Thursday, January 4, 2018

Recalling Memories


Depan TV dengan satu sofa panjang yang penh coret-coretan spidol Alyaka. 


Rak coat dan tempat sepatu, helm bersepeda, topi musim panas yang saya beli di Malaga. 


50% waktu di rumah saya habiskan di sini: dapur dan meja makan. Pertama kali saya belajar masak, yeay!


Kasur yang ketutupan barang, crib Alya yang jadi tempat singgah pakaian, dan semuanya berantakan sejauh mata memandang.

Sering ga sih saat kita ngelihat suatu foto/ lukisan, tiba-tiba kita langsung keinget kenangan saat foto itu diambil, lalu cerita tentang objek di dalamnya?

Malam kemaren secara ga sengaja saya lihat foto-foto apartemen kami di Malmo, Swedia, beberapa hari sebelum kepulangan kami. Tiba-tiba langsung ingat kapan foto ini diambil dan kenapa.

Saat itu kami emang lagi packing untuk balik lagi ke Indonesia. Semua barang berantakan, ditumpuk. Beberapa udah ada yang dikoper. Beberapa disortir untuk dilungsurin ke temen-temen yang baru dateng. Beberapa mau dikasih ke oranglain. Beberapa mau dikasih ke tetangga yang baru punya anak, beberapa mau diikhlasin aja ditinggal di apartemen.

Dan sore itu, saat saya lagi sendirian di rumah dan Alyaka diajak main Ayahnya ke taman, tiba-tiba datanglah waktu sore favorit saya: golden sunset. Matahari udah mau tenggelam dan sinar keemasannya masuk ke dalam apartemen kami. Selalu favorit. Selalu. Di hari-hari biasa jam segitu selalu ada saya dan Alyaka di depan TV. Saya weaving atau baca buku dan Alyaka main sendiri, kami berdua nunggu Mas Haf pulang dari kampus. Dan sore itu saya sendirian, dikasih kesempatan untuk cherish the moment alone. Saya ambil gambar tanpa maksud apa-apa selain ingin kenangan ini bisa diingat lagi.

Apartemen kami emang kecil dan ga bisa dibilang bagus (compared to other apartment) dengan harga yang ga murah juga karena letaknya di tengah kota. Waktu saya awal dateng banyak banget yang mesti dibersihin. Baunya pun saya masih ingat - campuran bau bumbu kari dan rempah India lain, karena penghuni sebelum kami orang India dan banyak bumbu-bumbunya yang masih ada di rak atas. Baunya susah hilang even setelah saya rajin bakar lilin sehari dua kali. 

Tapi, karena kami yang menghuni, rumah ini jadi terasa nyaman untuk saya. Kamar mungil yang jadi saksi bisu semua perjalanan kami bertiga di tanah Eropa. Setelah hari yang panjang, rumah ini tempat pulang. Setelah perjalanan jauh, rumah ini tempat pulang. Setelah berdingin-dingin di luar, rumah ini dengan semua kehangatannya jadi tempat pulang. 

Davidshallgatan 24b, selamanya saya akan anggap dia rumah yang memberikan kami banyak pelajaran dan jadi tempat belajar yang sesungguhnya. Tack sa mycket.


No comments:

Post a Comment