingat - campuran bau bumbu kari dan rempah India lain, karena penghuni sebelum kami orang India dan banyak bumbu-bumbunya yang masih ada di rak atas. Baunya susah hilang even setelah saya rajin bakar lilin sehari dua kali. 

Tapi, karena kami yang menghuni, rumah ini jadi terasa nyaman untuk saya. Kamar mungil yang jadi saksi bisu semua perjalanan kami bertiga di tanah Eropa. Setelah hari yang panjang, rumah ini tempat pulang. Setelah perjalanan jauh, rumah ini tempat pulang. Setelah berdingin-dingin di luar, rumah ini dengan semua kehangatannya jadi tempat pulang. 

Davidshallgatan 24b, selamanya saya akan anggap dia rumah yang memberikan kami banyak pelajaran dan jadi tempat belajar yang sesungguhnya. Tack sa mycket.